Oleh : Fakhrunnas, MA Jabbar – LELAKI berwajah lembut dan selalu tersenyum itu telah tiada. 19 Januari 2020, lelaki yang akrab dipanggil para sastrawan itu telah berpulang kerahmatullah di Singapura. Dialah Abah Jumari bin Safar, suami sastrawan perempuan Singapura, Rohanie Din yang selalu disapa dengan Bunda Anie.
Kepergian Abah bagi Bunda Anie benar-benar pukulan yang berat. Tapi kepergian Abah yang semasa hidupnya bertahun-tahun menderita penyakit diabetes dan konflikasi penyakit lainnya
benar-benar telah diikhlaskan Bunda. Namun bayangan Abah tak pernah redup dalam pikiran Bunda.
”Susah mencari tandingan bagaimana sabar dan ikhlasnya Abah. Semua aktivitas Bunda dalam kreativitas sastra dan menerbitkan buku, selalu disokong Abah. Tak pernah Abah mengeluh sekalipun. Abah begitu mempercayai Bunda. Dan Bunda pun selalu menjaga amanah dan kepercayaan Abah..” tutur Bunda saat saya bersama sastrawan Husnu Abadi dan Ariani Isnamurti berkunjung takziah di kediaman Bunda di Lorong 8 Toa Payoh, Singapura di awal Februari lalu.
Tentu tak hanya Bunda, anak-anak dan keluarga besar Bunda yang merasa kehilangan. Para sastrawan yang berada di dalam wadah Bebas Melata binaan Bunda juga merasa kehilangan yang sama. Saya termasuk salsh saty di antaranya..
Pertemuan saya dengan Abah pertamakali saat Bunda menggelar acara Pertemuan Pantun dan Puisi I di cottage kawasan Tanah Merah, tepi pantai Singapura. Tak kurang dari 80 orang sastrawan tiga negara, Indonesia, Malaysia dan Singapura diundang Bunda. Semua kami menginap di dua cottage mewah selama tiga hari.
Hebatnya, perhelatan sastra Tanah Merah yang digagas Bunda Anie sepenuhnya dibiayai dan didukung Abah tanpa banyak pertimbangan. Tentu saja tak sedikit dana yang dikeluarkan untuk sewa cottage, makan minum puluhan sastrawan yang hadir.
Selama empat hari, saya beserta teman-teman menyaksikan bagaimana Abah selalu hadir di tengah-tengah kami. Meski banyak duduk di kursi karena kakinya yang sakiy dan dibalut verban, Abah selalu menyempatkan diri bercakap-cakap dengan kami. Tak pernah kami mendengar Anah mengeluh. Sikap sabar dan ikhlas Abah begitu terpancar dari wajahnya yang teduh. Ditambah lagi nada suara yang rendah dan lembut. Abah selalu tampak tenang dan tersenyum.
Bunda pernah bercerita bahwa Abah begitu peduli dengan kegiatan sastra Bunda. Termasuk Abah juga kenal dan hapal ‘anak-anak’ Bebas Melata baik yang di Singapura maupun di kawasan serumpun lainnya.
Selamat jalan, Abah…
Pekanbaru, 15 Februari 2020