Sultan Palembang dan Kaban Kesbangpol Sambut Hangat Tim FPK Riau: “Sumsel Zero Konflik.”

PALEMBANG-TIRASTIMES: Kunjungan kerja Tim Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Riau di Provinsi Sumsel, 24-26 Oktober berjalan lancar. Bahkan rombongan FPK Riau disambut hangat oleh Ketua FPK Sumsel yang juga Sultan Palembang, Sultan Iskandar Mahnud Badaruddin dan Kaban Kesbangpol Sumsel, Kurniawan dalam acara pertemuan ramah-tamah di Hotel Sriwijaya, Senin (25/10).

Tampak hadir, Kaban Kesbangpol Sumsel Kurniawan bersama Kabid Pembinaan Ideologi, Fauzi. Dari kalangan pengurus FPK hadir pula Wakil Ketua H. Syairozi, Sekretaris FPK, dan pimpinan sejumlah paguyuban. Sedangkan Tim FPK Riau terdiri atas tiga Wakil Ketua FPK yakni Dr. Santoso (Ketua Rombongan), Fakhrunnas MA Jabbar dan M. Nasir Penyalai, Bendahara, Sadrianto dan Ketua Paguyuban Aceh, Djamaluddin Badai.

Ketua FPK Sumsel, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin dalam sambutannya mengatakan keberadaan FPK Sumsel berdasarkan Permendagri No. 34 Tahun 2006. Sultan Iskandar pernah dipercayai sebagai Ketua FPK Sumsel periode 2009- 2016 dan dipercaya kembali periode sekarang periode 2021-2025. Jumlah pengurus sebanyak 34 orang.

Sultan Iskandar menceritakan dinamika perkembangan FPK Sumsel yang mengkoordinasikan sejumlah 58 paguyuban etnik/ suku di Sumsel. Dalam era disrupsi sekarang, FPK harus berperan aktif untuk membina masyarakat karena sistem informasi yang berlangsung cepat dan terbuka

“Dalam hubungan antaretnik dan suku di Provinsi Sumsel, alhamdulillah di sini zero konflik. Hal ini berkat koordinasi yang baik antar paguyuban etnik yang ada,” kata Ketua FPK Sumsel ini.

Kaban Kesbangpol Sumsel, Kurniawan, M.Si dalam pengarahannya mengungkapkan rasa syukurnya karena situasi Covid 19 yang melandai memungkinkan adanya pertemuan silaturahim secara tatap muka.

Kurniawan selanjutnya menjelaskan, Provinsi Sumsel yang terdiri atas 17 kabupaten berpenduduk sekitar 9 juta jiwa sangat hetetogen berdasarkan etnik dan suku serta agama.

“Berkat adanya FPK yang berdiri sejak 2009, pihak pemerintah sangat terbantu dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan terjadinya konflik sosial. Saya bersyukur karena hampir takvada konflik antaretnik dan suku di Sumsel,” kata Kurniawan.

Ditambahkan, selama ini FPK bersinergi dg Kesbangpol dan organisasi etnik dan keagamaan lain dalam menangani berbagai masalah sosial antaretnik dan agama.

“Kami di Sumsel selama merasa dekat dengan Riau dalam hubungan DMDI (Dunia Melayu Dunia Islam) dimana Gubernur Sumsel, Bapak Herman Deru sebagai ketuanya di sini,” kata Kurniawan.

Pengurus FPK Terbesar di Indonesia

Di awal acara, Ketua Tim FPK Riau, Dr. Santoso, memperkenalkan anggota rombongan dan menceritakslan sekilas sejarah berdirunya FPK umysng diawali dari Forkesmar (Forum Kesatuan Masyarakat) Riau yang turut diinisiasi oleh tokoh masyarakat dan pemuka adat Melayu Alm. Dr. HC. H. Tenas Effendy.

“Kehadiran Forkesmar di awal reformasi sangat berperan dalam situasi tarik menarik dalam masyarakat. Forkesmar berhasil mengelola dinamika reformasi tersebut sehingga
zero konflik. Kalau ada sedikit pergesekan tentu hal itu wajar sebagaimana dinamika sendok dan piring yang menghasilkan keindahan,” kata Santoso.

Santoso menambahkan, FPK Riau berdiri sejak 2006 dan kini beranggotakan 52 paguyuban etnis dan pauyuban kedaerahan. Kepengurusan FPK periode 2017-2021 yang diketuai oleh Ir. A.Z. Fachri Yasin, M.Agr terdiri atas 268 personil. Ini merupakan pengurus FPK terbesar di Indonesia.

Dijelaskan, FPK Riau memiliki tiga fungsi yakni preventif dalam mewujudkan situasi harmoni melalui diskusi dan pertemuan. Fungsi komodasi dalam memberikan masukan dalam kebijakan daerah. Serta fungsi pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan
ekonomi kreatif dan bidang sosbud.

Kegiatan monumental yang pernah dilakuksn FPK Riau di antaranya Parade Bhinneka Tunggal Ika yang melumibatkan 5000 peserta dari unsur etnik, budaya dan perguruan tinggi. Selain itu, kegiatan seminar mencapai
lima kali salam setahun.

Pada pertemuan yang sama, turut berbagi pengalaman Wakil Ketua FPK Riau, Fakhrunnas MA Jabbar dan M. Nasir Penyalai serta Bendahara Sadrianto.

Selama di Palembang, Tim FPK Riau diajak oleh Sultan Palembang berziarah ke Klmplek Mskam Suktan dan Babgsawan Palembang serta situs srjarah masa silam. Selanjutnya Staf Sultan Palembang, Ach. Nawawi mengajak rombongan mengunjungi Jembatan Ampera, beberapa produsen pempek Palembang dan usaha kuliner rakyat malam hari di tepi sungai Musi di bawah Jembatan Ampera. Dudampingi pengurus FPK Sumsel, Indea rombongan mengunjungi Museum Bala Dewa yang banyak mengoleksi pebinggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya seperti batu prasasti dsb. Di hari terakhir, rombongan berkunjung di rumah kediaman Sultan Palembang, Sultan Iskandar. dan turut melepas keberangan Tim FPK Riau di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (ns)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan