Membaca “Batu” dalam Mashdar Zainal: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

359

Mungkin aku mau jadi batu. Tapi, kalau dipikir-pikir jadi batu sepertinya tidak terlalu buruk. Aku tak perlu lagi menangis bila dipukul mama. Tak perlu gemetar bila diteriaki mama. Dan yang paling penting, tak perlu lagi berhadapan dengan rapor beserta angka-angka merah yang ada di dalamnya. Aku mau jadi batu saja. Aku mau jadi batu saja.

Membincangkan cerita pendek (cerpen) yang pernah terbit di koran papan atas tentunya perlu kejelian tersendiri. Mengingat cerpen tersebut tentunya telah melewati proses kurasi ketat. Seperti cerpen “Mira Ingin Jadi Batu” karya Mashdar Zainal yang telah terbit di koran Kompas beberapa waktu lalu. Namun dengan mengambil sudut pandang yang berbeda, tentu akan selalu ada celah untuk dikritisi. Proses kritisi ini tentunya dalam upaya untuk memperkuat karya berikutnya bagi penulis cerpen tersebut dan kita semua yang terus belajar untuk menghasilkan cerpen terbaik.

Batu
Dalam karya sastra di Indonesia, kata “batu” sering digunakan dalam berbagai konteks dan makna yang berbeda. Berikut beberapa contoh penggunaan kata “batu” dalam karya sastra di Indonesia: Cerita rakyat “Batu Belah Batu Bertangkup”, Kumpulan Puisi “Air Mata Batu” karya Fakhrunnas MA Jabbar, Kumpulan Cerpen “Hikayat Batu-Batu” karya Taufik Ikram Jamil, Novel “Batu Manikam” karya Bernard Batu Bara, serta karya-karya lain yang memiliki kesenadaan menggunakan makna batu, termasuk Legenda “Malin Kundang” yang dikutuk menjadi batu. Legenda terkenal dari Sumatera Barat ini setidaknya menginspirasi penulis cerpen ini karena pada tokoh Mira menganggap menjadi batu sepertinya sebuah pilihan.
“Mendadak Mira berpikir, barangkali begitulah rasanya, ketika Malin Kundang hendak menjadi batu. Tubuhnya mulai terasa pegal dan kaku.
Mungkin aku mau jadi batu. Tapi, kalau dipikir-pikir jadi batu sepertinya tidak terlalu buruk.”

Penemuan Kristalisasi Air
Masaru Emoto (1943-2014) adalah seorang peneliti Jepang yang terkenal karena penelitiannya tentang air dan efek pikiran dan emosi manusia terhadap kristalisasi air.
Emoto mengklaim bahwa jika air terpapar pada kata-kata, gambar, atau musik yang positif dan harmonis, maka kristal air yang terbentuk akan menjadi indah dan simetris. Sebaliknya, jika air terpapar pada kata-kata atau gambar yang negatif, maka kristal air akan menjadi buruk atau tidak beraturan.
Relevansinya dengan cerpen ini, tokoh Mira yang selalu mendapatkan semburan kata-kata negatif (bodoh, tolol, goblok, malas, dan sejenisnya) dari mamanya menyebabkan hilangnya rasa percaya diri dan potensi dalam dirinya. Dengan kata lain, kata-kata cemoohan tersebut telah merusak susunan kristal air yang indah dalam tubuh Mira.

Teori Labelling
Selain menggunakan pendekatan teori kristalisasi air, Mira Ingin Jadi Batu menarik pula untuk didekatkan melalui salah satu teori dalam Sosiologi yaitu Teori Labelling.
Teori labelling atau teori pelabelan adalah konsep yang dikembangkan dalam sosiologi dan psikologi, yang menyatakan bahwa tindakan memberikan label atau penjulukan pada seseorang dapat mempengaruhi perilaku dan identitas mereka.
Stigma dan harga diri rendah, jika seorang anak diberi label negatif, seperti “pemalas” atau “bodoh,” mereka mungkin menginternalisasi label tersebut dan merasa rendah diri. Hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan diri mereka dan membatasi potensi mereka untuk tumbuh dan berkembang.

Berita Lainnya

Tentang “Mira”
Cerita “Mira Ingin Jadi Batu” menggambarkan perasaan dan pengalaman seorang anak bernama Mira yang merasa rendah diri dan tidak percaya diri karena ketidakmampuannya dalam pelajaran sekolah. Dia merasa bodoh dan tidak pintar dibandingkan dengan teman-temannya yang pintar. Mira merasa terbebani oleh harapan dan tekanan yang ditimbulkan oleh ibunya.
Melalui dialog internal Mira, pembaca dapat merasakan kecemasan dan ketidaknyamanan yang dialaminya. Mira merasa tidak dihargai dan selalu dihina oleh ibunya ketika mendapatkan nilai merah di rapor. Dia takut akan reaksi ibunya jika dia tidak naik kelas, dan bahkan berpikir untuk menjadi batu agar tidak lagi mengalami kesedihan dan perlakuan kasar dari ibunya.
Dalam cerita ini, terlihat adanya ketidakseimbangan hubungan antara Mira dan ibunya. Ibu Mira tampaknya memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap prestasi akademis Mira, dan cara pengajaran yang keras dan kasar tidak memberikan dukungan dan motivasi yang dibutuhkan oleh Mira. Perlakuan kasar ibunya membuat Mira merasa takut dan tidak berdaya.
Selain itu, cerita juga menyoroti perbandingan Mira dengan teman-teman sekelasnya yang ceria dan tidak terlalu khawatir dengan nilai rapor mereka. Mira merasa iri terhadap mereka dan menginginkan hubungan yang lebih baik dengan ibunya.
Secara keseluruhan, cerita ini menggambarkan beban emosional yang dialami oleh seorang anak yang merasa rendah diri dan tidak berharga akibat tekanan dan perlakuan kasar dari orangtuanya. Hal ini mengajarkan pentingnya dukungan, motivasi, dan pengertian dari orang tua dalam membantu anak menghadapi tantangan akademik dan mengembangkan rasa percaya diri mereka.

Kekuatan
Dalam cerpen ini, struktur penulisan yang digunakan membantu membangun konflik dan ketegangan emosional yang dialami oleh tokoh utama. Hal ini juga menggambarkan ketidakbahagiaan dan tekanan yang dirasakan oleh Mira dalam menghadapi ekspektasi dan perlakuan ibunya.
Cerpen “Mira Ingin Jadi Batu” menggambarkan perjuangan Mira, seorang anak yang merasa rendah diri dan tidak percaya diri karena masalah belajar. Cerpen ini menggambarkan perasaan cemas dan kekhawatiran Mira menjelang pembagian rapor kenaikan kelas. Cerita ini juga mengungkapkan bagaimana Mira merasa tidak dicintai dan tidak diperhatikan oleh ibunya.
Penulis berhasil menyampaikan perasaan Mira dengan baik melalui penggambaran emosi dan pikiran dalam cerita. Penggunaan imajinasi Mira tentang menjadi batu sebagai pelarian dari situasinya yang sulit juga memberikan nuansa emosional yang kuat.
Secara keseluruhan, cerpen ini berhasil menggambarkan perasaan rendah diri dan perjuangan emosional seorang anak yang menghadapi kesulitan dalam belajar. Namun, perbaikan dalam pengulangan kalimat dan penanganan tema kekerasan akan meningkatkan kualitas cerita ini.

Delta
Berikut adalah beberapa delta dari cerpen “Mira Ingin Jadi Batu”:
Cerpen ini memiliki plot yang terlalu cepat, dengan konflik dan penyelesaian yang terjadi dalam waktu singkat. Hal ini dapat membuat cerita terasa terburu-buru dan tidak memberikan ruang yang cukup bagi perkembangan karakter dan konflik yang lebih mendalam.
Meskipun cerpen ini mencoba menggambarkan perasaan dan kegelisahan Mira, karakter utama, penggambarannya masih terbatas. Pembaca tidak diberikan informasi yang cukup tentang latar belakang mengapa Mira menjadi “lemah”, motivasi, atau kepribadian Mira secara menyeluruh, sehingga sulit untuk benar-benar terhubung dengan karakter tersebut.
Cerpen ini menyentuh tema-tema seperti tekanan akademik, kekecewaan, dan keinginan untuk diterima. Namun, pengembangan tema-tema ini terasa dangkal dan kurang mendalam. Lebih banyak penjelasan dan refleksi yang dibutuhkan untuk menggali lebih dalam tentang perasaan dan pengalaman karakter-karakter dalam cerita.
Cerita ini tidak memberikan setting waktu sehingga pembaca akan bertanya-tanya,”Masih adakah saat ini rapor berwarna merah? Apalagi semua berwarna merah? Bukankah Mira suka komik dan membaca buku di perpustakaan? Tidakkah menjadi komponen penilaian salah satu mata pelajaran dalam rapor? Mengapa semua merah?”
Cerpen ini memiliki ketidakseimbangan antara aksi dan penjelasan. Beberapa adegan terasa terlalu singkat dan kurang diperluas, sementara ada bagian-bagian yang berfokus terlalu banyak pada penjelasan dan pemikiran internal karakter. Hal ini dapat membuat cerita terasa tidak seimbang dan mengganggu aliran narasi.
Meskipun cerpen ini menampilkan konflik dan perasaan ketidakpuasan Mira terhadap keadaannya, tidak ada resolusi yang memuaskan atau pembelajaran yang jelas yang diberikan pada akhir cerita. Pembaca ditinggalkan dengan perasaan terbuka dan tanpa pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana karakter-karakter akan berkembang setelah kejadian dalam cerita.
Beberapa kalimat terasa agak berulang-ulang dan penggunaan frasa “bodoh” terlalu sering digunakan dan dapat mengurangi kekuatan emosi yang ingin disampaikan.

Catatan
Perlu diperhatikan bahwa penilaian terhadap sebuah cerita tergantung pada preferensi individu, dan apa yang mungkin dianggap kelemahan oleh satu orang bisa jadi menjadi kelebihan bagi orang lain.

Bambang Kariyawan Ys., Divisi Karya BPP FLP.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan