Seperti biasa, Pak Jamian memang selalu pergi lebih awal ke sekolah. Walau dia masuk mengajar pada jam ketiga, kelima atau pun jam terakhir, dia tetap pergi lebih awal sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Baginya sekolah tempat ia mengajar adalah bagian dari taman sur-ga. Sangat bahagia baginya apa bila dia dapat bertanya kabar kepada murid-muridnya, bercengkerama ala kadarnya, dan juga untuk mendengar cerita lucu mereka.
Di ruang majelis guru, beberapa orang guru telah datang. Mereka bercerita apa yang te-lah mereka alami semalam. “Semalam anakku yang sulung datang. Dia menuntut janji papinya, kalau jadi kepala dinas, dia akan dibeli mobil,” kata seorang guru wanita cantik yang bernama Ibu Ida Ayuni Ayu Jaza kepada rekannya.
“Iya Bu, selamat ya Bu, Bapak telah jadi kepala dinas pendidikan,” sambut lawan bicaranya.
Yang memberi ucapan dan diberi ucapan bersalaman sambil tersenyum. Guru-guru yang lain juga ikut memberi ucapan selamat, begitu pula dengan Pak Jamian. Pada kesempatan itu juga, Ibu Ida mengatakan bahwa dia tak bisa masuk mengajar pagi itu, karena akan men-dampingi suaminya ke kecamatan.
Lonceng tanda waktu masuk kelas berbunyi. Setiap guru menuju ke kelas masing-masing. Murid-murid yang ada guru di kelas semuanya diam. Hanya satu kelas yang masih ribut. Hampir bisa dipastikan di kelas itu tidak ada guru yang masuk.
Dengan cepat Pak Jamian menuju ke kelas, setelah mengetahui Ibu Ida tidak dapat ma-suk pagi itu. Melihat yang masuk kelas adalah Pak Jamian, seluruh murid bersorak gembira. “Maaf anak-anak. Bapak yang masuk lebih dulu pagi ini, Ibu Ida berhalangan untuk masuk. Nanti di jam ketiga kalau sempat baru beliau pula yang masuk,” kata Pak Jamian mengawali pengajaran di kelas paling ujung itu.
“Hore…,” sambut murid-murid serentak.
Pak Jamian yang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia memulai bab baru pelajaran. Puisi menjadi pelajaran di pagi itu. Setelah menyampaikan makna puisi dan siapa sasatrawan yang terkenal dengan puisi-puisinya, kini sang guru menyuruh murid-muridnya satu persatu membacakan puisi. Setiap murid yang membacakan puisi diberi nilai.
Baru satu jam berada di dalam kelas. Tiba-tiba bapak kepala sekolah berdiri di muka pintu. Pak Jamian yang sedang mendengar murid yang bernama Hambali membaca puisi, sege-ra menghampirinya. “Ada apa Pak? Apa yang perlu saya bantu?” Pak Jamian menyapa dengan penuh takzim.
“Kenapa Bapak yang masuk kelas sekarang? Ini kan jadwal Ibu Ida?” tanya bapak kepala sekolah.
“Tadi Bu Ida tak bisa masuk, dia mendampingi suaminya ke kecamatan,” jawab Pak Jamian.
“Tak bisa begitu. Harus izin saya dulu kalau mau masuk kelas,” kata bapak kepala sekolah.
Kepala sekolah mengeluarkan telepon genggam dari sakunya. Agak menjauh dia dari guru honorer itu. Terlihat perbincangan antara kepala sekolah dan Bu Ida. Tapi tak tahu apa yang mereka perbincangkan. Tangan kepala sekolah bergerak-gerak ke atas dan ke bawah, sep-erti seorang dirigen memimpin orchestra. Beberapa menit kemudian perbincangan keduanya selesai.
“Begini Pak Jamian. Ibu Ida mengatakan, dia tak pernah menyuruh Bapak menganti-kannya mengajar di kelas. Cuma Pak Jamian saja yang mau masuk kelas. Kalau begitu, henti-kan pelajaran Bapak sekarang. Biar saya saja yang masuk.”
Bergegas Pak Jamian masuk ke dalam kelas. Kepada murid-muridnya dia berkata, pela-jaran Bahasa Indonesia nanti akan disambung lagi pada jam ketiga. Untuk saat ini kepala sekolah yang masuk. Setelah memberi salam, dia keluar lalu menuju ke ruang majelis guru. Se-lanjutnya, bapak kepala sekolah pula yang berdiri di depan kelas.
Tiba-tiba sebuah pesan pendek masuk di telepon genggam Pak Neces, demikian nama bapak kepala sekolah. “Pak, tolong sms-kan nama ponakan bapak yang mau menggantikan Pak Jamian. Pak Kadis mau buatkan SK untuknya”.
Dengan cepat, sambil duduk di kursi, Pak Neces membalas pesan singkat itu, “Reskia,” dengan cepat pesan itu terkirim. Pesan singkat balasan pun muncul lagi, “Cari alasan yang te-pat ya Pak untuk memberhentikan beliau dengan tidak hormat”. Balasan pesan singkat itu terkirim lagi, “ Oke Bu. Salam untuk Pak Kadis.”
Setelah berbalas-balasan pesan singkat antara kepala sekolah dan istri kepala dinas, maka dia pun berdiri lagi untuk memberi pengarahan. “Begini anak-anak, saat ini dunia telah maju. Manusia dituntut untuk tidak lagi berkata panjang lebar. Cukup kata oke, siap, siip, maka semuanya sudah terselesaikan. Ini bukan zamannya lagi untuk berpuisi. Berpuisi sudah ketinggalan zaman. Berpuisi pada zaman perjuangan bertujuan untuk mengusir penjajah. Ber-puisi di zaman sekarang untuk siapa?’ kata bapak kepala sekolah sambil bertanya. Namun tak ada yang berani menjawab.
Selanjutnya, bapak kepala sekolah berbicara tentang teknologi. Tentang komputer. Ten-tang pertanian. Tentang pembangunan. Tentang gajinya yang besar ditambah lagi dengan tun-jangan sertifikasi guru, tujungan fungsional, tunjangan kepala sekolah dan gajinya sebagai peg-awai golongan IV. Tak ketinggalan pula dia mengatakan bahwa dia tak pernah menulis puisi, namun hidupnya tetap sukses. Murid-murid semua terdiam. Kemudian kepala sekolah me-nyudahi celotehnya di kelas setelah lonceng jam kedua berbunyi.
Dengan wibawa kepala sekolah meninggalkan ruang kelas. Dia berjalan segak menuju kantornya. Seorang pegawai tata usaha disuruhnya memanggil Pak Jamian.
“Izin Pak. Benar bapak menyuruh saya menghadap,” sapa Pak Jamian kepada kepala sekolah yang kelihatan tidak berkenan mamandang wajahnya.
“Iya, duduk,” kata kepala sekolah.
Pak Jamian duduk. Kepala sekolah menghela nafas panjang sambil mengusap janggut-nya yang tak seberapa lebat, namun dapat mewakili partai yang dia dukung.
“Begini, Pak Jamian. Pertama, yang ingin saya sampaikan adalah bapak telah telah me-langgar disiplin sekolah. Karena itu sesuai jabatan saya, dengan sangat terpaksa saya harus mengeluarkan surat peringatan pertama untuk Bapak. Tembusannya saya sampaikan ke dinas pendidikan,” kata bapak kepala sekolah sambil menyerahkan selembar surat yang terbungkus dalam amplop.
“Kedua, saya berpesan kepada Bapak, jangan ajari lagi murid-murid buat puisi. Ingat, program pemerintah sekarang, tidak ada membina puisi dalam pembangunan.”
“Iya Pak. Tapi materi di buku Panduan Pelajaran Bahasa Indonesia memang ada tentang puisi,” jawab Pak Jamian.
“Abaikan saja. Itu kurikulum buatan pemerintah yang dulu,” kata kepala sekolah.
Jam pelajaran ketiga telah pula masuk. Agak lambat sepuluh menit Pak Jamian masuk ke kelas. Ketika ia berdiri di depan kelas. Seorang murid wanita berkata, “Pak, yang selanjut-nya baca puisi saya lagi Pak.” Kemudian si murid langsung berdiri di muka kelas menghadap teman-temannya.
Sejenak Pak Jamian termenung. Tak sempat berbicara apa pun dia untuk memulai pela-jaran, sebab telah dimulai lebih dahulu oleh muridnya.
“Silakan Nina,” kata Pak Jamian.
Nina pun mulai membacakan puisi. Selanjutnya satu persatu murid tampil ke depan membacakan aneka puisi. Setiap pembacaan puisi diakhiri dengan tepuk tangan.
Hingga akhirnya, ketika Syahbana usai membaca puisi, lonceng pun berbunyi, tanda jam pelajaran itu telah usai. Syahdan tampil menunjuk jarinya. “Pak, giliran saya lagi.”
“Tak bisa Syahdan, lonceng telah berbunyi,” jawab Pak Jamian.
“Jadi bagaimana dengan nilai saya?” desak Syahdan.
“Besok kita sambung lagi. Karena kamu membaca puisinya besok, saya tugaskan kamu membaca puisi yang kamu buat sendiri,” tangkis Pak Jamian.
Pak Jamian keluar dari ruang kelas. Pegawai tata usaha yang tadi memanggilnya, kini datang lagi mejemputnya untuk menghadap bapak kepala sekolah.
“Sudah saya peringatkan tadi. Tapi Bapak masih juga menyuruh anak-anak membaca puisi,” kata bapak kepala sekolah.
“Saya ingin merubah ke materi yang lain Pak. Tapi anak-anak itu telah memulai pula dengan puisinya,” jawab Pak Jamian.
“Di kelas guru yang berkuasa. Bukan murid. Bapak telah melanggar peraturan, tidak taat dengan perintah pimpinan. Karena itu dengan berat hati SP 2 saya keluarkan. Ingat ini Pak Jamian. Kalau sampai SP 3 yang keluar, dengan sendirinya Bapak berhenti menjadi guru di si-ni!” Demikian bapak kepala sekolah menegaskan.
Pak Jamian kembali ke ruang majelis guru. Tak banyak yang dapat dibuatnya pada hari itu. Dia lebih banyak termenung.
Lonceng terakhir sekolah berbunyi kencang. Seiring dengan itu suara sorak sorai murid-murid dari tiap-tiap kelas terdengar dengan keras. Mereka semua gembira pelajaran telah usai dan akan segera pulang.
*****
Di rumah, setelah makan siang ia mengajarkan Zainab mengaji. Begitulah kesehariann-ya. Pak Jamian adalah seorang lelaki duda, dia ditinggal mati oleh istrinya sejak kelahiran anak mereka Zainab. Telah delapan tahun berlalu dia membesarkan anaknya bersendirian. Dia men-jadi ayah sekaligus ibu bagi Zainab. Mencuci, menyeterika, memasak, membersihkan rumah dan halaman, semua dilakukannya sendiri. Mujur kini Zainab telah mulai besar, sedikit demi sedikit dapat juga menolongnya.
Menjelang tidur malam, bagaimana dalih dan akal untuk memberhentikan pembacan puisi di kelas telah dipikirkannya. Dia berprinsip seperti menarik rambut dalam tepung, rambut jangan putus dan tepung pun tidak berserak. Dia telah tahu apa yang akan dia lakukan besok di kelas.
Fajar mulai menyinsing. Pak Jamian telah selesai memasak sarapan pagi, sekaligus makan siang untuk dia dan Zainab. Diajaknya anak sematang wayang, titipan bunda bidadari surga itu sarapan.
Kemudian mereka berdua pun bergerak ke luar. Setelah mengantar Zainab ke sekolah, Pak Jamian melanjutkan pula perjalanan bersepeda motor tuanya menuju ke sekolah tempat dia mengajar.
Di muka kelas, selepas memberi salam pembuka, Pak Jamian membuka buku panduan mengajarnya. “Anak-anak, sekarang kita masuk pokok bahasan baru,” kata Pak Jamian memu-lai pelajaran.
“Pak, pelajaran semalam belum selesai. Saya belum membacakan puisi,” kata Syahdan sambil mengacungkan telunjuk.
“Tak apa Syahdan. Nilai kamu juga telah baik,” jawab Pak Jamian.
“Bukan begitu Pak. Saya telah membuat puisi terbaik untuk Bapak. Walau tidak diberi nilai, saya mohon kiranya Bapak sudi mendengarkan puisi saya,” pinta Syahdan.
Pak Jamian iba dan terpana mendengar penuturan Syahdan, sang juara kelas yang ber-cita-cita tinggi ingin jadi sastrawan dunia. Antara mempertahankan pekerjaannya sebagai guru dan ancaman pemberhentian dari sekolah beradu di dalam pikirannya. Tiba-tiba dari mulutnya keluar kalimat, “Syahdan, silakan ke depan. Bacakanlah puisi terindahmu itu.”
Syahdan tampil ke depan. Dengan penuh semangat dia membacakan puisi. Berdecak ka-gum teman sekelas mendengar puisi si “Kahlil Gibran” kecil. Rembesan air mata bening tam-pak berlinang di kelopak mata Pak Jamian. Dia menghayati puisi si sastrawan cilik sedalam-dalamnya.
Tak berselang lama, seorang pegawai tata usaha muncul di muka pintu kelas. “Permisi Pak, Bapak dipanggil pak kepala sekolah sekarang juga!” katanya dengan tegas.
Pak Jamian segera memberhentikan Syahdan yang sedang membaca puisi. Syahdan ter-henti membaca puisi, mukanya merah padam. Lalu melakukan protes, “Tapi Pak, ini tinggal dua baris saja lagi.”, katanya.
“Nanti disambung di lain kesempatan,” jawab Pak Jamian pelan.
Pak Jamian pun bersegera meninggalkan kelas. Pandangan mata murid-murid terus mengikuti langkahnya hingga dia tidak kelihatan. Pandangan itu sebagai tanda mereka tak rela ditinggalkan begitu saja, dan berharap agar gurunya segera kembali ke kelas lagi.
Di ruangan kepala sekolah, dua orang pegawai tata usaha telah duduk di kursi tamu. Pak Jamian dipersilakan duduk.
“Telah dua kali surat teguran saya sampaikan kepada Pak Jamian, namun tidak ada rasa hormat Bapak untuk mematuhinya. Karena itu, dengan sangat terpaksa saya mengeluarkan SP 3 ini.” Demikian kepala sekolah berujar sambil menyodorkan selembar surat terguran terakhir, sekaligus surat pemberhentian dengan tidak hormat.
“Sekarang juga Pak Jamian boleh tinggalkan sekolah ini!” kata kepala sekolah lagi dengan tegas.
Pak Jamian terkejut, rasa marahnya muncul, tapi ia tetap berusaha tenang. Seorang peg-awai tata usaha mendekati Pak Jamian. Mereka menyodorkan uang gaji honor Pak Jamian un-tuk sebulan terakhir.
Pak Jamian keluar dari pekarangan sekolahnya sambil menarik sepeda motor buruk yang dia pakai setiap hari. Dia sengaja tidak menghidupkan mesin sepeda motor. Dia takut ada anak murid yang melihat kepergiannya dari sekolah itu. Jauh dari halaman sekolah barulah dia menghidupkan sepeda motor, berlalu pergi dengan wajah seribu duka.
Pak Jamian tidak pulang langsung ke rumah. Dia singgah di sebuah kedai yang menjual pakain sekolah. Sepasang baju Pramuka dibelikannya untuk Zainab. Sebab sudah tiga tahun Zainab bersekolah, namun belum pernah memakai baju Pramuka yang baru. Baju itu dibelikan sebagai hadiah untuk Zainab karena telah hafal Dasa Darma Pramuka.
Pulang ke rumah. Zainab telah menyambut Pak Jamian dengan suka cita dan hati baha-gia setelah mendapat sepasang baju Pramuka. Tak ada tampak raut bermasalah di wajah Pak Jamian. Lelaki yang dipanggil ayah oleh Zainab itu, menyimpan seluruh kedukaan ketika ber-hadapan dengan putrinya. Dia merahasiakan segala nestapa yang dia alami. Dia tak mau Zainab ikut bersedih karena nasip sial yang dia terima. Dia memang lelaki tabah.
*****
Seperti biasa, ketika pasang naik di waktu malam, Pak Jamian tak pernah melewati un-tuk pergi memancing. Katanya kalau memancing di waktu air pasang malam, maka banyak ikan yang akan didapat. Kalau ada rezeki bisa dapat kurau, ikan yang berharga sangat tinggi.
Dengan berbekal ubi rebus dan sebotol kopi, dia menuju ke dermaga lama bekas kilang sawmill. Bayangan ketidakpuasan wajah Syahdan yang tak dapat menyelesaikan pembacaan puisi tak luput di pelupuk matanya. Sesaat kemudian berganti pula dengan wajah-wajah yang lain, yang tak rela ditinggalkan begitu saja di kelas tadi pagi. Seakan satu persatu wajah-wajah yang tidak berdosa itu muncul dalam seketika.
Muncullah perasaan sedih di hati karena esok tidak dapat memandang wajah-wajah ce-ria itu lagi, sebab dia sudah diberhentikan mengajar. Lalu, muncul pula rasa rindu yang tiada tara dengan tiba-tiba. Yang lebih membebankan adalah dia tak sempat meminta maaf dan memberi pesan akhir kepada murid-muridnya. “Kemanakah maaf dan rindu ini akan aku sam-paikan?” katanya membatin.
Air pasang bertambah dalam. Jarak air dari lantai jambatan hanya sejengkal saja. Ia bisa mencuci tangan dengan air laut itu walau tanpa timba. Arus pasang malam semakin deras, tanda surut akan segera muncul.
Bayang wajah Zainab yang besok akan memakai baju Pramuka juga terbayang di pelupuk mata. Pasti Zainab menunggu pujian darinya. Tanda tangan kepala sekolah lengkap dengan stempel di surat SP 3 juga menjelma.
Tiba-tiba joran pancing bergetar keras. Pak Jamian yang baru saja ingin mencurahkan kopi ke cangkir plastiknya segera berlari menuju pancing yang ditajur. Joran pancingnya ham-pir jatuh ke laut. Dia segera menangkap joran pancing itu. Tapi naas baginya, dia terpeleset setelah terinjak tali bekas penambat kapal.
Deras arus air yang pasang dalam menyeretnya dengan kencang. Tangannya tergapai-gapai mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan. Tetapi semuanya hanyut, semuanya ikut men-jauh. Dia tengelam di laut itu dalam temaramnya cahaya bulan di tengah malam.
Seiring hanyut dan tengelamnya dia ke dasar laut, dia mendengar suara seseorang membacakan puisi terindah yang dikutip dari kitab suci. Suaranya itu nyata, nyaring dan jelas. Suara itu sama persis dengan suara Syahdan yang amat syahdu, yang membacakan puisi un-tuknya tadi pagi.
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang redha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.
Seketika itu juga ayah si Zainab itu pun hilang entah kemana. Sebungkus ubi rebus dan sebotol kopi yang belum sempat disantap menunggunya dengan tenang di atas dermaga.
*****
Pagi hari Zainab menuju ke dermaga tempat ayahnya biasa memancing. Zainab yang te-lah mengenakan seragam Pramuka baru itu heran kenapa ayahnya tak pulang sampai pagi. Pa-dahal pagi ini dia harus pergi ke sekolah, mengajar.
Ayahnya tak ada di dermaga. Zainab hanya melihat sebotol kopi dan sebungkus ubi re-bus yang belum berjamah. Kepada beberapa orang lelaki dewasa yang ada di sana, Zainab me-nanyakan perihal ayahnya. Ayah, manusia satu-satunya tempat dia bergantung nasip.
“Jadi ini kopi ayahmu? Ini ubi rebus ayahmu?” tanya salah satu dari mereka.
Zainab mengangguk, tapi tak bicara. Dia hanya menanti jawaban dimana ayahnya.
“Kami tidak melihat sesiapa di sini sejak kami berada di sini selepas subuh tadi,” jawab lelaki yang lain pula. Jangan-jangan ayahmu…,” lelaki itu tidak berani meneruskan per-kataannya lagi.
Hari semakin siang. Semakin ramai orang yang datang ke dermaga. Entah dari mana da-tangnya kabar, telah tersiar berita di kota kecil itu bahwa Pak Jamian telah jatuh dan tenggelam di laut.
Polisi air, tim sar, dan relawan serta kaum kerabat sibuk mencari Pak Jamian yang diduga terjatuh ke laut. Tapi hingga tengah hari belum juga ditemukan jasadnya. Jam sekolah telah pun usai. Murid-murid berdatangan ke dermaga tempat jatuhnya Pak Jamian.
Tetesan air mata dari murid-murid tak terbendung lagi. Syahdan berdiri di antara mere-ka semua. Sambil memandang ke laut, dia membacakan dua baris sambungan puisi yang belum sempat dia ucapkan di hadapan gurunya itu semalam. Lantang mulutnya membaca puisi seakan Pak Jamian dapat mendengarnya.
……………
Telah kami terima pengorbanan darimu, Abadi, abadilah engkau wahai guruku….
Demikian dua baris terakhir di bait penutup dari puisi Syahdan untuk guru yang disanjungnya.
*****