Pentigraf : Pinggan Pecah – M. Rizal Ical

Pinggan Pecah

Rahmi gelisah, sudah pukul sepuluh malam, Zainal, sang suami tak pulang-pulang. Biasanya, menjaring ikan pada musim seperti ini, tiga jam pergi sudah tiba di rumah. Dari pukul lima sore tadi hingga sekarang tak juga nampak batang hidung Zainal. Ada apakah gerangan? Rahmi semakin gelisah. Untuk mengusir rasa tak menentu, Rahmi menuju dapur. Dia menuju ke tempat cucian pinggan. Satu persatu pinggan dicuci dan dibilas. Pinggan-pinggan yang sudah bersih diletakkan di rak. Ketika beberapa pinggan sudah tertata rapi, salah satu pinggan terhempas ke lantai. Pecah berkecai. Semakin bertambah lagi risau di hati rahmi.

Rahmi teringat mitos yang berkembang dan menjadi kepercayaan masyarakat turun temurun bahwa pinggan pecah menandakan ada musibah yang menimpa anggota keluarga. Kerisauan yang melanda semakin menjadi-jadi. Butiran air mata mulai mengambang dan siap mengucur deras.

Rahmi membuka pintu rumah, angin dari arah laut bertiup kencang.ditambah ribut dan petir mulai terdengar. Kecamuk bertambah menjadi-jadi. Rahmi melangkah kaki membelah malam. Jalan setapak menuju muara sungai ditelusurinya dengan lampu senter tergenggam kuat. Sampai di simpang terdengar suara batuk yang sangat dikenalnya. Rahmi mengarahkan lampu senter ke arah suara batuk. Zainal sedang membawa satu keranjang besar ikan Terubuk dan ikan-ikan lain. “Alhamdulillah, sayang! Hari ini hasil tangkapan luar biasa,”  Zainal tersenyum. Rahmi memeluk suaminya tanpa menghiraukan bau anyir dari tubuh sang suami.

Pinggan: Piring

Rumah Cinta, 12 Oktober 2020

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan