Mozaik : Ekonomi Etnografi

Ekonomi Etnografi

Sesungguhnya ada hal yang menarik tentang sistematika ekonomi Indonesia. Rancang bangun roda perekonomian Indonesia yang selama ini digaungkan adalah berlandaskan ekonomi kerakyatan. Asumsinya, bahwa kegiatan ekonomi lebih memberdayakan struktur kekuatan sumber daya masyarakat arus bawah, sektor mikro namanya  sebagai penopang kekuatan ekonomi nasional. Kita menyadari bahwa ekonomi bangsa Indonesia dibangun oleh kekuatan ekonomi kerakyatan, dan sebab itu pula pemerintah pun menjunjung tinggi ekonomi berbasis kekuatan rakyat arus bawah. Rakyat Indonesia yang berdiam di nusantara ini plus minus 235 juta jiwa adalah pangsa pasar potensial yang luar biasa besar. Bonus demografi memberi keuntungan tersendiri bagi pelaku pasar di negeri ini. Ketersediaan konsumen potensial telah dijamin oleh bonus demografi, dan tinggal bagaimana pelaku pasar memainkan orkestra dalam mendistribusikan barang dan jasa. Tentu saja semua ini mesti didukung kebijakan pemerintah.

Apa yang menarik dari pangsa pasar kita? Hal lain apa yang menjadi fenomena menarik terbentuknya sistem ekonomi kerakyatan? Dua pertanyaan ini nantinya tentu akan dijawab secara gamblang tetapi dengan pendekatan etnografi.

John D. Brewer (2000), menjelaskan bahwa etnografi merupakan ilmu yang mempelajari orang-orang dalam lingkungan atau kamunitas tersendiri yang terjadi secara alamiah dengan cara menangkap makna sosial dan aktivitas sehari-hari mereka guna mengumpulkan data lalu menginterpretasikannya dan memberi makna terhadap keseluruhan pengamatan yang dilakukan. Dengan demikian keseluruhan aktivitas masyarakat termasuk berkegiatan ekonomi adalah bagian dari etnografi. Hakikat etnografi adalah kajian budaya dan turunannnya; apakah bahasa (etnografi lingusistik), bercocok tanam, berkesenian (etnografi antropologi), berdagang (aliran barang), jual beli (transaksi), tukar menukar barang atau barter (ekonomi etnografi). Penegasan saya dalam tulisan ini adalah ekonomi etnografi yang dalam hal ini diwujudkan dengan pemberian makna.

Saya memberi batasan tulisan ini pada kasus budaya marosok. Marosok adalah salah satu bagian terpenting dalam budaya transaksi jual beli khususnya sapi di pasar ternak di Payakumbuh dan sejumlah kawasan di Sumatra Barat. Kegiatan ini sudah berlangsung ratusan tahun sehingga dapat dikategorikan sebagai budaya yang turun-temurun dilakukan para penjual atau pembeli ternak dengan menggunakan bahasa isyarat tangan. Hanya saja, marosok dilakukan  man to man  (berdua) dan harus kontak langsung dengan isyarat tangan tentu saja isyarat yang dipergunakan sudah dipahami secara bersama. Hakikat komunikasi sebagaimana yang dinyatakan Horald Laswell  bahwa adanya suatu komunikasi antara komunikator dan komunikan dengan pesan yang dimaknai secara bersama harus terjadi. Posisi komunikator dan komunikan dalam tradisi marosok adalah resiprocal dimana predikat komunikator atau komunikan disandang bersama.

Lebih daripada itu, substansi tradisi marosok adalah aktivitas jual beli yang dapat diartikan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi. Pada situasi itu ada barang (ternak), tempat (pasar ternak), dan alat (uang). Hal ini saja sudah memenuhi syarat sebuah kegiatan pasar. Tetapi dari tiga indikator itu sebagaimana disebutkan di atas bahwa sesungguhnya kegiatan ini adalah berupa ekonomi etnografi, maka ada nilai di situ. Sebagaimana pula hakikat etnografi adalah pemberian makna atas nilai keunikan yang ditemui. Nilai yang ditawarkan adalah norma yang disepakati secara turun-temurun yang diklaim sebagai budaya unik yang dilakukan oleh raja-raja Minangkabau terdahulu dan masih dilakukan oleh anak kemanakannya di tanah Sumatra Barat.

Pemaknaan yang dapat dipahami adalah bahwa tradisi marosok merupakan cerminan perilaku defensif. Orang-orang dalam kelompok itu terkesan protektif; hal ini dapat digambarkan oleh perilaku adanya transaksi secara tertutup. Pemaknaan secara semiotika ini memberi arti adanya ketertutupan atas sebuah perilaku. Topi, sarung, kain atau benda lain yang dijadikan sebagai alat untuk menutup gerakan tangan agar tidak diketahui orang lain adalah upaya untuk melakukan proteksi agar informasi tidak tersalur secara terbuka. Nilai keunikan ada pada model transaksi dengan pemaknaan yang telah diterangkan secara sederhana di atas.

Sebagai orang yang berminat terhadap penelitian, saya juga mendapatkan referensi serupa (mirip) terhadap budaya marosok. Dalam serial televisi Qin Epic yang diangkat dari kisah sejarah penaklukan dan pemersatuan tujuh negara di daratan Tiongkok oleh Dinasti Qin (221 SM-206M) ternyata ada juga transaksi di pasar yang dilakukan dengan isarat tangan yang mirip dengan budaya marosok. Tentu saja perlu kajian korelatif antara dua era dan dua budaya latar belakang berbeda.   

Dalam memandang aktivitas ekonomi pasar ternak dengan keunikan marosok, ini sebenarnya bisa dilakukan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi adalah sebuah disiplin ilmu dan studi inkuiri deskriptifyang meletakkan perhatiannya pada studi atas suatu penampakan (fenomena), akuisisi pengalaman, dan kesadaran mengenai pengalaman dan bagaimana pengalaman tersebut terbentuk. Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman subjektif dan intensionalitasnya. Studi ini kemudian mengarahkan pada analisis kondisi kemungkinan intensionalitas, latar belakang praktik sosial, dan analisis bahasa.

Oleh karena aktivitas marosok adalah bagian fenomena sosial kelompok masyarakat yang timbul dan disepakati oleh kelompk masyarakat tertentu, dapat dikategorikan sebagai social movement. Dapat dipahami bahwa social movement dapat dijajaki dengan beberapa disiplin ilmu dan bahkan bisa dilakukan secara bersamaan dengan mengkombinasi dua bidang ilmu berbeda (mixed approach).

Bagaimanapun, tradisi marosok adalah tradisi masyarakat Sumatra Barat yang mengandung keunikan dengan nilai-nilai lokalitas yang tinggi. Atribut yang disandangkan adalah bahasa isyarat dengan nilai kesepahaman yang dimaknai secara bersama.*

Penulis Adalah Dosen dan Cendekiawan
Bergelar :
Dr. NYOTO, SE, SH, S.I.Kom, MH, MM, M.M.Pd, M.I.Kom, Ph.D

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan