

Sudah semestinya siapapun harus menjadi manusia seutuhnya. Artinya, ia harus memiliki jati diri dari sebuah puak. Jati diri yang kelak mampu menunjukkannya sebagai manusia bermartabat. Dimana ia berada akan dijunjungnya marwah adat-istiadatnya sekaligus menjunjung pula—sebagai bentuk menghargai—adat dan tata laku masyarakat lain. Dengan begitu ia akan manjadi manusia bermarwah; beradab, bertingkah laku baik, berakhlak mulia, santun bertutur kata, hingga kelak mencerminkan manusia berkarakter. Maka sudah mesti pula hendaknya setiap diri memperhatikan khazanah asal-usul (baca: adat) tempat dan dari mana ia berada. Sebab hal itu—bila dipegang teguh dan dijunjung—berpengaruh besar pada karakter dan kepribadian yang utuh.
Ia (sosok manusia itu) akan menjadi berkarakter karena telah benar-benar “memeluk” adatnya dengan baik dan bijak. Ia mampu menyikapi dengan sepenuh hati dan tanggung jawab sebagai orang yang menjunjung tinggi marwahnya sehingga perwatakannya mampu mencerminkan sosok manusia Melayu sejati. Sudah mestinya ia mampu membawa cerminan karakter ke-Melayu-an itu dalam kehidupan sehari-hari sebagai bukti bahwa ia telah “memeluk Melayu” dengan sungguh-sungguh.
Ya, tentu harus sungguh-sungguh! Tidak ada main-main, tidak ada setengah-setengah kalau ingin dikatakan sebagai manusia yang menjunjung nilai-nilai adat Melayu sebagai sikap teguh dan cerminan jati diri. Sehingga dimanapun berada, nilai-nilai kemelayuan itu akan bercahaya, terpatri dengan elok. Menyikapi hal itu, setiap diri anak jati Riau mesti harus terus belajar mengasah pikiran, menumbuhkembangkan wawasan, dan menggali kreativitasnya baik formal maupun non formal tentang khazanah Melayu itu dengan sungguh-sungguh. Selain penggalian itu di dapat dari orang-orang tua kita. juga dapat ditelusuri dari sumber-sumber buku karangan budayawan-budayawan Riau.
Alhamdulillah kembali saya merasa bahagia karena mendapatkan lagi sebuah buku dari seorang budayawan dan sastrawan Riau, Dr. Griven H Putera, M.Ag., berjudul Memeluk Melayu langsung dari penulisnya di sebuah acara pertemuan “Sastrawan Riau Berhimpun” yang di taja Suku Seni Riau sebulan lalu. Buku terbitan Meja Tamu, tahun 2025 ini termasuk karya terbarunya. Merupakan kumpulan percikan pemikiran yang apik dalam segala hal: budaya, sastra, bahasa, keagamaan, politik, pendidikan, kunjungan perjalanan sambil berziarah, kunjungan helat sastra dan budaya, sejarah, perenungan tentang hikmah bahkan merambah ke tema olahraga. Namun, tentu, Griven tetap membawakannya ke ranah motivasi yang sarat pembentukan jati diri sebagai orang Melayu yang menjunjung nilai keislaman.
Apapun tema yang ditawarkan dapat dijabarkannya sedemikian rupa hingga menjadi tulisan yang kaya perenungan. Sebab, Griven tidak ketinggalan menyertakan penggalan ayat suci Al-Quran, kutipan hadist Baginda Nabi Muhammad SAW, kalimat motivasi dari tokoh-tokoh sejarah atau pula kutipan dari Gurindam Dua Belas dari pujangga Raja Ali Haji yang semuanya bernuansa Islami mampu memberi suntikan motivasi dan sarat instrospeksi diri.
Frasa “Memeluk Melayu” yang menjadi judul buku ini mengandung nilai persuasif. Secara tak langsung, melalui karangannya, Griven mengajak agar—seperti yang telah saya urai di paragraf awal—kita menjadi orang Melayu yang sungguh-sungguh. Bukan setengah-setengah, bukan main-main, bukan hanya sebatas lisan (lidah) yang mengaku-ngaku orang Melayu. Lebih jauh penulis mengajak kepada orang Melayu—terutama generasi muda—mampu membawa karakter kemelayuannya ke ranah kehidupan dengan baik. Mengapa? Karena dengan begitulah, yaitu menunjukkan karakter itu, kita akan dianggap sebagai orang yang berbudaya, yang memiliki jati diri sebagai anak watan, anak tempatan yang utuh, yang sebenarnya, yang patut mendapat tempat (bernilai) sehingga mampu bersaing secara global.
Cermati saja judulnya “Memeluk Melayu” berbentuk frasa yang mengandung metafor indah dan berkarakter. Griven memadukan dua kata dari bentuk verba dan nomina. /Memeluk/ bertindak sebagai verba mengarah bentuk tindakan. Artinya meraih (seseorang) ke dalam dekapan kedua tangan yang dilingkarkan; mendekap (KBBI). Sedangkan /Melayu/ bertindak sebagai nomina yang mewakili orang, bahasa, budaya, atau entitas geografis/politik tertentu. Maka “memeluk” di sini berkonotasi pada “rasa” ingin memiliki lebih jauh, lebih dapat merasa, seolah kalau sudah begitu tidak ingin terlepas lagi. Lebih jauh lagi, kalau sudah merasa memiliki artinya sudah merasa cinta. Bukankah cinta bukti tanda seseorang sudah bersebati dengan seseorang (sesuatu dan apapun)? Termasuk dalam hal budaya (Melayu). Budaya merupakan pondasi bagi seseorang yang membuatnya memiliki jati diri, karena budaya mengandung pikiran dan akal budi. Maka dari itu, sebagai anak jati Melayu, kita harus memeluknya (baca: budaya Melayu itu) dengan penuh rasa cinta.
Secara tak langsung dalam banyak tulisan dalam buku ini, Griven mengajak generasi muda Melayu untuk bersikap teguh dan berkarakter kuat. Zaman boleh berubah-ubah dan berkembang, namun karakter budaya sebagai orang Melayu jangan luntur. “Peluklah Melayu itu dimanapun kamu berada!” Begitu setidaknya harapan yang digaungkan Griven secara metaforis dalam buku ini.
Harapan-harapan itu termaktub dalam sejumlah tulisannya yang mengalir seperti arus air sungai yang jernih. Membawa hikmah yang siap diteguk untuk melepas dahaga akan pengetahuan kita. Hal jauh yang harus kita telisik juga adalah nilai. Nilai tentang sebuah aktivitas budaya yang apabila tidak dilestarikan akan pudar dan hilanglah dia. Kegelisahan itu—seperti pula tokoh budayawan lain—disampaikan Griven tentang salah satu budaya dari kampung halamannya di Pelalawan yaitu ihwal kesenian Nyanyi Panjang yang kini menjadi sebuah tradisi lisan Melayu (Riau) yang mulai redup. Sebagai tradisi lisan yang langsung ditampilkan dengan olah vokal, tentu tidak mudah untuk dimiliki. Perlu waktu panjang berproses dan rasa cinta yang tinggi untuk melestarikannya. Hal ini bukan tanpa alasan bagi pemerhati budaya menjadi risau, sebab ini bagian dari khazanah budaya yang memang harus tetap ada, lebih jauh ada generasi yang meneruskannya, siapa lagi kalau bukan anak-anak muda? Griven, dalam hal ini, sebelum memulai tulisannya, mengutip secebis kalimat dari Marcus Garvey, “Orang yang tidak mengetahui sejarah, asal-usul, dan budaya masa lalunya seperti pohon tanpa akar.”
Sebagai tradisi sastra lisan Melayu Riau yang sarat dengan hikmah, sayang sekali kalau kesenian ini menjadi hilang sehingga tidak lagi diketahui oleh kalangan generasi muda saat ini. Nyanyi Panjang berisi cerita atau kisah—bukan saja sebagai sarana hiburan—yang mampu mengisi kekosongan rohani masyarakat. Ia merupakan kisah yang dinyanyikan oleh si pencerita. Pencerita mampu membawakan berbagai bentuk kisah dengan memukau tentunya hingga meninggalkan kesan di benak pendengar, sehingga tertanam semacam rasa ingin meniru apa-apa yang baik dari tokoh-tokoh yang dikisahkan. Dari semua itu, tentu saja kisah dalam Nyanyi Panjang terkandung nilai, yaitu nilai-nilai kepahlawanan, tata hukum adat, petuah, petatah-petitih dan tunjuk ajar.
Dalam uraian judul ini, Griven juga menerangkan terdapat istilah babalam. Berasal dari kata Balam, yaitu fauna sejenis burung yang memiliki rupa dan warna indah. Ia hidup dalam hutan masyarakat adat Melayu Riau pada umumnya. Fauna ini banyak diambil sebagai simbol dalam kisah-kisah cerita rakyat Melayu, baik yang disenandungkan ataupun diceritakan secara tertulis.
Menggiatkan kembali tradisi kesenian seperti ini tentu memerlukan kerja sama yang erat antar-elemen pemerintah. Menggalinya untuk ditumbuhkan lagi kepada generasi muda (pelajar dan mahasiswa) agar tahu kesenian daerahnya yang dulunya pernah hidup dan menjadi bagian dari perilaku masyarakat Melayu Riau sebagai cerminan karakter yang kuat. Setidaknya kita dapat mengambil gambaran dari negara luar seperti Jepang yang mana sekecil apapun bentuk kesenian asli mereka—bahkan di ceruk kampung sekalipun—akan digali dan diupayakan hidup lagi. Toh, mereka (orang-orang Jepang itu) tidak takut, malu, atau pun risih dikatakan kampungan, bukan? Justru mereka bangga dan jumawa karena dapat menampilkan budaya asli mereka ke kancah dunia. Bahkan orang-orang kita ketika berkunjung ke tempat-tempat wisata lokal—yang di dalamnya menyediakan jasa pakaian adat itu—malah bangga mengenakan pakaian adat mereka (Kimono), ataupun juga sebangsa Asia Timur lainnya yang belakangan ini cukup digandrungi masyarakat yaitu pakaian tradisi Korea (Hanbok). Bahkan ada pula yang antusias untuk “menjiwai” bentuk kesenian negeri sakura dan ginseng itu pada kesenian teater, musik, dan lainnya.
Apakah itu tidak boleh? Boleh-boleh saja. Globalisasi budaya dunia memang tidak terbendung. Namun hal tersebut jangan sampai kebablasan (baca: lebai) sehingga generasi muda Melayu kita lupa dan alpa dengan budayanya, apalagi lebih jauh menjadi lupa diri dengan budaya luar. Alangkah baiknya, penanaman budaya lokal Melayu itu lebih diunggulkan, diutamakan, diprioritaskan dalam tiap pribadi mereka sehingga mereka tahu betul segala seluk-beluk, asal-usul, dan latar belakang (sejarah) segala perihal dunia Melayu itu sehingga dapat menyatu dalam diri mereka untuk terus mencintainya, sehingga pula diharapkan bisa membentengi segala gempuran budaya asing di era globalisasi ini. Kalau di Jepang tadi ada kesenian Kabuki dan Katarimono, tentu anak-anak muda Melayu kita bisa bersaing menguasai Nyanyi Panjang ini sebagai kesenian dari Pelalawan, ada pula Koba dari Rokan, Kayat dari Siak dan Kuantan.
Tapi setidaknya, kerisauan Griven sedikit tercerahkan karena beberapa tahun lalu, tepatnya 9 Oktober 2022 Dewan Kesenian Pelalawan menaja Festival Babalam Tingkat SD dan SMP sempena Hari Jadi Kabupaten Pelalawan ke-23. Kegiatan yang diikuti sejumlah pelajar ini sebagai sarana untuk kembali mencintai khazanah kesenian lokal. Seperti pula diakui oleh ketua DKP, Herman Maskar, “Agar generasi muda se-Kabupaten Pelalawan dapat mencintai seni-budaya mereka. Festival Babalam Nyanyi Panjang ini dilakukan sesuai dengan pembinaan yang diminta oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setelah mendapatkan sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang telah diakui keberadaannya di Pelalawan.” Sungguh ini kegiatan yang membangun dan luar biasa.
Berikutnya Griven mendedahkan tentang keistimewaan Riau sebagai negeri Melayu yang terbuka. Terbuka artinya masyarakat Melayu Riau sejak dahulu memiliki sikap tenggang rasa bagi para pendatang yang bertandang ke tanah Melayu ini. Hal itu telah terwujud dan terbukti sejak masa lalu. Seperti yang diuraikan Griven dari judul “Kerukunan Riau” ini. “Mencengangkan, itulah kata yang dapat diucapkan dan dirasakan ketika baru-baru ini disampaikan hasil survei dari suatu lembaga bahwa indeks kerukunan di Provinsi Riau pada 2019 berada di urutan 30 dari 34 provinsi di Indonesia.” Riau sebagai negeri Malayu yang sangat toleran membuka kedua telapak tangannya bagi siapa saja yang datang. Bukankah hampir di tiap belahan Bumi Lancang Kuning ini terdapat beragam suku bangsa? Bahkan merekapun telah beranak-pinak hingga menyatu, bersebati dengan orang-orang Melayu dengan sebaik-baiknya. Sehingga anak-anak dan keturunan suku pendatang tersebut kini telah bermetaformosis menjadi orang Malayu pula. Tidak heran, hampir dimana tempat kita jumpai anak-anak dari suku Jawa, Minang, Sunda, Madura, Bugis, Batak, Banjar, atau yang lainnya terdengar fasih berbicara bahasa Melayu Riau. Begitu pula dengan kaum Tiong Hoa yang sejak berabad lalu telah pula menjalin harmonisasi di sini dalam menjalani hidupnya dari generasi ke generasi. Seperti Griven sampaikan bahwa mereka tetap eksis dalam mempertunjukkan kesenian dari negeri asal mereka di bumi Melayu ini. Lihatlah kesenian tradisi Bakar Tongkang di Bagan Siapiapi yang hingga kini masih bergema dan memikat siapapun hingga menjadi kebanggan bersama masyarakat di sana.
Mengingat hal itu, di Selatpanjang juga kental dengan nuansa kaum Tiong Hoa sebagai masyarakat yang dominan. Selain banyak terdapat Kelenteng tempat peribadatan mereka, beberapa tahun terakhir tradisi Cian Cui pada setiap perayaan Imlek, menjadi sebuah rutinitas—yang awalnya hanya diikuti oleh kaum mereka—kini telah pula disemarakkan oleh masyarakat tempatan dan disambut pemerintah daerah setempat. Selain tentu pula banyak kesenian dari puak suku lain, seperti kesenian Reog dari Jawa Timur yang eksis tampil pada tiap perhelatan tertentu. Juga aneka kesenian dari suku Minang, Batak, dan lainnya yang turut menyemarakkan helat-helat tertentu, semuanya menunjukkan asimilasi budaya yang terdapat di bumi Melayu Riau ini.
Sebagai sosok budayawan, Griven tetap mengharapkan agar terus terjalin harmonisasi antarsuku bangsa di bumi Melayu ini. “Yang terpenting dan terbaik adalah membangun Riau ke depan supaya lebih harmonis, bahwa negeri ini pernah menjadi contoh di nusantara betapa tebuka dan rukunnya dalam menata kehidupan masyarakat dari berbagai suku, ras, dan agama. Bahkan berabad-abad lampau, raja atau penguasanya, dan masyarakatnya sudah mencontohkannya, sudah amat terbuka terhadap kedatangan pihak-pihak dari mana saja. Mereka menjadi masayarkaat yang hidup rukun, penuh toleran, damai, dan sejahtera.”
Kemudian Griven membawa tulisannya singgah pada biografi seorang tokoh bernama Daoed Joesoef. Siapa gerangan sosok ini? Adalah seorang tokoh penting pemerintahan yang pernah menduduki jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dari 1978 sampai 1983 dalam Kabinet Pembangunan III di era Orde Baru. Selain itu, sosok ini juga ternyata sebagai seniman (penulis karya sastra) yang pernah memiliki buku kumpulan cerpen bertajuk Teman Duduk. Daoed sebagai sosok yang berkarakter dalam menyikapi pekerjaannya dalam pemerintahan, seperti yang diuraikan Griven dalam tulisannya ini, “Selama kiprahnya menjadi menteri, kabarnya ada beberapa kebijakan Daoed yang dipandang kontroversi oleh beberapa kalangan, yaitu normalisasi kehidupan kampus yang intinya untuk membersihkan kampus dari kegiatan-kegiatan politik, karena tugas utama mahasiswa katanya adalah belajar. Dia juga mengeluarkan keputusan yang melarang liburan pada bulan puasa yang membuat sebagian kalangan menganggapnya sekuler.” Sosok Daoed Joesoef memang dikenal tegas, ulet, tangkas, dan cukup kontroversial. Namun tetap menunjukkan sikap lembut, rendah hati, wibawa, dan intelek. Ia, selain tunak di pemerintahan dan politik, juga dikenal sebagai penulis karya sastra. Kumpulan cerpen Teman Duduk menjadi tanda karyanya mampu menghiasi dunia sastra tanah air. Sayapun ingat sewaktu kuliah dulu, sempat menemukan buku kumpulan cerpen ini di sebuah toko buku.
Di sebalik kesuksesan itu, bagi sosok Daoed sendiri, hal itu bukanlah tanpa sebab. Dalam tulisan ini Griven mengisahkan bahwa Daoed sangat menghargai emaknya sebagai sosok “di belakang layar” yang telah mendidiknya dengan baik. Emak, bagi Daoed bukan hanya sebatas perempuan yang melahirkan, namun juga sebagai sosok multitalenta yang berpengaruh pada perkembangannya. Dikisahkan Daoed sendiri dari uraian tulisan Griven ini, bahwa emak Daoed tak jarang “bersikap tidak biasa”. Pernah suatu ketika ia bersama emaknya pergi ke suatu tempat tetapi melewati jalan yang tidak pernah ditempuh oleh orang lain, sehingga membuat mereka blusukan, penuh perjuangan untuk mencapai tujuan.
Namun dari situ, Daoed merasakan hikmah di balik perbuatan emaknya yang antimainstream itu, bahwa hal itu mengajaknya berpikir, merenung, tentang kehidupan yang saat dijalani kelak tidak selalu mulus, penuh onak-duri, terjal berbatu, curam-licin, bergulung ombak, dan cadas berduri. Hidup bukan sekadar yang tampak di mata, namun juga harus “tampak” di hati. Untuk itu, dalam menjalaninya, kita harus kuat rohani dan jasmani, kata Daoed. Memiliki bekal ilmu dan pikiran tajam sebagai strategi. Jalan terjal membutuhkan strategi untuk kita mampu melewatinya.
Suatu ketika, Daoed teringat kata emaknya, “Dalam menjalani hidup ini Nak, adakalanya kau akan sampai di jalan yang bercabang atau bersimpang. Bila demikan, jangan ragu memilih cabang atau simpang jalan yang kelihatannya kurang atau jarang di tempuh orang.” Lanjut emaknya lagi, “kalau kita tersesat bukan berarti kita hilang dalam perjalanan. Maka jangan ragu-ragu mengambil jalan yang tidak umum. Hasilnya bisa cukup memuaskan … contohnya lihat apa yang kau alami sekarang. Setelah orang-orang melihat hasil ini, lama-lama orang akan mengikuti langkahmu dan jalan ini akan menjadi jalan yang ramai. Tapi kau tetap yang memulai, yang merintis. Ini berlaku baik dalam arti harfiah maupun secara kiasan.”
Sosok Daoed Joesoef memang selalu memilih jalan yang tidak biasa, berbeda dari sosok pejabat lain. Dikisahkan oleh Griven dalam tulisannya tentang biografi Daoed ini, termasuk ketika Daoed menangani usaha penyelamatan candi Borobudur yang melihatnya dari banyak sisi. Menurut Daoed, candi tersebut sarat dengan nilai arkeologis, historis, spiritual, budaya, keilmuan, ekonomi, bahkan nilai politik. Sebagai seorang yang mencintai seni, dapat kita bayangkan pemikiran Daoed yang luas tentang aset sejarah bangsa. Meski peninggalan sejarah, namun bukan mutlak nilai sejarah saja, tetapi bermuara pula beragam nilai lain yang menjadi keunggulan yang patut dilestarikan.
Begitulah yang diingat Daoed dari sosok emaknya. Emak yang bukan saja sebagai perempuan yang melahirkan dan membesarkan namun juga sebagai “guru kehidupan” sejak kecil telah membentuk mentalnya menjadi kuat dan karakternya menjadi tangguh. Hal ini telah ditunjukkannya dalam meniti karir dalam dunia pemerintahan.
Membaca buku Memeluk Melayu Griven ini, bukan saja menikmati uraian opini seorang budayawan, sastrawan, pemangku adat, pegawai pemerintah, dan kolumnis, namun lebih jauh menikmati suntikan motivasi diri dengan kekuatan nilai-nilai keislaman dan semangat membangun kemelayuan. Secara metaforis lagi, memeluknya (Melayu) harus berani dan jangan ragu, untuk itulah harus mau. Sebab ia (Melayu) adalah persebatian kita; tanda diri, jati diri, menunjukkan puak yang berpijak di tanah bermarwah. Pantang berbuat ulah yang merugikan diri sendiri atau orang lain, namun cergas sebagai puak untuk menolak kebatilan, sekaligus ramah di mata umum sebagai puak yang terbuka. Untuk itu, sudah semestinya, prinsip tersebut harus senantiasa bersebati dijaga dan dilestarikan—apapun bentuknya—sampai kapanpun. Senada dengan semboyan yang tidak asing di telinga kita, “Takkan Melayu hilang di Bumi”. (*)
Selatpanjang, 6 November 2025
——————————————–
Riki Utomi penikmat sastra-budaya. Bukunya antara lain Mata Empat (cerpen), Sebuah Wajah di Roti Panggang (cerpen), Mata Kaca (cerpen), Anak-Anak yang Berjalan Miring (cerpen), Belajar Sastra Itu Asyik (nonfiksi), Menuju ke Arus Sastra (esai), Menjaring Kata Menyelam Makna (esai), Amuk Selat (puisi), dan Jelatik (novel). Karyanya pernah tersiar di Koran Tempo, Kompas, Suara Merdeka, Serambi Indonesia, Lampung Post, Riau Pos, Batam Pos, Tanjungpinang Pos, Majalah Sabili, dll. Juga terangkum dalam sejumlah antologi bersama. Kini bertugas di SMA Negeri 3 Tebingtinggi, Selatpanjang.