

Mengapa masyarakat ihnu dapat menerima studi kebahasan dibandingkan studi sastra? Demikian Prof. Budi Darma memulai pembicaraan dalam sebuah seminar di Medan (1987). Jawabannya terletak pada ciri-ciri studi kebahasan yang jelas, sementara studi sastra tidak demikian. Studi kebahasaan menuntut persepsi dan daya nalar yang jelas dibandingkan studi sastra lebih menuntut kepekaan penghayatan .Studi kebahasaan menuntut daya nalar tinggi dan mudah dijabarkan dalam rumusan. Oleh karena rumusan adalah relatif dan karena itu mudah dijabarkan. Sebaliknya, studi yang lebih banyak menitikberatkan kepekaan penghayatan cenderung artikulatif, dan karena itu tidak berkembang
Studi pada hakekatnya menuntut kejelasan. Dalam menuntut kebenaran manfaat ilmu cenderung menghendaki kejelasan. Justru kejelasan inilah yang tidak terlihat dalam studi sastra. Pernyataan Budi Darma ini menggoda penulis bertanya seraya mengingatkan tulisan masa lampaunya tentang dunia sastra. “Dunia sastra adalah dunia jungkir balik,” demikian kata Budi Darma, tapi guru mencoba menertibkan dunia tersebut tersebut dalam proses pengetahuan sastra di sekolah. Pengajaran adalah artikulatif. Oleh karena itu titik tolak pengajaran sastra adalah penghayatan, sementara penghayatan ilmu dengan tahapan daya nalar. Daya nalar bersifat naik ke jenjang lebih tinggi, sementara tahapan penghayatan lebih banyak melebar.
Secara bijak Budi Darma berkilah, studi sastra lebih ditentukan oleh jumlah bacaan sastra yang bermutu, bukan oleh bahasan teori. la lalu mengambil contoh kritik sastra Yunani Purba, justru berkembang dengan baik setelah Yunani itu sendiri tidak menghasilkan pengarang yang baik. Dengan demikian ia menyimpulkan studi sastra memang berawal dari karya sastra, namun dalam perkembangannya kemudian, studi sastra makin jauh dari karya sastra itu sendiri. Namun ia tidak menyangkal , dan tidak dapat menafikan pentingnya apresiasi sastra sebagai jalan menuju ke studi sastra, yaitu kritik sastra, teori sastra, sejarah sastra.
Untuk menjawab tantangan dan masa depan kritik sastra Indonesia ada dua hal yang menjadi pertanyaan dasar yakni; (1) Bagaimanakah anatomi pembelajaran sastra masa depan di sekolah dan (2) Apakah kultur lokal kita dapat memberdayakan kritik sastra Indonesia di masa depan? Dengan merumuskan dua pertanyaan sederhana di atas kita memiliki tujuan yang terang benderang yaitu mencari tradisi kritik sastra dalam kultur keindonesiaan kita.
Pembelajaran Sastra
Sesudah dekade 1960-an para siswa sudah mengantisipasi ke masa depan akibat arus informasi dan keterbukaan dan globalisasi. Siswa banyak yang tidak akrab lagi dengan burung tetapi lebih antusias dengan komputer. media online, sastra tiktok dan puisi facebook, tidak lagi bangga menunggang kerbau tetapi lebih bergengsi menunggang jet, tidak gemar dengan hikayat dan lebih gandrung kepada televisi dan ponsel .Bahkan saat ini siswa lebih spontan berekspresi dengan dunia siber dibandingkan dunia literer.
Perpisahan era sastra 70-an dengan era sastra tahun 2000 sampai kini menyebabkan keterpisahan dengan seperangkat kode budaya dan bahasa. Sebagaimana penyair Ariel Heryanto melukiskan suasana itu dengan nada masgul pada beberapa bait puisinya.
Terayun dalam kursi goyang
Seorang kakek berguman pada cucunya
Hm. Becak dan andong hanya bisa kau amati
Di balik kaca museum
Hanya kau tahu lewat buku dan komputer perpustakaan
Betapa nikmat terguncang dalam andong seirama
Langkah kuda
Tempo dulu ketika kakek berangkat sekolah
Kini harus kau selipkan mata uang kontan dalam mesin
Sebelum kau dapat pisang goreng atau rujak dalam kaleng
Dan kini; huh
Harus kau beli pita cassete dan televisi
Untuk mendengar kicau gelatik atau jerit jengkerik
Kakek sudah minum dua belas pil dan sebilan kapsul Yang saya pesankan?
Tanya cucu yang memapah kakeknya Ke tempat tidur (Dialog Larut Malam. 1979:442)
Pilihan pertama yang perlu disiasati guru sekarang dan masa depan adalah ‘perpisahan‘ seperangkat budaya dan bahasa yang dilazimkan di masa lalu dan mengalami perubahan konteks dan semantik di masa kini. Dewasa ini sudah jarang siswa memahami dan mengapresiasi seperangkat kode bahasa misalnya pada pantun lama: “kalau ada sumur di ladang bolehlah kita menumpang mandi” Ketika ditanyakan di kelas, siswa tidak tahu lagi apa itu “sumur” sebab yang diketahui mereka di rumah adalah pompa air atau ledeng. Mereka mungkin bertanya mengapa harus “menumpang mandi” di rumah orang. Apakah ini membuka permainan ‘selingkuh‘ bertandang ke kamar mandi.
Guru sebaiknya mawas diri dalam memperhatikan kondisi budaya yang berubah ini. Oleh karena ‘mainset‘ yang tinggal di benak guru di masa lalu sudah perlu diatur ulang dalam penyesuaian dengan kondisi dan perubahan budaya yang berlari kini dan ke masa depan.
Pilihan kedua yang bukan saja ditawarkan kepada guru melainkan kewajiban yang harus dilaksanakan adalah materi yang terdapat dalam muatan kurikulum. Guru tinggal mengajarkan bahan yang disediakan oleh kurikulum. Guru yang berwawasan luas harus terlebih dahulu menyadari bahwa acuan yang disediakan dalam kurikulum bukanlah harga mati yang tak bisa ditawar lagi, Sebagai “harga mati” puisi yang dijadikan bahan pelajaran akan menimbulkan kemunduran minat dan aspirasi siswa. Di pihak guru timbul persoalan, baik tentang materi, maupun waktu yang disediakan dan tuntutan cara belajar dan mengajar yang bersifat komprehensif, praktis, dan operasional. Secara jujur setiap guru tidak ingin para siswa yang menjadi asuhannya gagal dalam belajar dan mendapat nilai jelek dalam rapor atau ijazahnya.
Puisi Kekinian
Puisi puisi yang sezaman dengan siswa dewasa ini setelah periode angkatan (2000 sampai 2020) dan kini 2024 banyak bertaburan dalam bentuk kumpulan puisi, di berbagai media sosial dan surat kabar online yang ada ruang budayanya.
Persoalan yang ditampilkannya adalah persoalan aktual dalam masyarakat misalnya tragedi orang kecil, rasa solidaritas sosial, sindiran yang bersifat masa bodoh. badai gejolak masa di tengah ketidakpastian dan harapan. Kemudian para penyair seperti Taufiq Ismail mempersoalkan kerusakan lapisan ozon, Sapardi Djoko Damono mencatat renungan psikologis manusia dengan lingkungannya, Abdul Hadi W.M., Kuntowijoyo dan Danarto serta Ibrahim Sattah yang menulis tentang renungan religius serta masalah sosial dan dampak lingkungan, dapat menjadi pertimbangan untuk membawa siswa ke dalam jalur tradisi kritik sastra sebagai jenjang pemula.
Memulai tradisi kritik sastra adalah memulai tradisi bersastra dan ini hanya dapat ditanamkan di bangku sekolah menengah atas sebagai terminal sementara bagi siswa untuk mulai keluar mengembara dalam belantara sastra.Dalam hal ini diperlukan seperangkat sarana dan referensi yang baik dan sehat bagi guru untuk membangun kritik sastra masa depan tersebut.***
Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan
Sangat menginspirasi untuk saya ayahanda Dr. Syafwan Hadi Umry.M.Hum.