Peran dakwah Risalah diantaranya adalah membentuk tata-masyarakat yang universal bersatu punya prinsip persaudaraan, menjauhi perpecahan, menghindari hasut-fitnah, hidup bertoleransi dan saling menghargai, dengan menggerakkan upaya ta’awunitas atau gotongroyong.
Teliti lebih dahulu setiap berita yang diterima, agar tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum, akhirnya kamu menyesal atas perbuatanmu.
(Lihat diantaranya QS.49,al-Hujurat : 6-13.)
Dalam hidup ada bimbingan Rasulullah.SAW.
Jangan selalu mengikuti kehendak semata, nanti kamu benar-benar akan mendapat kesusahan.
Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di hatimu.
Menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan, karena keimanan itu. Merekalah orang yang mengikuti jalan lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah.
Hendaklah mendamaikan antara yang berselisih !
Bila melanggar perjanjian, agar yang melanggar dilawan sampai kembali pada perintah Allah.
Jika telah kembali, damaikanlah dengan adil.
Berlakulah adil. Allah mencintai orang yang adil.
Orang beriman itu bersaudara.
Perbaikilah hubungan antara saudaramu.
Takutlah kepada Allah, supaya mendapat rahmat.
Jangan saling merendahkan (lelaki dan wanita).
Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari yang menertawakan.
Akhlak karimah (mulia) mencakupi hubungan manusia dengan Khalik (hablum minallah), penataan sikap dan kepribadian manusia (ihsanisasi), dan pemeliharaan hubungan antar makhluk manusia maupun alam lingkungan (mu’amalah ma’an-naas).
Jangan memanggil dengan gelaran ejekan.[1]
Panggilan buruk adalah kufur sesudah beriman.[2]
Tidak mau tobat, merekalah orang yang zalim.
Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan).
Kebanyakan purba-sangka itu dosa.
Janganlah mencari-cari keburukan orang.
Janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Allah telah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan (Adam dan Hawa), dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Orang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Missi kerasulan Muhammad SAW memperbaiki tatanan laku perangai (moral) manusia, dengan mengedepankan akhlak mulia (al-Hadist).
Akhlak, menjadi jembatan yang menghampirkan makhluk dengan Khaliknya, dan menjadi parameter untuk menilai, sempurna atau tidak, ihsan seseorang.
Melaksanakan agama, artinya berakhlak sesuai dengan tuntunan agama Islam. Agama adalah sebuah identitas (ciri, shibgah).
Kebebasan manusia tanpa nilai agama (free of values), menjadikan manusia makhluk yang tidak bermakna manusia. Betapapun keperluan materi telah dapat dipenuhi, suasana hidup akan gersang manakala keperluan ruhanik (immaterial, spirituil) tidak diperhatikan.
Perikehidupan tanpa bimbingan agama, artinya sama dengan peri kehidupan tidak berperikemanusiaan. Nilai hidup manusia lebih ditentukan oleh moral (akhlak) yang dimilikinya.
Kelanjutan hidup manusia di permukaan bumi turun temurun, karena terjalinnya hubungan setara antara dua jenis manusia. Lelaki dan Perempuan.
Risalah dakwah Muhammad SAW adalah, peduli martabat perempuan. Sebelum datangnya Islam, terjadi pelecehan jender perempuan. Terbukti pada, setiap kelahiran anak perempuan, disambut kematian. Memiliki anak perempuan sama halnya dengan menyandang kehinaan tiada taranya. Lihatlah QS.16,an-Nahl :57-60. Ketika itu, terjadi pembedaan jender, etnis dan rasilalisme.
Zaman modern kini, masih terasa di belahan dunia (Israel-Palestina, Hitam-putih Amerika Serikat, Albanian-Serbian di Kosovo), pada ujungnya ethnic cleansing, satu virus jahiliyah.
Bentuk virus jahiliyah di zaman modern, adalah kebiasaan miras, judi, candu, Narkoba, kehidupan bebas (vrij-homgaang, samen-leven), dan sejenisnya. Untuk menghadapi virus ini, perlu scanning anti virus. Menurut saya, bila CPU generasi ini ingin bersih, hendaknya dipakai program paradigma tauhid, saleh ubudiyah, penerapan ajaran Islam dengan benar, kesalehan sosial dengan akhlak karimah (mulia).
Wahyu al-Quran yang dibawa Muhammad SAW, menempatkan perempuan pada posisi azwajan, mitra sejajar berperan menciptakan sakinah (kebahagiaan), mewujudkan rahmah yang tenteram, melalui mawaddah berupa kasih sayang.
“dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
(QS.30, Ar Rum : 21).
Citra perempuan, diperankan sempurna oleh IBU (Ikutan Bagi Ummat), inti dalam keluarga (extended family).
Perempuan adalah “tiang negeri” (al Hadist).
Posisi ini adalah penghormatan mulia. “Sorga terletak di bawah telapak kaki ibu” (al Hadist).
ISTRI PENDEK MENAWAN HATI
Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah berkata,
وَمِمَّا يُسْتَحْسَنُ فِي الْمَرْأَةِ … قَصْرُ أَرْبَعَةٍ يَدُهَا وَرِجْلُهَا وَلِسَانُهَا وَعَيْنُهَا فَلَا تَبْذُلُ مَا فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَلَا تَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهَا وَلَا تَسْتَطِيْلُ بِلِسَانِهَا وَلَا تَطْمَعُ بِعَيْنِهَا
“Hal yang membuat istri itu menawan adalah “PENDEK” dalam empat hal: tangan, kaki, lidah dan mata.
🌹 TANGAN yang PENDEK sehingga tidak menghamburkan harta suami.
🌹 KAKI yang PENDEK, sehingga tidak keluar rumah kecuali ada keperluan.
🌹 LISAN yang PENDEK sehingga tidak suka mencela.
🌹 MATA yang PENDEK pandangannya, sehingga tidak mudah ingin beli ini dan itu.”
(Raudhatu Al-Muhibbîn, hal. 340-341)
Karena itu, wajib kaum perempuan menjaga marwah secara pasti. Disini rahasia besar dari aturan “aurat”, ujud ciri-ciri feminim.
Perempuan mempunyai “sifat feminim yang merupakan sumber kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber cahaya Ilahi, mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah kekuatan kasar menjadi sensitivitas, rasionalitas menjadi intuisi, dan dorongan seksualitas menjadi spiritualitas, sehingga memiliki daya tahan terhadap kesakitan, penderitaan dan kegagalan”.[3]
Bahkan, “hancurnya sebuah rumah tangga ideal akibat sikap istri terlalu maskulin”.[4]
Menggejalanya mode unisex, adalah limbah budaya western pasti berdampak kepada hilangnya citra kaum perempuan.
TIPE PEREMPUAN TIDAK BOLEH DITIRU
a) Kufur dan khianat kepada agama dan suaminya, contohnya isteri Nuh dan Luth, berakhir keneraka.
“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing),[5] Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.
(QS.66,at Tahrim :10),
Nabi-nabi sekalipun, tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah, apabila mereka menentang agama Allah, dan mengingkari risalah Rasulullah.
b) Meninggalkan bengkalai sampai tua, ibarat di siang hari menenun, dan malam mengungkai kembali,
“ dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.[6]Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. dan Sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.”
(QS.16, an-Nahl :92).
ADA TIGA TIPE PEREMPUAN PERLU DICONTOH ;
MENGHINDAR DARI KEZALIMAN DAN KEMUSYRIKAN, selalu mengharap rumah di sorga, seperti Asiyah interi Firaun itu.
“dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu[1488] dalam firdaus,[7]dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”
MENDIDIK GENERASI MEMEGANG TEGUH AMANAH, membela agama Allah, seperti isteri ‘Imran.
“(ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
“Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”
(QS.3, Ali Imran : 35-36),
SELALU MEMELIHARA FARAJ, MENJAGA DIRI DAN MARTABAT, seperti Maryam ;
“dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang taat.”
(QS.66, at Tahrim : 12).
Rujukan dari akhlak adalah wahyu Allah. Tatanan adab pergaulan berakhlak adalah, selalu di ikat dengan hubungan kasih (mahabbah) dengan Khalik Maha Pencipta, yang disebut dengan ibadah.
Tuntunan akhlak dan ibadah tidak sebatas teori.
Tampak pada semua perilaku dalam tatanan kehidupan.
Para Nabi dan Rasul yang diutus kepada manusia bertugas memberikan tuntunan akhlak dalam semua perilaku kehidupan.
“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”
(QS.33, al Ahzab : 21).
Rasulullah SAW menyebutkan satu tugas risalahnya sebagai “Hanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (al Hadist).
Pentingnya akhlak di ungkap banyak penyair (ahli hikmah)
إِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ، وَ انْهُمُوا ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوا
Artinya, “tegak rumah karena sendi, sendi hancur rumah binasa. Tegaknya bangsa karena berbudi, budi hancur luluhlah bangsa”.
Akhlak atau Budi Pekerti, akan selalu hidup, walaupun pelakunya sudah tiada. “Utang ameh buliah dibaia, utang budi dibao mati”.
Dengan berakhlak kita menuju kepada taraf yang memungkinkan kita untuk melakukan selfless help, memberikan bantuan atau menanamkan ruhul infaq dari rezeki yang telah diberikan kepada kita tanpa mengharapkan balasan jasa.
”Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.” (Q.S. Al Lail, 19 – 20).
Itulah tujuan hidup berakhlak yang hendak kita capai. Begitu khittah yang hendak kita tempuh. Yang sesuai dan munasabah dengan fithrah kejadian manusia yang universil. Dalam rangka satu konsepsi tata cara hidup, sistem sosial dalam iklim adat basandi syarak , syarak basandi Kitabullah.
Menjaga akhlak generasi dalam rangka pembinan negara dan bangsa kita keseluruhannya.
Kekuatan moral yang kita miliki, ialah menanamkan dalam diri masing-masing, untuk membina umat dalam masyarakat di kota maupun nagari, yang telah kita ketahui kekuatannya dalam akhlak mulia. Tahu di ereng jo di gendeng, tahu dengan malu dan sopan.
Semoga salam dan salawat kita sampai kepada beliau, Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa alihii wa ash-habihii ajma’in.
Semoga bermanfaat. Salam hormat. Wassalam
Buya H. Mas’oed Abidin adalah ulama dan da’i, pernah jadi Ketua DDII Provinsi Sumbar dan Ketua Bidang Dakwah MUI Sumbar. Menulis 24 buku ke-Islaman dan adat budaya Minangkabau. Tinggal di Padang.