Melayu yang Lain, Rekonstruksi Identitas dan Politik Identitas dalam Novel Sejarah Lanun Alang Tiga Karya Datuk Rida K Liamsi: Catatan Muhammad Ade Putra

113

Sejauh mana sastra masa kini berbicara mengenai sejarah dan identitas suatu suku bangsa dari arah suku yang kecil hingga pengaruhnya menuju global? Indonesia adalah tubuh bumi yang tidak pernah cukup untuk digerogoti para penulis sebagai sumber inspirasi dan modal utama menggembang cerita. Meski, banyak cerita dalam tubuh Indonesia yang belum sepenuhnya digali maupun terdengar ke permukaan. Keberagaman cerita yang sebagian besarnya berupa folklor maupun catatan sejarah inilah, yang secara kompleks menjadi tantangan dan kebaruan dalam bentuk ekspresi tulisan. Sejauh ini, sejarah dan kebudayaan lokal terlihat sangat laku di pasaran ide dalam konteks khazanah sastra Indonesia, begitulah sungai imajinasi terus mengalir di tangan Datuk Rida K Liamsi, tokoh sastra Indonesia yang sekali lagi menjadikan pengetahuan lokal sebagai jalan pengabdiannya kepada sastra Indonesia.
Novel Lanun Alang Tiga karya Datuk Rida K Liamsi adalah novel sejarah yang lancar menyampaikan kisah melalui perjalanan heroik masing-masing tokohnya. Novel ini adalah pelengkap tetralogi novel sejarah sebelumnya, yaitu Megat, Bulang Cahaya dan Hamidah. Sebagai pelengkap, novel ini tidak hanya menutup serangkaian karya, tetapi berdiri sendiri dengan dua kaki keistimewaannya. Dengan dialog yang terasa dekat dan melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu, novel ini mendekap pembacanya untuk larut dalam ingatan setiap bagian dan bab. Tokoh Nadin dalam novel ini, secara sederhana telah berhasil mengajak pembacanya untuk tergesa-gesa menyelesaikan tugas yang tengah ia emban, tanpa meninggalkan kesan bingung yang membayang-bayang, antaranya setiap tokoh maupun relasi imajiner pembaca terhadap karya ini.
Sepanjang penceritaan, novel ini menjinjing narasi identitas masyarakat Melayu Iranun yang merupakan nenek moyang dari masyarakat Melayu Timur. Identitas adalah tubuh cerita yang bermakna dalam novel ini, bagaimana pada akhirnya, penelusuran tokoh dan pembaca berujung pada penemuan-penemuan identitas. Kekuatan penceritaan ini, menjinjing tokoh untuk berlayar di lautan biru persaudaraan dan hiruk pikuk peperangan di masa lalu, tanpa menyesak pembaca untuk memihak pada tubuh cerita yang mana.
Novel ini, menyumbangkan pengkajian mengenai identitas dalam khazanah sastra. Identitas yang dimaksud tidak hanya tentang asal dan muasal, tetapi lebih dalam lagi. Tokoh berlari di antara kenyataan mengenai nenek moyangnya dalam wacana rekonstruksi identitas, begitu pula dengan politik identitas yang telah berlangsung sejak zaman dahulu, antara sesama nenek moyang, maupun penerus dan leluhurnya. Lanun Alang Tiga adalah pelayaran identitas yang kompleks.
***
Politik Identitas dalam Lanun Alang Tiga
Berbicara mengenai politik identitas, seringkali dikaitkan dengan perebutan dan pertarungan kekuasaan. Hal ini mengacu pada posisional politik identitas sebagai sebuah mekanisme politik yang memiliki pengorganisasian relasi, baik identitas politik maupun identitas sosial (Wati, 2021). Dengan demikian, politik identitas seakan bergerak bersama mekanisme yang dekat dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Implementasi politik identitas, cukup sering terlibat dalam penggarapan karya sastra. Di mana karya sastra menjadi wahana untuk menyampaikan pesan dan amanat dari suara-suara yang terkesan hilang maupun dibungkam.
Novel Lanun Alang Tiga adalah novel sejarah yang secara jelas memposisikan karakter dan tokoh-tokohnya. Posisi ini ditampilkan dalam narasi sejarah yang lekat dengan hubungan kekeluargaan. Dalam novel ini, sistem kekerabatan Suku Iranun terus dibicarakan secara berulang ulang. Pembicaraan ini, terus menghadirkan informasi baru dan penegasan. Tersebutlah, orang-orang Iranun datang ke Jazirah Melayu sejak 800 tahun lalu sebagai pengembara. Mereka datang sebagai bajak laut, hingga dikenal sebagai lanun (secara bahasa dan penyebutan, sangat dekat dengan nama sukunya Iranun). Kedatangan mereka ke Kerajaan Riau Lingga (yang terlihat sebagai titik tengah geografis Kemelayuan dalam novel ini) pada abad-18 semakin memperkuat posisional mereka sebagai bagian dari kekeluargaan Jazirah Melayu.

Novel Lanun Alang Tiga mencoba untuk mempertegas hubungan kekeluargaan orang-orang Iranun dengan beberapa kali menyandingkan nama mereka dengan suku Melayu lainnya. ”Mereka (orang-orang Iranun) bersekutu dengan bajak laut dari Siak, dari Riau Lingga, Kalimantan, dan juga dari Terengganu/ di tanah semenanjung, dan mereka itu yang disebut orang-orang Iranun.” (Hal. 44). ”Para pemimpin bajak laut dari Siak, Riau dan lainnya, dan mereka itu bergabung dengan bajak laut Iranun dari Zulu dan Balangingi/ Jadi, campuran antara Melayu Siak, Riau, Bugis, dan Iranun.” (Hal. 45). ”Raja Ali (Riau Lingga) juga bekerja sama dan didukung para bajak laut Iranun, dan juga dari Siak/ Tiga kekuatan inilah yang mengharu biru laut Cina Selatan, Selat Melaka, dan Selat Karimata/ …/ Adakala mereka (dalam hal ini Riau Lingga dan Siak) bersekutu, adakala mereka berseteru/ Itu politik bajak laut/ Politik itu, kan kepentingan.” (Hal. 46)

Dalam kutipan-kutipan di atas, bisa dinyatakan bahwa secara garis struktural, Melayu sangat lekat namun memiliki batas-jarak satu sama lain. Hal ini, ditinjau dari bagaimana penyebutan daerah asal menjadi tonggak ukur identitas suatu kelompok. Konstruksi identitas sering melibatkan tempat sebagai pengukur utama identitas sebuah kelompok (Firzal, 2019). Namun, di saat bersamaan, seluruh batas yang menciptakan narasi pembeda antara orang-orang Iranun dan Melayu lainnya, terdapat ikatan personal yang mengekal dalam berbagai penerapan, seperti bekerjasama untuk mengusir para penjajah Eropa.
Politik Identitas mengalir lancar dalam penulisan novel ini, juga dikaitkan dengan penempatan tokoh utama (Nadin Sukmara) yang bekerja sebagai wartawan dan mendapatkan tugas untuk meliput historis orang-orang Iranun di pulau Sumatera. Tugas tersebut diberikan oleh pimpinan tempat Nadin bekerja (Datuk Abdul Rahman) yang juga merupakan tokoh petinggi orang-orang Iranun di Sabah. Terdapat penekanan pada kepentingan identitas yang ingin dijaga dalam penulisan novel ini. Dengan demikian, novel ini juga menitik fokus pada upaya merekonstruksi identitas orang-orang Iranun
***
Rekontruksi Identitas
Identitas adalah bagian substansial dalam struktur novel ini, di mana klasifikasi identitas seseorang sangat beragam, manusia (dalam hal ini tokoh) yang tidak bisa berdiri sendiri. Identitas melekat dan berbentuk representasi kultural, sosial dan akulturasi (Sukamto, 2010), hingga terciptanya rasa kepemilikan, kenyamanan dan kesamaan perspektif suatu individu dalam kelompoknya (Wijaya, 2016). Identitas semakin krusial dalam pengembangan dan pencarian latar belakang tokoh dalam novel Lanun Alang Tiga, terkhususnya penelusuran mengenai orang-orang Iranun.
Nadin melakukan perjalanannya menuju Sumatera, dalam hal ini, ia bekerjasama dengan Rustam dan Profesor Kazai. Pendekatan mereka bertiga, selain memiliki identitas sebagai wartawan dan peneliti, ketiganya juga memiliki beban moral sebagai akademisi yang berperan dalam melestarikan pengetahuan dan informasi mengenai salah satu bagian besar dari Melayu yang kurang diliput maupun dikenal secara umum, yaitu orang-orang Iranun.

Jadi, awak ini datang ke Riau ini untuk menelusuri jejak keturunan awak, orang Iranun yang dulu pernah datang ke jazirah tanah Melayu ini?” (Hal. 23)

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Dalam upaya merekonstruksi identitas orang-orang Iranun, Nadin juga mendapatkan pengalaman baru mengenai Melayu yang lain di Sumatera, terkhususnya Indragiri Hulu. Bagaimana sebuah nama penginapan yaitu Hotel Sederhana dapat menjadi wacana tipikal khas perdagangan masyarakat Melayu, prosesi Menongkah Kerang yang dianggap sebagai seni bermain lumpur, cara tradisional orang Melayu membuka kerang, praktik menjual koran secara eceran, hingga folklor harimau jadi-jadian khas Sumatera.
Folklor adalah salah satu medium merekonstruksi identitas. Folklor bergerak sebagai kebudayaan yang kolektif, tersebar dan diwariskan secara turun temurun dalam bentuk lisan (Danandjaja, 1991). Novel Lanun Alang Tiga menyusun silang kisah-kisah sejarah yang secara kontemporer dilakukan melalui sastra, tentu susunan tersebut dalam dikatakan sebagai folklor. Di mana, pergerakan Profesor Kazai (karakter akademisi dalam novel ini) menjadi kamus kisah berjalan yang sangat vital dalam penyampaian pesan.
Dengan demikian, konsep rekonstruksi identitas terhadap seseorang atau kelompok yang secara sadar telah kehilangan atau mengembalikan identitas yang terlepas dalam kehidupannya, telah dilakukan Novel Lanun Alang Tiga dengan pendekatan etnografi dan partisipan observatif.
***
”Kalau petang, ombak makin kuat/ Ayo kita kembali ke mercusuar/ Ayo pulang.” (Hal. 277)

Novel Lanun Alang Tiga menutup narasinya dengan dinamika kekeluargaan yang lekat dan mengharu biru. Meski, keturunan anak lanun mana boleh penyedih (Hal. 92), novel ini berhasil memberikan penekanan-penekanan terhadap tekad dan keinginan. Sebagaimana Nadin menyelesaikan tugasnya di Sumatera, begitu pula dengan tokoh perempuan muda (Julia) Iranun yang memiliki mimpi dan cita-cita besarnya. Secara kultural, novel ini hendak mengekal dan melestarikan budaya orang Iranun dalam perjodohan anak muda, antara Nadin dan Julia yang keduanya merupakan satu keturunan Melayu Timur, keturunan Panglima Sulong, keturunan Tok Lukus. Namun, di akhir cerita, novel ini ditutup dengan dinamika pilihan yang ditetapkan para tokohnya. Mereka saling menjaga warisan identitas melalui jalan dan pilihan masing masing.
Datuk Rida K Liamsi sebagai novelis yang tekun mencatat sejarah dalam karya-karya sastranya, telah memberikan sumbangsih yang gamblang bagi sejarah dan identitas suatu suku bangsa, dalam hal ini Melayu Timur. Dengan demikian, bakti Datuk Rida K Liamsi sebagai sastrawan yang berkontribusi sebagai pengeksplorasi cerita tubuh bumi Indonesia, semakin purna. Seperti yang terus berulang ulang dalam novel ini, penyebutan bajak laut sebagai tokoh yang ditakuti, pemberani nasionalisme hingga kasih sayang, teruslah berlayar Lanun Alang Tiga!

Sumber:
Danandjaja, J. (1991). Foklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dll. PT. Pustaka Utama Grafiti.
Firzal, Y. (2019). Rekonstruksi Identitas Sosial Kebudayaan di Perkotaan. EMARA: Indonesian Journal of Architecture, 5(1), 1–5. https://doi.org/10.29080/eija.v5i1.533
Sukamto, G. (2010). Politik Identitas (Suatu Kajian Awal dalam Kerangka dan Interaksi “Lokalitas” dan “Globalisasi). Jurnal Sejarah Dan Budaya, 2(2), 9–23.
Wati, W. (2021). Menguatnya Politik Identitas Di Indonesia Baik Karena Faktor Agama, Sosial, Dan Etnis. Jurnal Pendidikan PKN (Pancasila Dan Kewarganegaraan), 2(2), 66. https://doi.org/10.26418/jppkn.v2i2.44627
Wijaya, I. S. (2016). Konstruksi Identitas Diri Dalam Organisasi Etnis. Lentera: Jurnal Ilmu Dakwah Dan Komunikasi, XVIII(2), 31–42. https://www.neliti.com/journals/lentera-jurnal-ilmu-dakwah-dan-komunikasi

Muhammad Ade Putra. Lahir dan besar di Kampar. Peraih Anugerah Kebudayaan Kategori Anak dan Remaja dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bergiat di COMPETER (Community Pena Terbang) dan Komunitas Seni Rumah Sunting. Lulusan Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada. Buku Kumpulan Puisinya yang terbaru berjudul Kota-Kota yang Lebih Kau Cinta Daripada Aku (2022). Pemenang Kompetisi #SahabArtEurpalia dari Kemdikbud dan membawanya berkeliling Eropa. Emerging Writer 2021 pada Ubud Writer and Reader Festival.
No WA: 082329154827

 

 

 

 

 

 

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan