Memaknai Fashion sebagai Simbol Komunikasi Individu: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi)

90

Beberapa hari belakangan kita melihat orang-orang berbaju putih masuk ke Istana Negara menemui Prabowo. Sebelumnya, Presiden Jokowi juga memunculkan simbol pakaian putih yang ia gunakan sebagai fashion di pemerintahan. Kemeja putih jadi laris manis, sampai-sampai saya pun membelinya walaupun hanya dipakai untuk kepentingan tertentu.

Pernah juga kan melihat para tersangka kasus korupsi yang memilih menggunakan baju putih saat mereka menjalani persidangan. Bagi perempuan biasanya ditambah balutan kerudung.

Apakah pakaian itu sekadar pakaian? Tidak dong.

Dalam dunia komunikasi, simbol merupakan bagian dari pertukaran makna komunikasi yang ingin disampaikan seseorang kepada khalayak.

Menggunakan baju putih dilakukan untuk mengesankan sebagai seorang yang bersih, baik, suci, bla..bla lah. Semua itu dimunculkan sebagai harapan maupun kontradiktif dari kenyataan.

Intinya, pengelolaan kesan yang diinginkan adalah makna positif dari penggunaan fashion yang dipilih.

Makna Fashionmu

Dalam kehidupan sehari-hari kita pun punya gaya fashion masing-masing.

Pernahkah kita kepikiran fashion yang kita pakai untuk mencerminkan karakter atau kesan yang kita inginkan dari orang lain?

Saya memakai warna hitam, coklat, atau warna-warna soft misalnya, pakai topi atau yang lainnya, karena saya ingin dimaknai sebagai seorang yang tegas, sederhana, dan berkarakter.

Memilih jenis fashion outer yang terus menerus, juga memiliki makna yang ingin saya kesankan pada orang lain.

Sekali lagi pernahkah kita memikirkan ini? Soal pengelolaan kesan.

Bahkan seorang politisi yang ingin sukses dalam proses komunikasi politiknya juga harus memperhatikan fashion.

Seorang politisi yang ingin dikesankan muda atau bersih, bisa memilih fashion yang sesuai. Tentunya disesuaikan pula dengan usia dan karakternya. Seorang yang sudah tua, tetapi ingin menyapa gen Z misalnya, bisa diatur fashionnya.

Seorang yang ingin menjangkau segmen pemilih agamis misalnya, sementara citra dirinya kurang religius, maka bisa membangun kesan religius itu melalui fashion.

Jadi tidak usah heran jika ada seorang calon bupati, gubernur, caleg, atau lainnya terlihat membawa sorban kemana-mana, pakai jubah dan lain-lain. Semuanya memiliki makna komunikasi. Ada kesan yang diinginkan.

Saya lebih sering memilih fashion kaos misalnya, karena saya ingin dikesankan sebagai sosok yang lebih simple dan tidak kaku. Jarang sekali memakai batik atau pakaian-pakain formal, ya karena sesuai dengan dominasi pekerjaan dan apa-apa yang ada di pikiran saya, seni.

Jadi, udah sadar belum dengan makna komunikasi dari fashion yang kita pakai? Mulai sekarang berpikirlah, karena semuanya memiliki makna secara simbolis.

De Daikos, 21 Oktober 2024

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan