


“Pak, nanti kirimi aku kartu pos, ya!” kataku setiap Bapak melakukan perjalanan dinas.
Atau aku menggenggam tangan pacar sambil berkata. “Doain aku sehat di perjalanan, ya. Nanti aku kirimkan kartu pos untukmu dari kota-kota yang aku singgahi.”
Konyolnya, beberapa kali kartu pos itu aku injak agar kotor. Dengan rekayasa visual “kartu pos berlumpur” seperti itu terasa sekali kesan petualangannya.

ooo
Umurku sekarang 62 tahun. Agustus 2026 nanti 63 tahun. Aku baru saja selesai sebagai Duta Baca Indonesia Desember 2025 ini. Aku merasa seperti diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mewujudkan keinginanku keliling dunia lewat Literacy Journey ke 12 negara pada 22 Desember 2026 hingga 12 Maret 2026.

“Ayo, kemasi ranselmu! Lihatlah dunia yang aku ciptakan ini! Iqro! Dan kirimi aku kartu pos!” seperti bisikan di hatiku yang aku yakini itu suara Tuhan.
Hingga hari ini aku baru mengunjungi 21 negara. Jika Literacy Journey ke Thailand, Laos, Vietnam, Tiongkok, Kazakhtan, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, Georgia, Turkiye, UEA,dan Malaysia lancar, berarti 30 negara sudah aku kunjungi karena ada 3 negara sudah pernah aku kunjungi (UEA, Malaysia, dan Laos).
Cita-cita ingin keliling dunia terdengar sangat ambisius. Apalagi ditambahi imajinasi, bahwa aku ingin mengirimkan kartu pos dari negara-negara yang aku kunjungi nanti.
Tidak mudah jadi seorang pemimpi jika malas mewujudkannya. Aku termasuk orang yang jika bermimpi harus bangun dan segera mewujudkannya.

“Dari mana dananya?” Kadang muncul ledekan yang bisa mematahkan mimpiku.
“Emangnya murah naik pesawat? Orang tuamu hanyalah guru!”
Aku tekan saja ledekan itu. Ada betulnya ledekan itu. Bapak-Emak hanya guru, yang di era rezim orde baru harus selalu dalam keadaan pinggang diikat. Gaji bulanan bertahan hingga mnggu kedua kemudian setelahnya mari kita menggunakan tongkat ajaib Ratu Nirmala.
ooo

“Kenapa sih harus keliling dunia? Nanti aku sering ditinggal, dong…”
“Nanti aku kirimkan kartu pos sebagai penawar rindu,” kataku
Ya, kenapa sih harus keliling dunia?
Awalnya aku membaca buku-buku Jules Verne yang memicu hasrat petualanganku. Kemudian kisah-kisah heroik seperti Ibnu Batuta, Columbus, Marcopolo, bahkan Bapak yang sering melakukan perjalanan dinas ke kota-kota lain (walaupun di Jawa).
“Kamu harus ke Yogya. Melihat Borobudur,” begitu Bapak menuliskan pesan di kartu pos yang dikirim dari Yogyakarta. Ya, kartu pos bergambar candi Borobudur.
Aku mewujudkannya pada 1981 dengan cara hitchhiking atau liften selama 1 Minggu. Aku juga mengirimkan kartu pos bergambar candi Borobudur dari Magelang.
Aku pernah keliling Indonesia selama 2 tahun (1985-87) naik truk, gerbong kereta, pick up, atau kadang ada keluarga baik hati yang memberikan tumpangan. Juga keliling 7 negara Asia (1990-1992). Tidur di teras masjid, stasiun kereta, terminal bus, di pasar, atau pos polisi. Tapi selalu mengirimkan kartu pos kepada orang di rumah, teman, juga pacar.
Menurut literatur yang aku baca Google (kalau aku sedang ada di rumah tentu membuka buku ensiklopedia), kartu pos lahir agar kita semua bisa mengirimkan pesan tanpa amplop agar biayanya murah. Tentu ini tidak bersifat pribadi, lebih pada mengabarkan keadaan kita sehat-sehat saja di dalam perjalanan atau di kota lain. Bagiku, ini penemuan hebat alias inovatif.

Ide awal kartu pos pada 1 Oktober 1869, seorang Dr. Heinrich Von Stephan mengusulkan kartu pos di Austria, yang kemudian menjadi Correspondenz-Karte, kartu pos resmi pertama di dunia. Kemudian diadopsi negara lain seperti Jerman, Swiss, dan Inggris. Di Hindia Belanda (Indonesia), kartu pos polos muncul tahun 1874, lalu kartu pos bergambar diperkenalkan percetakan swasta di tahun 1890-an, awalnya dengan lukisan tangan dan kemudian foto.
Kenapa kartu pos? Itu selain murah juga bisa membantuku memberikan informasi tentang kota yang aku kunjungi. Apalagi waktu itu kamera sangat mahal. Katakanlah: cara pamer berbiaya murah. Perangkonya Rp 1000,-
Sekarang aku di Bangkok. Rencananya dari 22 hingga 30 Desember bersama 2 anakku – Jordy Alghifari dan Natasha Harris di Thailand. Beberapa titik wisata di Bangkok dan Pattaya sudah aku kunjungi. Tapi tak ada kartu pos. Aku harus menggunakan kamera HP sebaik mungkin. Mencari angle kamera ibarat fotografer professional. Kemudian mengunggahnya di medsos ..
Ya, sekarang tradisi mengirimkan kartu pos sudah tidak ada lagi. Kita semua ber-swa foto dan dengan sangat cepat mengirimkan pesan lewat WA atau pamer di medsos…
Bangkok, 25 Desember 2025
Selamat Hari Natal dan Tahun Baru
Gol A Gong
Traveler, Author