Pengalaman 25 Hari Keliling Eropa Tanpa Travel Agent : Oleh Tutin Apriyani

Pengalaman 25 Hari Keliling Eropa Tanpa Travel Agent

284

Pengalaman 25 Hari Keliling Eropa Tanpa Travel Agent

Oleh Tutin Apriyani

 

TAHUN 2014 menjadi momen berharga bagi saya dan suami, Fakhrunnas MA Jabbar, seorang sastrawan. Selama 25 hari, kami menjelajahi Eropa dalam sebuah perjalanan yang penuh cerita, budaya, dan pengalaman tak terlupakan. Biasanya di tiap negara, kami bermukim selama 2-4 hari kecuali di Paris yang selama seminggu.

Perjalanan ini bermula dari undangan Association Franco-Indonésien (AFI) di Paris. Fakhrunnas diundang untuk membacakan puisinya, “Ketika Paris Melambaiku,” dalam acara yang juga menjadi momen peluncuran novel ‘Pulang’ karya sastrawan Leila S. Chudori yang telah diterjemahkan ke bahasa Prancis.

Puisi “Ketika Paris Melambaiku” yang dihadiahkan kepada Direktur AFI, Johanna Ledere yang mengundang Fakhrunnas mendapatkan sentuhan istimewa ketika Nadia, seniman Indonesia yang bermukim di Belanda, membacakan versi terjemahannya dalam bahasa Perancis. Selain itu, di hari lain, Fakhrunnas turut berdiskusi di kantor AFI bersama para sastrawan dan pecinta sastra Prancis, termasuk penerjemah Michel Adini.

Selama seminggu di Paris, kami memanfaatkan waktu untuk menjelajahi berbagai sudut kota romantis ini, dari Menara Eiffel, The Arc de Triomphe-gerbang terowongan Jalan Di Pont De l’alma lokasi kecelakaan Lady Diana yang menggegerkan itu. Selanjutnya kawasan pusat perbelanjaan yang terkenal Champe lysse hingga Montmartre.

Arah jarum jam: Madrid, Utrecht, Belanda. Manekin Piss Brussel, Tembok Berlin Jerman, Roma, Milan, Paris.

Hal yang di luar dugaan, pada hari Jumat, Dr. Etienne Naveau, dosen senior perguruan tinggi Inalco dan istrinya Mira, orang Indonesia mengajak kami ke Masjid Raya Paris ‘The Grande Mosque’. Jadi sekalian suami menunaikan shalat Jumat yang jamaahnya ribuan orang dari berbagai bangsa hingga meluber di halaman masjid yang berupa taman hijau yang rindang. Kami bertiga menunggu di sebuah restoran yang berjarak ratusan meter dari masjid.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan mandiri tanpa bantuan travel agent, sesuatu yang memberi kebebasan luar biasa. Beberapa kota dan negara yang kami kunjungi meliputi Amsterdam (Amersfoort, Denhaag, Utrecht, Leiden, Rotterdam dllnya), Brussel (Belgia), Milan, Roma (Italia) Madrid (Spanyol) dan Berlin (Jerman).

Setiap kota menyimpan cerita sendiri. Dari kanal-kanal cantik di Amsterdam dan gedung- gedung tua yang bersejarah, Red Light-district (“kawasan lampu merah”)di Amsterdam yang juga dijadikan tempat wisata umum termasuk keluarga yang banyak dikunjungi wisatawan.

Berita Lainnya
Di depan Menara Eiffel

Di Belgia yang terkenal dengan coklat kami sempat mengunjungi landmarknya Manneken Pis yaitu patung anak yang pipis.. Banyak juga pengunjung menyaksikan patung ini. Sewaktu berada di Italia kami melihat keagungan Colosseum (tempat adu banteng ) dan Fontana di Trevi di Roma yang terkenal dengan lempar koinnya , konon akan kembali lagi berkunjung kesana. Memang setelah tidak bekerja lagi, saya beberapa kali kesana tanpa direncanakan. Apakah itu kebetulan atau memang faktor dari lempar koin yang tersebut (wallahu a’lam bishawab).

Dari Amsterdam kami terbang ke Milan yang terkenal dengan pusat mode dunia. Ada beberapa tempat untuk memperagakan fashion yang mau diluncurkan seperti Spazio Cavallerizze (Milan Fashion Week) dan Galleria Vittorio Emanuelle II (Pusat perbelanjaaan) di Piazza Duomo. Dari sinilah brand mode atau trend mode jadi panutan untuk fashion yang akan di luncurkan. Selama tiga malam di Milano dihabiskan untuk melihat keindahan kota mode yang terkenal tersebut. Salah satu motivasi mampir di Milan, kebetulan suami ingin membuktikan istilah ‘kopi espresso’ yang cangkir kecil sekali- dua kali teguk berasal dari Milan ini. Berdasar cerita seorang temannya yang pernah beberapa tahun mempelajari dunia lukis, kopi espresso’ disajikan bagi orang tak bisa berlama-lama santai di kafe.

Besoknya kami naik penerbangan pagi ke Berlin. Selain kehidupan malam yang memikat di Berlin, kami berkunjung ke Tembok Berlin yang dulu memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur yang semuanya meninggalkan kesan mendalam dalam perjalanan ini. Tembok itu penuh dengan lukisan mural yang warna warni.

Perjalanan kami berlanjut di kota Madrid, ibukota Spanyol. Kami mengunjungi sejumlah obyek wisata. Secara tak sengaja kami mampir di Stadion Santiago Bernabeu, markas kesebelasan Real Madrid FC. Sayang waktu sudah terlalu sore sehingga tak bisa leluasa melihat bagian dalam stadion.

Champs Elyysees, Paris

Untungnya, jadwal perjalanan kami sangat fleksibel karena tidak mengikuti agen perjalanan sehingga bebas mengatur jadwal dan memungkinkan kami menikmati setiap tempat tanpa terburu-buru.

Sebagai mantan pramugari maskapai penerbangan nasional terbesar sejak 1980 hingga 1993, saya sudah cukup terbiasa dengan perjalanan lintas benua.
Ini merupakan napak tilas buat saya. Namun, kali ini terasa berbeda. Tidak hanya menjadi pendamping suami dalam kegiatan sastra internasional, perjalanan ini juga menjadi ajang untuk mengenang kembali keindahan kota-kota dunia, memperkaya wawasan, dan mengukir kenangan baru bersama suami.

Satu hal, perjalanan antar negara itu sering kami lakukan naik pesawat. Di Eropa, ada juga maskapai low cost carier seperti Airasia yakni Easy Jet, Ryan Air dan beberapa lagi. Sebab harga tiket naik pesawat jauh lebih murah dibanding kereta cepat. Bedanya bisa mencapai Rp. 1-2 juta. Bahkan orang-orang Eropa lebih suka naik kereta api karena tidak ribet dengan pemeriksaan detektor dan pemeriksaan yang ketat.

Perjalanan 25 hari ini tidak hanya tentang jarak yang ditempuh, tetapi juga tentang hubungan manusia, budaya, dan sastra yang mengikat berbagai bangsa. Bagi kami, ini adalah petualangan sekaligus penghormatan terhadap keindahan dunia.***

Hj. Tutin Apriyani, SE adalah pramugari maskapai pemerintah 1980-1993, pernah terbang bersama rombongan VVIP Presiden Soeharto. Pensiun tahun 2018.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan