Puisi-Puisi Suseno

2

Ketika Nur Itu Bernama Muhammad

Pada malam yang tua,
langit menumpahkan bintang-bintangnya
ke dalam mata padang pasir
Angin yang sekian lama kehilangan arah
tiba-tiba belajar berdoa

Di antara bukit-bukit yang membisu,
sebuah cahaya lahir
Bukan sekadar cahaya,
melainkan fajar yang mengajari matahari
cara menyapa bumi

Namanya Muhammad.
Ia datang ketika zaman
menjadi gurun yang kehausan kasih,
ketika hati manusia
lebih keras dari batu-batu Ka’bah
Ketika pedang berbicara lebih lantang
daripada nurani

Lalu ia hadir
seperti hujan
di atas tanah yang retak,
seperti embun
di kening bunga yang letih,
seperti bulan
yang menemukan kembali jalan pulangnya
di antara awan

Muhammad,
engkau bukan hanya nama
yang bergetar di bibir-bibir kami
Engkau adalah sungai
tempat dahaga kemanusiaan, kompas
bagi jiwa yang tersesat, oase di tengah padang pasir, lentera di lorong-lorong zaman yang semakin gelap

Hari ini kami mengenang kelahiranmu,
namun sesungguhnya,
yang kami rindukan bukan sekadar perayaan,
melainkan kelahiran kembali
cahaya akhlakmu
di dalam dada kami

Sebab dunia kembali gaduh, ya Rasulallah
Dan manusia kembali sibuk
membangun tembok
di antara sesamanya

Maka datanglah
bukan dengan langkah kaki,
tetapi dengan ajaranmu
yang kami hidupkan

Lahirkanlah Muhammad
dalam kejujuran kami,
dalam kasih kami, dalam tangan yang gemar menolong,
dan dalam hati
yang masih sanggup memaafkan

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Sebab Maulid bukan hanya
tentang mengenang sebuah kelahiran,
tetapi tentang bertanya
kepada diri sendiri :

Sudahkah Nur Muhammad
benar-benar lahir
di dalam kehidupan kita ?

(Bengkalis, 12 Rabiulawal 1448 H)

Jejak Jejak Pengabdian Yang Tak Pernah Pulang
(Kepada Drs. Yusmanto)

Hari ini,
waktu menutup sebuah bab,
namun kenangan enggan menutup pintunya

Sewindu engkau menjadi lentera,
menerangi langkah kami di lorong pengabdian.
Menjadi nakhoda,
mengarungi gelombang demi membawa madrasah ini
menuju puncak menara gading

Kini, langkah itu berhenti di dermaga,
bukan karena perjalanan usai,
tapi tersebab saatnya menikmati
indahnya mentari di luar pengabdian

Mungkin esok,
kursi itu tak lagi ditempati,
suara itu tak lagi terdengar,
namun jejak langkahmu telah menjadi tinta emas
yang takkan terhapus oleh waktu

Terima kasih atas segala pengabdian
Maaf kami atas segala kekhilafan

Jabatan boleh berakhir,
tetapi keteladanan akan terus berbicara
Pengabdian boleh usai,
tetapi namamu akan tetap tinggal
di hati kami

Selamat purna tugas
Bapak
Pergilah dengan bahagia
karena benih yang engkau tanam
telah tumbuh menjadi pohon kenangan
Dan jejak jejak pengabdianmu tak kan pernah pulang.

(Bengkalis, 19 Juli 2026)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan