

Budi Darma sastrawan terkemuka Indonesia pernah menyajikan makalah dalam judul Moral dan Kreativitas dan Perspektif Sejarah Sastra. (Sidang Mastera, DBP, 8 Maret 2004) Dengan mengutip ungkapan “a drop of ink makes million think“-“setitik tinta membuat berjuta pemikiran” Budi Darma membongkar khazanah peradaban manusia Sparta dan Athena.
Sparta menganggap bahwa negara yang kuat adalah negara yang warga negaranya hebat dalam bertempur untuk mempertahankan negara dan juga menghancurkan lawan-lawannya. Dengan keyakinan itu, titik berat pendidikan Sparta adalah kekuatan otot (muscles). Semua anak dididik untuk menjadi serdadu yang andal.
Athena yang dalam sejarah kemudian dikenal sebagai Yunani Kuno, sebaliknya mempunyai keyakinan berbeda . Otot memang penting, tetapi lebih penting lagi adalah kemampuan otak dan kehalusan budi. Dengan adanya keyakinan ini, lahirlah para pemikir besar seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles. Di samping mereka sampai sekarang masih disimak antara lain pujangga Sophocles, Eupripides. Karva mereka sekarang masih tergolong “make million think“.
Sparta tidak meninggalkan apa-apa, karena negara itu tidak meninggalkan tulisan atau dokumen pemikiran, sementara Athena atau Yunani Kuno mewariskan harta karun yang luar biasa dahsyat karena tulisan atau dokumen yang bijak bestari mereka. Seandainya tidak ada Athena, mungkin dunia akan jauh berbeda dari dunia sekarang. Sebuah periode dalam sejarah umat manusia, yaitu “The Dark Ages” atau zaman kegelapan, tidak lain merupakan pertanda bahwa tanpa “drop of ink“, umat manusia tidak berpikir, dan tanpa pena manusia tidak mempunyai kemampuan untuk mengayunkan berlaksa pedang. Masalah tinta atau pena yang muncul dalam bentuk filsafat, sastra, agama, dan lain-lain, dalam dunia modern dikategorikan dalam humaniora yang bermakna “memanusiakan manusia” dan mendorong manusia untuk menjadi makhluk yang halus, berbudi, dan berbudaya
Pada bagian lain, sastrawan yang pernah menulis novel “Orang-orang Bloomington” ini mengutip peristiwa sidang parlemen Inggris tentang Shakespeare dan India.
Pada suatu hari pada abad ke-19, filosof Jhon Ruskin bertanya kepada ahli parlemen: “Seandainya pada suatu saat kelak terjadi perubahan besar-besaran, pilih manakah kita, kehilangan India atau Shakespeare?” Pada masa itu belum ada tanda-anda zaman bahwa pada suatu masa kelak kolonialisme akan terhapus dari muka bumi, dan sebagai salah satu akibatnya, India sebagai tegara jajahan Inggris akan menjadi negara merdeka, tidak ada orang menyangka bahwa Inggris pada suatu masa kelak akan benar-benar kehilangan India. Maka dengan serta-merta pula, para ahli parlemen berseru, lebih baik kehilangan Shakespeare daripada kehilangan India.
Perkembangan menunjukkan Inggris tanpa India tetap Inggris, dan dapat diduga kuat, tanpa Shakespeare Inggris bukan lagi Inggris. Tinta mempunyai makna yang dahsyat, demikian pula pena. India sendiri kemudian terangkat ke permukaan masyarakat dunia, antara lain karena tinta dan pena Rudyard Kipling dalam berbagai karya sastranya yang bersumber tentang India.
Sama halnya dengan emas, yaitu tidak semua emas adalah murni, maka tidak semua tinta dan pena mempunyai kekuatan dahsyat. Tinta dan pena mempunyai kekuatan dahsyat, hanya manakala tinta dan pena itu benar-benar bermutu tinggi.
Horatius (65-8 Sebelum Masehi) menekankan bahwa dalam karya seni harus ada dua unsur yang seimbang, yaitu kesenangan (dulce) dan kegunaan (utile). Dengan demikian dulce mengandung -nilai estetika, dan utile mengandung nilai-nulai moral.
Budi Darma dalam merumuskan moraliti dan kreativiti dalam kajian teks sastra mengambil cerpen Azizi Haji Abdullah “Dua Kepala Burung“.
Ada seorang kakek yang amat sayang kepada cucunya, justru tidak mendapat “pahala” atas kebaikan hatinya. Dia tahu cucunya memimpi-mimpikan mempunyai layang-layang dengan dua kepala burung di ujungnya. Ketika layang-layang itu menyangkut pada sebuah dahan pokok, dengan rasa kasih sayang dan demi kebahagiaan cucunya, dipanjatnya pokok dahan itu untuk mengambil layang-layang dua kepala burung tadi. Kakek yang penuh rasa masih sayang terhadap cucunya terjatuh dan ajalpun menyambutnya.
Budi Darma mengetengahkan persoalan bagaimana sebuah moraliti dikalahkan oleh kreativiti. Beliau juga mengkritisi bahwa seorang pengarang yang tidak mementingkan kreativiti justru tidak melahirkan novel yang bagus dan sudah tentu memerlukan kerja yang lebih lama dan pengendapan yang lebih matang.
Beliau tak lupa mengingatkan bawa “Politik Sebagai Panglima” yang menjadi semboyan penulis LEKRA menyebabkan mayoritas karya mereka tanpa pengendapan pemikiran. Puisi, apalagi yang tanpa pengendapan pemikiran, tidak lain merupakan hasil kerja spontan, sekali duduk, selesai. “Estetika bagi mereka“, demikian kata Budi Darma,” sama sekali tidak penting, dan karena itu moral puisi mereka juga “langsung tembak“, dan kasar”
Esei-esei merekapun lebih banyak merupakan slogan, bukan esei dalam arti sebenarnya. Oleh karena itu pulalah, sebagaimana puisi mereka, esai mereka pun cepat luntur dan tidak mungkin survive. Oleh karena kreativiti yang bertumpu pada estetika dinafikan, maka karya mereka tidak merupakan “drops of ink that make millions think“. Karya-karya mereka tidak survive bukan karena hegemoni politik berubah (ketika PKI ditumpas pada tahun 1965, LEKRA pun tertumpas dengan sendirinya). Namun, karena moral terlalu mendominasi karya mereka, dan karena itu kreativiti untuk memperjuangkan nilai estetika sama sekali terkalahkan.
Moralitas Karya Sastra
Pada acara tanya jawab, seorang peserta bertanya kepadanya, yaitu bagaimana membaca moralitas karya sastra. Budi Darma menjawab bahwa membaca moralitas itu tak ubah seperti membaca selaku resiptor duduk mendengar radio atau menonton televisi. Apabila daya resepsi kita tidak berekasi atas apa yang didengar atau apa yang dilihat maka pembaca tidak menghasilkan apa yang didengar maupun yang dilihatnya. Pembaca sastra mestilah mampu menangkap apa yang terkandung di balik isi bacaan itu.
Seminar yang bertajuk Penajaan Kreativiti Bangsa Melalui Bahasa dibuka secara resmi oleh Menteri Luar Negara Malaysia dan sekaligus meluncurkan Kamus Istilah Bahasa Malaysia Beliau didampingi oleh Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (masa itu Datok Azis Deraman) dan disaksikan para cendekiawan dan ahli bahasa se-Asia Tenggara.
*Penulis Ketua Satupena Sumatra Utara