Lagi, Awal Ramadhan Akan Terjadi Perbedaan: Catatan Adi Syahputra, S.Pd.I., M.Pd

52

Setelah beberapa tahun silam, tepatnya ditahun 2016, 2018 dan 2024 telah terjadi perbedaan awal Ramadhan. Tahun ini, perbedaan penetapan awal Ramadhan kembali berulang. Umat Islam di Indonesia dihadapkan pada situasi yang nyaris selalu berulang setiap tahun perbedaan penetapan awal puasa. Sebagian masyarakat memulai ibadah puasa pada hari yang berbeda dengan sebagian lainnya. Fenomena ini bukan hal baru, namun tetap memunculkan beragam reaksi di tengah masyarakat, mulai dari sikap saling memahami hingga perdebatan yang tak perlu.

Perbedaan awal Ramadhan umumnya disebabkan oleh perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah. Ada yang menggunakan metode rukyat, yakni pengamatan langsung terhadap hilal, sementara yang lain menggunakan metode hisab, yaitu perhitungan astronomi. Perbedaan kriteria dan pendekatan inilah yang kemudian menghasilkan keputusan yang tidak selalu sama. Pemerintah melalui sidang isbat berupaya menyatukan penetapan awal Ramadhan sebagai pedoman nasional. Namun demikian, organisasi kemasyarakatan Islam seperti Muhammadiyah (menggunakan metode hisab) memiliki dasar dan metode masing-masing yang telah lama digunakan dan diyakini. Dalam konteks negara yang menjunjung kebebasan beragama, perbedaan tersebut menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Seperti yang sedang hangat hari ini, bahwa Muhammadiyah telah menerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebuah gagasan yang diklaim sebagai solusi, namun dalam praktiknya justru hari ini berpotensi memperlebar arah perbedaan. KHGT menawarkan satu sistem kalender hijriah global berbasis perhitungan astronomi. Dengan sistem ini, awal bulan hijriah ditetapkan secara seragam untuk seluruh dunia tanpa mempertimbangkan kondisi rukyat di masing-masing wilayah. Di atas kertas, konsep ini terlihat ideal. Namun secara fikih dan realitas sosial keagamaan, KHGT menyisakan persoalan serius.

Dalam tradisi Islam, penetapan awal bulan qamariah tidak dapat dilepaskan dari rukyat atau setidaknya imkan rukyat. Mengabaikan faktor lokal demi keputusan global berarti menafikan prinsip perbedaan matla’ yang telah diakui oleh banyak ulama. KHGT, dalam hal ini, cenderung memaksakan keseragaman yang tidak sepenuhnya sejalan dengan khazanah fikih Islam.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Perbedaan awal Ramadhan seharusnya menjadi ruang edukasi, bukan arena dominasi. Selama KHGT masih menyisakan persoalan fikih, legitimasi, dan penerimaan umat, penerapannya secara prematur hanya akan melanggengkan polemik tahunan. Ramadhan pun kembali disambut dengan perbedaan, bukan ketenangan dan kebersamaan.

Di Indonesia, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Pemerintah menetapkan awal Ramadhan melalui sidang isbat, sementara sebagian organisasi Islam memilih mengikuti perhitungan kalender global atau metode internal masing-masing. Akibatnya, perbedaan bukan hanya terjadi antarnegara, tetapi juga di dalam satu wilayah dan satu komunitas.

Ironisnya, perbedaan yang sejatinya bersifat ilmiah dan ijtihadi ini kerap bergeser menjadi polemik sosial. Media sosial dipenuhi perdebatan, sindiran, bahkan klaim kebenaran sepihak. Padahal, perbedaan dalam penentuan awal bulan hijriah telah dikenal sejak masa ulama terdahulu dan tidak pernah dijadikan alasan untuk meretakkan persaudaraan. Data lengkap mengenai prediksi dan ketetapan awal Ramadhan 2026.
1. Versi Pemerintah (Kementerian Agama RI)
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, 1 Ramadhan 1447 H diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Pemerintah Indonesia menggunakan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Keputusan resmi pemerintah akan ditetapkan melalui Sidang Isbat yang dijadwalkan pada Selasa, 17 Februari 2026 (29 Sya’ban 1447 H) setelah pemantauan hilal di berbagai titik di Indonesia.
2. Versi Muhammadiyah
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah secara resmi menetapkan awal Ramadhan lebih awal melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Menurut Maklumat PP Muhammadiyah, 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Dalam metode ini, jika ijtimak sudah terjadi dan bulan berada di atas ufuk saat matahari terbenam, maka keesokan harinya sudah dianggap masuk bulan baru tanpa perlu menunggu hasil observasi mata telanjang (rukyat).

Pada akhirnya, perbedaan awal Ramadhan adalah realitas yang perlu diterima dengan lapang dada. Selama dilandasi niat ibadah dan mengikuti keyakinan masing-masing, perbedaan tersebut tetap berada dalam koridor yang dibenarkan. Yang terpenting, semangat Ramadhan tetap terjaga untuk menebar kebaikan, menahan diri, dan memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan