SKN SMAIT AL-ITTIHAD PEKANBARU

379

Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat kamu gunakan untuk mengubah dunia (Nelson Mandela). Pendidikan sebagai kunci sukses untuk menjadi negara atau bangsa yang maju dan beradab. Kualitas pendidikan yang mumpuni tentu akan menghasilkan sumber daya manusia yang mumpuni pula. Lembaga formal yang berperan dalam mewujudkan pendidikan sesuai harapan adalah sekolah dimulai dari Sekolah Dasar , Sekolah Menengah Pertama , Sekolah Menengah Atas , dan Perguruan Tinggi.
Tujuan akhir dari pendidikan adalah setiap siswa hendaknya memiliki tiga macam kecerdasan yakni; kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), spiritual (SQ). Kecerdasan intelektual merupakan kecerdasan otak untuk menerima, menyimpan, dan mengolah informasi menjadi fakta. Kecerdasan emosional merupakan kecerdasan untuk memahami perasaan orang lain, sedangkan kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan untuk menghadapi persoalan, menempatkan perilaku dalam konteks yang lebih luas. Jika peserta didik hanya cerdas IQ namun tidak diiringi dengan EQ dan SQ maka akan terjadi penyimpangan seperti kasus pembobolan ATM, penipuan online, dan pemimpin yang korupsi.
Untuk mewujudkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, sosial, dan spiritual SMAIT AL-Ittihad Pekanbaru membuat program Sekolah Kerja Nyata (SKN). Program SKN pada hakikatnya merupakan perwujudan dari salah satu sarana menggali kemandirian siswa melalui pengabdian kepada masyarakat, yang bersifat lintas disiplin. Mencari inspirasi untuk pemilihan jurusan ketika kuliah, dengan keilmuan dan sikap yang dimiliki dapat membantu kehidupan masyarakat terutama di daerah pedesaan. Melalui program SKN diharapkan peserta didik dapat menumbuhkan sikap empati dan mengetahui sisi lain kehidupan yang tidak didapatkannya dalam bangku sekolah. Program SKN disambut secara hangat oleh orang tua siswa.
Pembelajaran di sekolah tidak hanya berupa teori tapi siswa akan terjun kelapangan melihat fakta yang terjadi dan mempraktikan ilmu pengetahuan yang sudah dimilikinya. Pogram SKN terintegrasi kedalam enam mata pelajaran: (1) Mata pelajaran AL-Qur’an siswa dapat membiasakan tahsin dan tahfiz dalam kehidupan sehari-hari; (2) Mata pelajaran PAI siswa harus menunjukan sikap berakhlak mulia, berpakain sesuai syariat islam, zikir pagi petang, dan sholat berjamaah; (3) Mata pelajaran Sejarah siswa melakukan wawancara terkait Candi Muara Takus, dan peninggalan islam disekitarnya; (4) Mata Pelajaran Sosiologi siswa melakukan observasi dan wawancara terkait kearifan lokal, nilai dan norma yang terdapat didalam masyarakat; (5) Mata pelajaran Prakarya siswa mempelajari teknik dasar membatik; (6) Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa membuat laporan perjalanan.
Kegiatan SKN dilaksanakan di Desa Tanjung Alai, Kecamatan XIII Koto Kampar, Provinsi Riau, pada tanggal 07-11 November 2022, dengan jumlah 105 peserta didik dan 10 orang guru pendamping. Hari pertama peserta didik mengunjungi candi muara takus, hari kedua-keempat peserta didik fokus dilokasi SKN, hari kelima destinasi batik dan pengolahan ikan patin.
Peserta didik dibagi kedalam kelompok yang terdiri dari tiga orang. masing-masing kelompok memiliki orang tua asuh yang berfungsi untuk menjaga dan membimbing mereka selama disana. Orang tua asuh memiliki pekerjaan yang beragam seperti petani karet, berkebun, guru, berdagang, membawa sampan, jasa laundry, guru ngaji, jual air galon dan lain-lain.
Peserta didik tinggal di rumah orang tua asuh, mereka bertugas selayaknya sebagai seorang anak yang harus membantu pekerjaan orang tua, seperti membersihkan rumah, memasak, mencuci piring, dan mengikuti serta membantu orang tua asuhnya bekerja. Meskipun mereka berasal dari keluarga yang berada namun mereka dengan senang hati dan ringan tangan membantu kegiatan orang tua asuhnya walaupun siawa laki-laki harus mengangkat galon dan gas ke rumah-rumah warga. Guru mengirimkan dokumentasi kegiatan peserta didik ke group orang tua, melihat yang dilakukan anaknya orang tua sangat takjub. melihat anak gadisnya yang manja dirumah ternyata bisa mencuci baju, piring, menyapu, bahkan memasak, dan melihat anak laki-laki mereka yang biasanya tiduran saja sekarang mau bekerja keras.
Dalam kesehariannya peserta didik laki-laki mampu menghidupkan kembali masjid desa dengan mengumandangkan adzan, menjadi imam sholat, ceramah dan mengajarkan anak-anak di desa membaca Al-Qur’an. Sedangkan peserta didik perempuan juga sholat berjamaah di rumah, zikir pagi petang, membaca Al-Qur’an dan mengajari anak-anak lainya berbahasa Inggris. Pada hari terkhir kegiatan SKN di Desa Tanjung Alai kita semua akan berangkat kembali ke Kota Pekanbaru. Para orang tua asuh ikut mengantarkan anak-anak mereka ke titik kumpul. Terjadilah pemandangan yang sangat haru saling menangis karena akan berpisah. Meskipun SKN hanya berlangsung 5 hari 4 malam namun sudah terbangun kedekatan emosional yang luar biasa antara peserta didik dengan orang tua asuh mereka.
Berdasarkan wawancara dengan orang tua asuh beliau sangat mengapresiasi program sekolah yang tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat desa. Tahun depan beliau dengan tangan terbuka sangat bersedia untuk menerima kembali program ini jika pihak sekolah masih berkenan memilih desa mereka. Selanjutnya wawancara dengan peserta didik kegiatan SKN memiliki pengalaman yang sangat bermakna bagi mereka. Mereka menyadari bahwasanya masih banyak masyarakat yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup, keterbatasan dalam pendidikan formal, keterbatasan ilmu agama. Hal ini membuat mereka bersyukur atas rezeki yang allah titipkan melalui orang tua mereka sehingga mereka seharusnya lebih semangat lagi dalam menuntut ilmu.
Dapat kita simpulkan bahwasanya program sekolah kerja nyata (SKN) mampu menumbuh kembangkan kecerdasan siswa sekolah islam terpadu baik secara intelektual, emosional, dan spiritual. Keseimbangan IQ, EQ, SQ akan membuat jiwa kita menjadi lebih tangguh dalam menjalani hidup menghadapi tantangan era society 5.0.

Berita Lainnya

Nadia Muspita Sari, S.Pd, Guru Sosiologi SMAIT AL-Ittihad

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan