Memukat Sastra di Sekolah: Catatan Shafwan Hadi Umry

7

Sekolah adalah lahan terbaik untuk pembudidayaan ilmu pengetahuan termasuk sastra. Disekolah bermacam pelajaran diajarkan dangan berbagai metode, misalnya ceramah, peragaan, diskusi, dan penugasan, ibarat memukat, setiap nelayan menaruh harapan untuk membawa hasil tangkapan dan dijual atau dimanfaatkan untuk kepentingan perut, papan, dandang dan juga kesenangan. Begitu juga guru yang datang ke kelas, mereka membawa kail dan umpan yang menawan misalnya memberi nilai yang bagus untuk sebuah jawaban namun kalau kail cuma sejangkal janganlah laut hendak diduga.

Membawa kail atau memanggul pukat termasuk memanggul niat, termasuk juga melakukan pilihan. Tidak setiap tangkapan langsung di bawa. Tak ubah dangan nelayan yang berhasil memukat hasil laut. Di situ ada ikan, sampah dan uiar bercampur menjadi satu. Dangan ketangkasan dan kemahiran sang nelayang ular di lempar kembali ke laut dan sumpah yang terbawa bersama ikan wajib dipisahkan. Ketika guru memasuki kelas maka mereka tak ubah seperti nelayan yang memiliki niat. Namun, niat tanpa minat belum menjamin guru berhasil menukat manfaat dari kegiatan belajar sastra.

Membawa kail atau memanggul pukat termasuk memanggul niat, termasuk juga melakukan pilihan. Tidak setiap tangkapan langsung dibawa. Tak ubah dangan nelayan yang berhasil memukat hasil laut. Di situ ada ikan, sampah dan ular bercampur menjadi satu. Dangan ketangkasan dan kemahiran sang nelayan ular dilempar kembali ke laut dan sampah yang terbawa bersama ikan wajib dipisahkan ketika guru memasuki kelas maka mereka tak ubah seperti nelayan yang memiliki niat. Namun, niat tanpa minat belum menjamin guru berhasil memukat manfaat dari kegiatan belajar sastra.

Dalam suatu kesempatan bertatap muka dangan beberapa guru Bahasa Indonesia yang bertugas di sekolah menengah di Sumatera Utara telah membuktikan bagaimana mereka ditugasi nemukat sastra di sekolah. Ada 13 SMA (sekarang SMU) yang memberi informasi tentang pelajaran sastra di tempatnya masing-masing. Berikut ini dikumpulkan sejumlah pengakuan dari guru tersebut. SMA Batangtoru (guru tidak menguasai materi sastra, bahan pelajaran sukar didapat kemudian menurutnya telah terjadi krisis nilai artinya target orang tua menyekolahkan anaknya telah bergeser ke nilai-nilai pragmatis. SMA Kuala, minat sastra cukup besar, kegiatan majalah dinding dan bulan bahasa sering diisi dangan lomba baca puisi dan lomba berpidato. Hambatan yang ditemui adalah sarana buku terbatas terutama buku terbitan Balai Pustaka yang terkenal Angkatan 1920. Cara mengatasinya guru membentuk kelompok belajar dan secara bergilir meminjam buku di perpustakaan. SMA Pangkalan Brandan siswa melakukan kegiatan membuat majalah dinding dan juga majalah edisi OSIS. Siswa ditugasi membuat novel lemudian dibukukan untuk kalangan sendiri. SMA Ambarita kendala proses pembelajaran sastra terbentuk masalah bahasa. Tidak jarang dipakai dua bahasa yaitu Bahasa Indanesia dan Bahasa daerah. SMA Sianjur Mula-mula: minat siswa belajar sastra kurang termasuk guru kurang berminat mengajarkan sastra. Perpustaksan sekolah lebih banyak beredar buku-buku tentang menanam kopi, dan tidak ada buku bagaimana cara menanamkan sastra. SMA Tanjung Pura: minat siswa belajar sastra dan ber sastra cukup besar bahkan siswa aktif di luar dibandingkan di sekolah. Diperlukan kerja sama kepala sekolah dangar. guru dan sastrawan. Kegiatan drama kurang berkembang. SMA Prapat: guru bahasa Indanesia kurang minat sastra dan lebih cenderung mengajarkan tata bahasa. SMA Sorkam minat siswa tentang drama cukup besar termasuk kegiatan mengapresiasi puisi. Kegiatan pelatihan drama dilakukan sore hari. SMA Panguruan: minat siswa dapat dikembangkan melalui lomba baca puisi dan lomba membuat majalah dinding. Hambatan yang terjadi adalah siswa jurusan A1 dan A2 kurang merasa penting belajar apresiasi sastra dan diperlukan kerja sama dangan antar guru bidang studi serta kepala sekolah. SMA-15 Medan masalah minat baca kurang karena buku yang tersedia di perpustakaan tidak ada dan tersedia hanya buku paket. Masalah penjurusan A1, A2, A3, dan A4 perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan apresiasi sastra di sekolah SMA-11 Medan pelajaran sastra di sekolah terpusat pada minat dan hambatan. Minat siswa ada tetapi sarana terbatas. Upaya yang dilakukan berusaha menata kemandirian untuk mencari buku-buku yang tak ada di sekolah. Siswa dari suku Melayu lebih besar minat sastra dibandingkan siswa suku yang lain.

Tulisan Terkait

Marhaban Ramadhan: Catatan Cak AT

Informasi dari berbagai Guru Bahasa Indonesia tersebut di terima beberapa tahun yang lalu sampai dengan pemberlakuan kurikulum 2013 ketika anggaran pemantapan kerja guru di kelas diberlakukan. Merujuk pada tahun 2025 ini terus terang masa 12 tahun telah banyak yang dibuat dan dikerjakan oleh guru-guru di kelas sesuai dangan motto pembelajaran bahasa dan sastra yaitu guru mandiri dan siswa berpartisipasi, lalu timbul pertanyaan, apakah keberhasilan pembelajaran sastra telah terlaksana dangan baik? pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Masalahnya begitu kompleks, seperti murid-murid yang silih berganti datang dan pergi dari terminal sekolahnya masing-masing. Guru-guru yang pindah mengajar atau berstatus kepala sekolah, dan lain-lain.

Membudidayakan sastra tidak sama membudidayakan udang ditambak. Dangan waktu empat tahun sang petani dapat memukat udang atau sang nelayan berhasil menambah pemasukan. Namun, dapatkah guru memukat siswa-siswa berbakat dan menghargai sastra sebagai ilmu dan sebagai nilai-nilai? Inilah yang selalu muncul dalam benak para pengamat sastra dun tim kurikulum di dunia pendidikan.

Pengajaran bahasa yang dikehendaki kurikulum merdeka yang berlaku dewasa ini berciri tematis dan terpadu. Guru bahasa Indanesia dituntut mampu memilih bahan yang bersumber dari sastra, dapat sebuah puisi, fiksi dan drama yang sesuai dangan topik.

Amanat Kongres Bahasa Indonesia V (di Hotel Kartika Candra, 1988) masih menggaungkan suaranya yakni, Guru sastra memerlukan keleluasaan mempersiapkan diri berupa membaca dan memilih hasil sastra, menyusun bahan dan menciptakan model pengajaran, serta melaksanakan dan mengevaluasi hasilnya. Sebagai amanat ia harus dilaksanakan oleh guru bahasa Indanesia agar pembelajaran sastra dapat menumbuhkan bibit sastra yang berkembang biak dalat perairan bahasa Indanesia. Oleh karena sastra adalah mahkota bahasa, dan keindahan suatu mahkota terletak dalam hak pakainya dalam kebesaran dan penghormatan masyarakat .

Penulis tinggal di Medan

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan