Komunikasi Politik Capres dalam Debat Pamungkas 2024, Antara Gagasan dan Kompromi: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

128

Debat pamungkas calon presiden Republik Indonesia pada pemilu 2024 telah usai diselenggarakan. Panggung komunikasi politik terbuka telah disaksikan jutaan masyarakat Indonesia, meskipun ada yang memengaruhi persepsi pilihan dan ada pula yang semakin ‘ajeg’ dengan pilihannya.
Dalam konsep marketing politik Niffenegger (1988) 4P (Product, Promotion, Price, and Place), debat merupakan elemen dari promosi seorang komunikator politik kepada publik. Seorang capres dan cawapres yang bertindak sebagai komunikator adalah pihak yang menyampaikan pesan politik kepada khalayak. Efeknya adalah bagaimana publik mengetahui gagasan dan rencana lima tahun ke depan. Apa yang akan diterima masyarakat melalui gagasan dan narasi yang ditampilkan.
Namun, apakah debat terakhir pada 4 Februari 2024 kemarin mampu memberikan pengaruh dan efek bagi publik di tanah air? Atau hanya sekadar konten penghias sosial media yang hanya meningkatkan sentimen antar pemilih. Sebagai bentuk kajian, saya akan bahas bagaimana penampilan pamungkas para kandidat capres kali ini. Apakah telah berjalan sesuai dengan konsep dan tujuan komunikasi politik itu sendiri atau tidak.

Ganjar dan Lemparan Bola Panas

Mengacu pada tema pendidikan dan kesehatan, Ganjar tampil cukup konsisten dengan rangkaian programnya. Satu keluarga satu sarjana, satu desa satu fasilitas kesehatan dan satu tenaga kesehatan, merupakan program yang disuarakan ganjar sejak dari pernyataan pembuka debat.
Kondisi yang menarik ketika membahas perihal kesejahteraan sosial. Ganjar disebut-sebut melempar bola panas pertanyaan ke Anies perihal bansos yang dilaksanakan pemerintah saat ini. Bansos yang waktu dan jumlahnya dipandang tidak tepat, diduga ditujukan untuk kampanye capres 02 dipertanyakan Ganjar pada Anies.
Anies pun dengan santai menjawab pertanyaan tersebut dengan evaluasi dan kritikan. Walaupun secara ‘tone’ tidak setajam debat-debat sebelumnya, tetapi Ganjar dipandang berhasil melakukan strategi ‘nabok nyilih tangan’ dalam istilah bahasa Jawa.
Selain itu, seperti biasa capres 03 ini juga cenderung mendukung gagasan dari capres 01. Disebut-sebut oleh beberapa timses, adanya kemungkinan koalisi antara 01 dan 03 jika terjadi pemilihan dua putaran. Keharmonisan antara Anies dan Ganjar pun terlihat dalam kesantunan debat yang digelar.

Prabowo dan Politik Kompromi

Dalam komunikasi politiknya kali ini, Prabowo tampil lebih lembut. Berbeda dengan kesan emosional yang ditunjukkan di debat-debat sebelumnya. Agaknya semua capres sadar bahwa penampilan terakhir di debat jangan sampai menciptakan blunder yang dapat menggerus elektabilitas.
Prabowo tampil dengan kata kunci, ‘Ya, saya setuju dengan Pak Anies, saya setuju dengan Pak Ganjar.’ Hal ini notabene nya sangat berbeda dengan penampilan Prabowo sebelumnya, baik di panggung debat maupun panggung kampanye.
Komunikasi kompromi ini di satu sisi ingin menunjukkan citra sebagai sosok positif yang baik, kooperatif, pemaaf, merangkul dan seterusnya. Namun, dari perspektif tujuan debat itu sendiri tidak tercapai. Sebagaimana konsep marketing 4P dalam aspek promosi, bahwa debat adalah elemen promosi komunikasi politik.
Setiap komunikator harus menampilkan gagasan yang berbeda sebagai nilai yang menunjukkan ia lebih unggul dari calon lain. Komunikasi serba kompromi ini justru menunjukkan Prabowo minim gagasan dan cenderung hanya melanjutkan program dari Jokowi. Selain itu, model komunikasi kompromi ini juga semakin mempertegas kurangnya gagasan di kubu 02.
Semestinya intens ‘saya setuju Pak Anies, saya setuju Pak Ganjar’ tidak mendominasi suasana debat. Prabowo bisa membantah dengan mengajukan gagasan yang lebih kreatif. Dengan demikian publik dapat melihat, selain seorang yang merangkul, Prabowo juga memang pemimpin yang layak dipilih karena punya gagasan. Bukan hanya mengikut tokoh-tokoh di belakangnya.

Anies, Retorika, dan Gagasan yang Memukau

Pasca debat semalam, di beberapa akun sosial media viral gerakan bahasa isyarat Anies yang menunjukkan jam tangan dan gerakan tangan memutar. Makna simbol gerakan tersebut dalam bahasa isyarat memiliki arti ‘waktunya perubahan’. Simbol ini bukan semata-mata simbol yang dibuat untuk menarik perhatian publik, tetapi bentuk nyata kepedulian Anies terhadap kaum disabilitas. Sebagaimana Ferry sang istri juga mengalami masalah di pendengaran sehingga Anies dikenal sebagai sosok yang memang peduli secara nyata terhadap kaum disabilitas sebagai refleksi tema kesejahteraan sosial yang diangkat.
Anies membuka debat dengan sangat cemerlang. Ia menyampaikan gagasan dalam hitungan waktu tepat 4 menit. Sebuah cara berkomunikasi yang tidak semua orang bisa, mampu menyampaikan gagasan besar dalam hitungan waktu yang dibatasi.
Dalam pemaparannya, Anies terlihat menyampaikan gagasan pemerintahan yang kelak akan dikelolanya mengedepankan pola kolaborasi. Sebuah kebijakan yang menjadi wewenang pemerintah semestinya merangkul stakeholder dalam mengambil kebijakan.
Anies menyebutkan bagaimana pentingnya melibatkan aktivis buruh migran dalam upaya penanganan masalah TKI, melibatkan unsur dan elemen pendidikan sebelum membuat kebijakan di bidang pendidikan, dan juga bidang kesehatan. Anies tampil sebagai sosok yang menekankan gagasan dan narasi sebelum melakukan sebuah program.
Sebagaimana pernyataannya dalam dialog di sebuah televisi swasta, ‘kita tidak boleh membuat program sebelum jelas gagasan dan narasinya,’ demikian Anies menyatakan. Maka tak heran dalam setiap program yang ia sampaikan, akan dimulai dengan gagasan, narasi barulah tercipta program.
Hal seperti ini tak mengherankan jika melihat latar belakang Anies secara intelektual. Anies dilahirkan di dunia akademis yang memiliki pola pikir terstruktur dan tertata. Walaupun pihak lain di luar itu mengkritik sikap Anies. Adian Napitupulu sebagai bagian dari tim 03 mengatakan, kalau datang ke Anies nanya program, kita akan dapat nasihat.
Retorika Anies terlihat sangat memukau ketika menyampaikan pernyataan penutup debat. Secara verbal Anies menggunakan pernyataan-pernyataan religius dan budaya Jawa. Secara nonverbal ia tampil dengan interpretasi dan pemaknaan yang dalam terhadap kata-katanya. Ekspresi yang hampir menitiskan air mata ditunjukkan Anies. Ia menyebut ingin membangun pemerintahan yang welas asih. Hal ini cukup merepresentasikan sosok Anies secara personal dan latar belakang budaya.
Ya, debat memang telah usai. Namun, inilah saat-saat penting publik Indonesia menentukan pilihan. Memilih semestinya dilandaskan pada pengetahuan, analisis, dan pertimbangan-pertimbangan khalayak yang lebih luas. Siapa yang memberikan jaminan perbaikan republik ini secara lebih baik, dan tentunya sejalan dengan prinsip demokrasi yang kita yakini. Indonesia memilih, semoga tak salah pilih.

(Nafi’ah al-Ma’rab adalah nama pena Sugiarti. Aktivitas sebagai penggiat literasi di Forum Lingkar Pena. Saat ini menempuh studi Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Riau)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan