Perahu Kata : Puisi-puisi Zulfadhli – Tambang Hijau

Pengasuh : Bambang Kariyawan Ys

Tambang Hijau

pada tali tali itu
engkau serahkan hakikat azali
sembari berharap menjadi pamungkas
akan peritnya hidup
pahitnya realitas
sunsangnya napas

ada jiwa yang tercabik
merekam sukma
merenggut sakit
kau lupakan itu semua
termamah serpih, sebongkah kesumat
oh hidup, alangkah indahnya
alangkah singkat, bisikmu

pada tali tali itu
kau jeratkan pipa kerongkongan
sampai tak bisa
tersedak terbungkas

pada syurgamu, engkau kecewa
pada baktimu, kau kandaskan
di tali hijau sejerat pilu.

(Bagansiapiapi, 17 Maret 2021)


Ode Ibu yang Menggendong Bayinya Melintasi Sungai

Pada ibu yang membawa napas ke dunia
menuntaskan pada pertelagahan arus sungai
Sungai Batang Kumu

Kita berpelukan erat, selaksa penuh kasih
Aku dan kau, bisik bayi itu, adalah darah yang satu
dari rabu yang berpadu

Kala ibu menggendong, membawa menyisiri sampan kelabu itu
tertangkap ciap-ciap burung merdu
sedesiran angin biru
dan segejolak air nan lembut merayu

ibu dan aku, katanya, bersitarung di kobaran air pekat
di balik ancaman ranum gigi-gigi buaya
di Sungai Batang Kumu

Pada akhirnya ibu kembali
dan aku, bisiknya, mengapung setengah harian setelahnya
dekapku selalu, untuk mu bu tersayang.

(Teringat tragedi bayi terjatuh dan hanyut di Sungai Batang Kumu, Rohil pekan lalu. 17 Maret 2021)

Lelaki Pembuat Kopi

Setiap sore, menjelang malam melabuhkan tingkap
lelaki itu mengaduk kopi khidmat
satu gelas, dua sendok butiran pekat
gula pasir
dan setuangan air hangat

kekasihnya datang membuka jendela
‘Mari kita menikmati pemandangan aliran sungai, dari atas jembatan Pedamaran”
di bawah temaram cahya bulan
jika beruntung, diselingi meteor jatuh
lalu kau bisa memanjatkan doa
katanya tersengal

Tapi lelaki itu
sudah terperangkap, pada rutinitas yang terbangun awal
kali ini, adalah kali berikutnya
“Masa-masa mengaduk kopi”
dan tuan-tuan ramai berdatangan.

dia mendapati aroma kopi
berpulun membungkus sebati
didapatinya senyuman puas para pelanggan
tapi kekasihnya telah menikmati purnama bersama yang lain.

Zulfadhli, merupakan reporter sebuah harian di wilayah Rohil. Pernah meraih nominator penulisan Novel Ganti Award 2006 dengan judul Novel “Kehilangan Jembalang”, pernah meraih anugerah jurnalistik Sagang (2012), telah menghasilkan karya tulis “Buku kumpulan cerita rakyat pesisir,” bersama penulis Murkan Muhammad, buku puisi “Kampung Halaman”. Kini bermastautin di Bagansiapiapi.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan