Puisi Memilh Jalannya Sendiri: Catatan Shafwan Hadi Umry

83

Ada dua puisi tentang ulang tahun yang diturunkan di bawah ini.
Balada ulang tahun (1)
Pro .Siti

Setiap usia yang dikemas masa
ada baik dan buruknya
ada indah dan getirnya

seperti bunga di musim hujan
ada kuntum yang disimpan
menjadi putik menjelma buah
beraroma berkah

Maka ucapkanlah
selalu alhamdulilah
baik buruknya jalan usia
karena kita tidak tahu rahasia Allah
Kecuali taat untuk-Nya.

Medan, 1 Mei 2025

Poetry :
Birthday Ballad
Pro. Siti

Every age wrapped in time
Has its good and bad
Its beauty and bitterness
Like flowers in the rainy season
There’s a bud that becomes a fruit
Fragrant with blessings
So let’s always say alhamdulillah
For the good and bad of life’s journey
Because we don’t know Allah’s secrets
Except to be obedient to Him

Tulisan Terkait

Medan, May 1, 2025

Selamat Ulang Tahun (2)

Selamat ulang tahun
ulang tahun wak Selamat
Wak Selamat ulang tahun
Makin diulang
Makin nggak selamat …
(Puisi Abrakadabra, 1980 Si Poles)

Jikalau pada puisi ulang tahun (1) menampilkan renungan tentang perjalanan kemusafiran seorang manusia baik buruk, dan manis getirnya hidup yang dijalani maka puisi berjudul “Selamat Ulang Tahun (2) ini ditulis seperti ’main-main’ akan tetapi maknanya cukup mencengangkan karena puisi ini mengajak pembaca merenungkan bahwa usia manusia semakin lama semakin berkurang. Cobalah kalau manusia berumur 25 tahun kemudian setelah berumur 40 tahun maka ada tanda tolak yakni pengurangan dua usia itu menghasilkan umur 15 yang berarti semakin berkurang.
Pada Rumah Puisi Taufiq Ismail di Bukit Tinggi Sumatra Barat, para pengunjung disuguhi arti puisi. Pertama puisi itu menari ibarat penari topeng yang menari dengan kata-kata. ”Saya suka puisi, tetapi tidak suka penyair” (Marlyn Monroe). Kemudian Jhon F Kennedy menyatakan, “Apabila kekuasaan korupsi maka puisi membersihkan” ..

Ketika guru bertanya di sekolah, “Apa isi puisi ini?”, murid bisa menjawab, “Yang penting bukan isinya, Bu. Tapi rasanya.” Guru pun tersenyum, lalu berkata, “Nilai kamu A.

Puisi menempuh jalannya sendiri. Sebuah jalan yang mungkin tak pernah ditempuh orang lain. Seperti kata Robert Frost, ”Suatu jalan bersimpang dua di hutan/dan aku/Aku ambil jalan yang sunyi /dan itulah yang membedakan segala-galanya“. Penyair Charil Anwar lahir di Medan berteriak ”Aku ini binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang. Kemudian kata-kata ini mirip dinyanyikan Frank Sinatra. ”I do it my way”. Puisi tidak pernah tamat dan ia seperti yang dikatakan para pujangga bahwa ”Old poets never die, the just fade away”. Karya penyair tidak akan pernah hilang meskipun para penyairnya telah hilang dalam kenangan.

Medan, 5 Mei 2015

 

 

 

 

 

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan