ada revolusi Bolshevik di Soviet ada insiden teh di Boston ada pula tragedi di lapangan Tiananmen namun sejarah kita yang paling kuingat sayangku soal lukisan wajahmu yang mengusik malamku naik turun nafasku selalu saja tentang namamu simfoni terindah adalah merdu suaramu kau duduk disisiku bercakap kisah-kisahmu dulu gadis kecil; anjing pudel; dan bekicot ada munajat di Hajar Aswad ada Ekaristi kudus di Vatikan ada juga ibadah Sabat di Yerusalem namun ikatan kita tak kalah sucinya kekasihku pada tebing everest kutulis janji kita mimpi tentang pondok mungil di tepi pantai “apa kau mau membikin istana pasir bersamaku?” bisikan tulus dari bibir mungilmu “aku ingin menua dan mati bersamamu” begitu janjimu waktu itu ada cerutu dari Havana ada lighter dari Pennsylvania ada pula segelas espresso dari Honduras tapi asmara kita lebih nikmat dari itu manisku kita adalah bekicot yang bersundal dengan waktu bercumbu diatas jerami dipayungi pelangi harum peluhmu, manis bibirmu seperti madu begitu kelakar dunguku saat itu waktu gaun polkadotmu menari-nari dirayu bayu ada perjanjian damai di San Fransisco ada konvensi kemanusiaan di Jenewa ada juga sumpah palapa dari Majapahit tapi prasasti janji setia kita paling tulus cintaku kau adalah dosa yang tak akan aku sesali kau adalah kesalahan yang ingin aku ulangi kau adalah penyesalan yang tak ada jalan kembali dalam desing peluru dan bermandi mesiu kutitipkan rindu pada bekicot di balik perdu (Pekanbaru, 31 Oktober 2020)
Puisi ini dimuat dalam buku antologi puisi “Bait-Bait Sendu” Penerbit Elfa Mediatama, Cikarang Baru, 2020
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com