PEKANBARU-Peluang menggarap film-film pendek dapat berangkat dari ide sederhana di sekitar kita. Apapun bisa kita kelola menjadi script cerita yang menarik untuk ditampilkan secara visual.
Sebuah film pendek dengan durasi waktu yang terbatas membutuhkan kecermatan dari penggarap cerita. Mampu meramu alur secara padat dengan visualisasi yang juga dapat merepresentasikan cerita dengan proporsional.
Sebuah tayangan menarik dapat kita lihat pada film Kopi Terakhir yang rilis di tahun 2021 di channel YouTube resmi Bambang Kariyawan.
Dikutip dari channel tersebut, disebutkan film dengan durasi 8 menit 50 detik tersebut memesankan tentang pentingnya penghargaan terhadap sesuatu yang masih ada.
Seseorang seringkali baru menghargai sesuatu ketika sesuatu tersebut telah hilang dari kehidupannya. Sementara saat masih ada, banyak yang abai dan tak peduli.
Sinopsis Film Pendek Kopi Terakhir
Film pendek Kopi Terakhir mengisahkan tentang pasangan suami istri yang memiliki kebiasaan bekerja di malam hari dengan minuman kopi.
Sang suami sering bekerja sampai larut malam, sementara sang istri selalu setia membuatkan kopi. Setiap kali sang istri mengajaknya tidur dan mengingatkan karena sudah larut malam, sang suami tetap tak peduli. Ia tetap fokus dengan pekerjaannya.
Sang istri tidak pernah mengatakan tentang keluhannya, bahwa setiap malam ia mengajak suaminya untuk istirahat karena ia sendiri memiliki keluhan penyakit yang ia sembunyikan.
Setelah beberapa malam sang istri setia membuatkan kopi, sedangkan sang suami tetap setia pula dengan pekerjaannya, akhirnya sampailah pada malam paling mengejutkan bagi sang suami.
Istrinya tiba-tiba jatuh pingsan saat usai menghidangkan kopi. Ia dibawa ke rumah sakit dan di sana istrinya divonis telah meninggal karena penyakit jantung.
Muncullah penyesalan dalam hati suaminya. Ia mengingat kembali bagaimana setiap malam istrinya minta ditemani istirahat, tetapi ia tak peduli. Namun, apa yang sudah terjadi tak bisa disesali, istrinya kini telah pergi selama-lamanya.
Ide Sederhana, Makna Cukup Dalam
Film yang digarap oleh B-KA Motion Pictures tersebut mengisahkan tentang ide yang sederhana yakni kopi, tetapi hal sederhana tersebut diisi dengan muatan pesan yang cukup penting yakni soal penghargaan. Hargailah sesuatu selagi ia ada, sebab jika ia telah pergi maka ia tak kan kembali lagi.
Terdapat beberapa catatan kualitas penggarapan film ini yang masih membutuhkan perbaikan. Pada scene pertama, penggarapan pada penyajian suguhan kopi terlalu lama dibandingkan durasi film yang hanya 8 menit. Kepadatan alur dan grafis perlu disesuaikan dengan durasi waktu yang ada.
Namun, secara umum peran natural para pelakon di film ini cukup baik. Dialog menggunakan bahasa daerah atau pengembangan ide kopi yang lebih unik misalnya, akan bisa membuat penggarapan film ini lebih menarik.
Hal sederhana akan tetap bisa menjadi yang luar biasa di tangan sineas berpengalaman. Film Kopi Terakhir bisa mengarah pada hal tersebut. Selamat menonton.***
Nafi’ah al-Mahrab, Pengurus BPP Forum Lingkar Pena