Mozaik : Menakar Rasa

Menakar Rasa

Wahid!. Dia bukan nomor melainkan satu nama pilihan dari sejumlah nama sahabat saya. Sekilas tentang dirinya. Kami sebaya, tetapi semasa sekolah, Wahid memilih bersekolah di STM Negeri di Lubuk Pakam, dan saya memilih SMA Negeri di Perbaungan. Tempat tinggal kami pun lumayan berjarak jauh; Wahid di desa Melati dan saya di desa Citaman Jernih tetapi masih dalam satu kecamatan. Kalau dihitung jarak ya sekitar 5 kilometeran.

Alkisah, di sekolah kami selalu mendapat tugas, misalnya menggambar bebas. Nah, ini bagi saya “bermasalah” karena memang tugas seperti ini menjadi beban tersendiri bagi saya. Untuk mata pelajaran kesenian seperti melukis atau menggambar saya memang lemah. Tentu saja hal ini tidak berlaku untuk mata pelajaran lain, yang rata-rata saya sangat menguasainya.

Tapi dasar saya tidak kehabisan akal, semua tugas selesai akhirnya karena ada “dewa” penyelamat yakni sahabat saya tadi, Wahid. Wahid memang bertalenta soal lukis melukis. Saya cuma sodorkan kertas gambar dan seperangkat cat air, dan selesailah tuagas itu dengan baik. Jujur saja, kalau saya boleh membandingkannya dengan teman-teman sekelas saya, sepertinya lukisannya jauh lebih bagus dari lukisan teman-teman sekelas waktu itu. Sekali lagi, Wahid memang bertalenta untuk itu.  Jelas saja, guru kesenian curiga, tetapi ya setakat curiga saja.

Tidak sekadar melukis, Wahid juga punya talenta lain; rambut saya dialah yang memotongnya. Saya masih ingat, ketika itu selalu kami duduk di samping rumah di tengah-tengah sawah karena memang rumah di sana berjauhan letaknya. Rasanya kalau sekarang amat sulit mencari suasana seperti itu lagi. Ndeso banget! Keakraban itu ternyata masih terpupuk sampai sekarang. Nah, tulisan ini terinspirasi olehnya karena kami bicara sudah pada taraf filosofis bukan pada taraf persahabatan yang biasa-biasa saja.

Sepertinya saya sulit juga untuk memulainya, karena sahabat saya bicara tentang segala ”rasa”. Ada banyak pertanyaan yang diajukan pada saya, misalnya” Bagaimana sih rasanya jatuh dari kesenangan? Bagaimana sih rasanya ketika orang tidak suka pada kita? Bagaimana sih rasanya kalau kita bekerja di tempat yang nyaman lalu dipindah ke temat yang belum tentu kita suka? Bagaimana rasanya ditinggal orang yang paling disayangi? Bagaimana rasanya dipermalukan orang? Dan banyak lagi pertanyaan yang serba “rasa” tentunya.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan