Puisi Palestina, Pipit Tanpa Kepak: Catatan Shafwan Hadi Umry

716

Membaca dua puisi penyair Palestina adalah membaca puisi perlawanan sejak dahulu sampai kapanpun tetap menyisakan puisi-puisi bernuansa tragedi, atas kekerasan, ketidakadilan dan pertarungan hidup-mati yang tak kunjung padam melawan kezaliman zionis Israel.
Dengan diberlakukannya sistem kekuasaan militer dalam Undang-Undang Pertahanan yang diperkenalkan oleh Kerajaan Inggris dalam tahun 1945, memberi kuasa penuh kepada para gubernur militer Israel untuk menyingkirkan siapa saja, menahan seseorang tanpa pengadilan dan membuang negeri serta merampas harta warga Palestina dan sebagainya.
Kaum militer Israel memusnahkan sebilangan kampung Arab dan memaksa mereka berpindah ke kampung lain dibawah kekuasaan Israel. Kebijakan ini menyebabkan menurunnya semangat intelektual dengan eksodusnya sejumlah cendekiawan dan sastrawan Palestina dan mereka keluar negeri lain termasuk dunia sastra Arab Palestina yang tidak lagi menonjol dalam perbincangan sastra dunia.
Hal ini menyangkut nasib dua penyair terkemuka Palestina yang bernama Mahmud Darwish dan Harun Hashim Rasyid (Bukhari, 1987). Kemudian para penyair Palestina yang tinggal di luar pendudukan Israel dikenal mengusung tema dan perlawanannya seperti Ibrahim Jabra Ibrahim, Salma al-Khadra serta Fadwa Tuqan.
Puisi Darwish memberi tiga tematik puitik, yaitu Arabisme, pemberontakan, dan harapan untuk masa depan. Sebuah puisi yang menarik untuk diangkat dalam tulisan ini adalah puisi “Pipit Tanpa Kepak”. Pemakaian metafora ‘pipit tanpa kepak’ menyuarakan ketidakbebasan dan keterikatan untuk pembebasan tanah air dan hak azasi manusia. Iapun menulis:
Kanak-kanak kami berserak
Tanpa rumah, tanpa alas kaki
Lenyap, semua lorong menuju kebuntuan
Terpadam, dalam kesengsaraan dan kekurangan
Karena mereka, karena janji mereka aku berjuang!
Penyair al-Qasim menceritakan kisah tanah air dan bangsa Palestina seperti kezaliman yang dilakukan pihak musuh mereka . Dalam puisi “Darahku di Tapak Tangan”, ia berseru:
Tuan-tuan dari seluruh pelosok!
Biarkan aku malu bertukar ke wabah penyakit
Deritaku menjadi ular berbisa

Duhai sepatu hitam berkilat!
Dari segenap lingkungan
Balas dendamku lebih besar
Daripada suaraku dan usia pengecut

Kemudian Penyair Palestina yang lain yakni Harun Hashim Rasyid (lahir 1930) menulis tentang Palestina.
Orang Palestin
Orang Palestin
Namaku orang Palestin
Dengan sejelas tulisan
Kuukir namaku
Pada segala medan tempur
Jauh melebihi segala gelaran

Huruf namaku berpegang erat padaku
Hidup bersamaku, memberiku makan
Mengisi jiwaku dengan api
Berdenyut melalui urat nadiku

Orang Palestin
Itulah namaku…akupun tahu
Ia menyiksa dan menyedihkanku
Mata mereka memburuku
Karena namaku orang Palestin
Mengejar…melukaiku
Sebab namaku orang Palestin
Seperti yang mereka inginkan
Menyebabkan aku mengembara

Telah kualami seluruh hidupku
Tanpa sifat dan keistimewaan
Seperti yang mereka inginkan
Padaku diberi nama dan gelaran

Berita Lainnya

Penjara dengan pintu-pintu terjebak luas
Memanggil daku
Dan di segalala pangan terbang dunia
Kan tersua nama dan gelaranku
Angin pendusta membawaku
Membubarkan dan melipatku

Kemudian seorang wanita penyair Salma al-Kadra yang pernah mengenyam pendidikan barat menghasikan sebuah antologi puisi (edisi1960) menyampaikan deklarasi puisinya.
Ratapan Para Syuhada

Kutahu mereka gugur membela tanah airnya
Bumi ini bumi pejuangan darah melimpah
Kutahu inilah harga kemerdekaan
Suatu yang indah, berukir rintihan
Kutahu duka di rimba hatiku tidak siapa yang tahu
Kutangisi setiap mata yang hilang sinar hidupnya
Kutangis roh yang mengalir pada bibir semata

Ingatlah
Duhai Sungai kekayaan yang melimpah subur
Kau bumi zamrut dan mutiara
Kiranya menjenguk cahaya rembulan bulan purnama
Kaulah bintang di bumi keemasan cahaya
Kaulah air terjun yang mengalir di pagi bening
………..
Beginilah mereka menyongsong maut, selainnya
Masih mengikut lorong yang sama
Mereka mimpikan takdir yang tak bias dihindari
Generasi pengorbanan!

Penutup
Bulan Oktober 2023 ini sejarah perang di Gaza mengulangi jejaknya yang menimbulkan korban nyawa dan harta. Sebuah tragedi yang mengambil istilah puisi Palestina yakni ‘tanpa kepak sayap burung’, sebuah kemerdekaan tidak akan terbang bebas dan terwujud serta terjadi tanpa hak kebebasan, kemerdekaan dan keadilan. Semoga!

Medan,12/10/2023

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan