Pentigraf : Istana Kedua – M. Rizal Ical

Ilustrasi

Istana Kedua

Pada saat terjadi kecelakaan di simpang tiga, aku langsung melarikan Imran ke Rumah Sakit. Imran, kawan ku ditabrak lari oleh pengendara mobil bersama Dilla, istrinya. Sampai di Rumah Sakit keadaan Imran sudah sangat kritis. Beruntung Dilla hanya lecet di bagian tangan dan kaki. Dokter menyuruhku untuk masuk ke ruang perawatan. Imran memintaku untuk menemuinya. Nafas Imran tersengal-sengal, sangat sulit untuk berbicara. Dia mengenggam erat tanganku dan berkata agar aku berjanji untuk bersedia menikahi Dilla.

Aku menganggukkan kepala menyetujuinya. Imran menghembus nafas terakhir. Aku menggugu tangis. Setelah urusan pemakaman Imran selesai, aku beraktivitas seperti biasa. Tiga bulan sepuluh hari setelah habis masa iddah Dilla. Tiga malam aku habiskan waktu untuk sholat Tahajjud, Istikharah dan Hajat, memohon petunjuk Allah. Selesai berdo’a pada malam ketiga, aku masuk ke kamar, aku melihat istriku tertidur pulas. Wajahnya sangat teduh dan cantik sekali. Layna telah memberikan aku tiga orang anak. Aku sangat mencintainya.

Pagi hari, aku dan Layna menuju ke tempat prosesi pernikahan. Dilla terlihat anggun dengan dress berwarna putih. Sekali lafaz, maka Hamid sah menjadi suami Dilla. Sebelum sholat malam tiga hari yang lalu aku sudah berbicara baik-baik dengan Dilla, ketika aku tawarkan Hamid, teman sekantorku berstatus duda, Dilla sangat setuju sekali. Pada malam hari setelah akad nikah berlangsung, aku bermimpi, Imran menjumpaiku dengan menyunggingkan senyum.

Rumah Cinta, 06 Oktober 2020

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentrigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan