Rekaman Peradaban Sejarah dalam Kumpulan Cerpen “Tijah” karya Bambang Kariyawan: Catatan Rian Kurniawan Harahap

697

Judul buku: Tijah (Kumpulan Cerita Pendek)
Penulis: Bambang Kariyawan
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Jumlah halaman: vi + 108 halaman

Bambang Kariyawan tidak habis-habisnya dalam menuangkan cerita di belantika cerpen Indonesia. Dalam hal ini keberadaannya termasuk dalam salah satu cerpenis paling produktif dalam dua dekade terakhir. Karya-karyanya selalu muncul di berbagai lomba sebagai pemenang, berbagai buku antologi dan tentunya surat kabar cetak dan elektronik. Bambang Kariyawan mencoba untuk selalu membedah akar kemelayuan yang ada di Riau maupun Kepulauan Riau kampung halamannya. Ia selalu punya wacana kreatif tentang akar tradisi yang bisa dijulang dalam cerita pendek.

Kumpulan cerpen Tijah yang merupakan buku terbarunya memuat 16 cerpen yang telah melalui nasibnya masing-masing. Bambang Kariyawan mengumpulkannya kembali dalam sebuah buku untuk diangkat menjadi sebuah tematik cerpen dengan akar tradisi. Itulah bahan baku yang sangat kental dan dominan dalam cerpen-cerpennya. Pembacaan atas buku ini mengajarkan pembaca untuk memahami pembacaan sejarah dengan berjenjang. Apalagi ketika membaca Tijah, pilihan mengalahkan sejarah telah dinarasikan dengan baik. Tijah menjadi pencerita kemana cerita dan sejarah itu akan memilih. Begitulah pesan yang kuat ketika membaca Tijah.

Meski Tijah menjadi judul cerpen ini bukan berarti cerpen lain tidak menarik. Justru saya melihat kekuatan cerpennya pada beberapa judul dan bisa dianggap cerpen ini menjadi andalan, misalnya Liberika Bermotif Naga. Dalam cerpen ini kisah seorang yang selalu meminum kopi sebagai memori pengingat kenanngan ia bersama istrinya menjadi sekuel kisah yang jarang terjadi. Apakah kematian telah meninggalkan kenangan? Atau kenangan itu sendiri yang telah mati? Bambang Kariyawan menggarap cerpen ini dengan kepiluan yang mendalam di tubuh laki-laki.


Lain lagi dengan kisah Mancokau yang berangkat dari monolog Sungai Subayang. Kampar kiri yang menyajikan keindahan alam telah direkam dengan baik oleh Bambang Kariyawan. Ia merekam peristiwa budaya Mancokau dengan riset yang cukup dalam sehingga bagi pembaca awam yang tidak tahu akan merasa tercerdaskan secara budaya. Inilah sebenarnya warisan budaya yang mesti dirapikan oleh cerpenis-cerpenis dengan tema lokalitas.

Bambang Kariyawan menulisnya dengan plot yang dinamis. Latar yang bergerak dengan baik di sepanjang Riau dan Kepulauan Riau menjadi semacam bentangan keindahan dan destinasi wisata daerah tersebut. Kekuatan metafora dalam penggambara latar dan seting telah menjadi fokus untuk membuka cerpen. Konflik-konflik yang dihadirkan pada cerpen-cerpennya cukup ringan namun butuh pemahaman sejarah dan budaya. Artinya pembaca diajak untuk melek tradisi dan budaya lewat cerpennya. Kosakata dalam cerpen ini sangat sesuai dengan EYD namun sebagai sebuah cerpen yang berangkat dari tradisi dan kebudayaan mestinya muncul kosakata dan lema bahasa melayu yang lebih banyak sehingga penawaran tafsir menjadi lebih luas.

Secara keseluruhan buku kumpulan cerpen ini telah merekam peristiwa tradisi dan budaya persis seperti testimoni yang muncul pada sampul buku dengan grafis seorang perempuan melayu berlatar lautan dan kapal. Membaca “Tijah” ibarat menelusuri aliran sungai berupa cerita tradisi dan sejarah tentang Melayu dan Riau. Namun, bukan hanya itu tapi membaca “Tijah” adalah membaca melayu dalam diri.

 

Rian Harahap Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Pekanbaru.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan