

Sastra seharusnya membayangkan kemesraan dengan warna lokalnya. Warna lokal itu sesuatu yang dapat dirumuskan sebagai sebuah lentera yang mencerminkan cahaya keluar dan bukan sebaliknya cahaya yang diberikan untuk menerangi lentera. Sastra mutakhir dalam perjalanannya dewasa ini hampir tidak membiaskan ungkapan yang personal dari tiap pribadi pengarangnya. Sastra yang kehilangan ungkapan-ungkapan yang selalu menciptakan daya pikat dalam diri pembaca.
Seni mutakhir rupanya sukar dimengerti, bahkan mengejutkan sebagaimana dijelaskan Dick Hartoko, “Para seniman modern tidak tertarik lagi oleh keindahan, keharmonisan dan kesedapan, melainkan oleh sesuatu yang menggemparkan dan merisaukan hati.” (1984: 43). Gambaran ini membenarkan pendapat Plato yang mengatakan, “Suatu masyarakat akan mengalami kegoncangan, sebagaimana halnya manusia perorangan yang terganggu keseimbangan jiwanya yang terdiri dari tiga unsur: semangat, nafsu dan intelektual.” Di sinilah peran sastra yang senantiasa menghidangkan sebuah sintesis antara hal-hal yang saling bertentangan. Dalam diri sang sastrawan ada “amarah yang tak kunjung takluk” yang melahirkan kecenderungan estetik dan dikaitkan dalam teknik pengucapan yang tersedia dalam bahasa.
Kemesraan warna lokal itu memang sesuatu yang tetap diperlukan dalam sastra. Seorang pengarang dalam pertemuan dengan lingkungannya tidak dapat melepaskan dirinya dari lanskap, warna, gunung, kehijauan pantai dan terkadang bau amis ombak. Dengan demikian penyair tidak begitu asing akan tanah airnya. Suasana tempat dan lingkungan selalu hanyut dalam tema-tema puisinya. Oleh karena alam memang bersifat puisi, tetapi manusia menanggalkan alam itu dari unsur puitisnya. Istilah yang dipakai Dick Hartoko sebagai “depuitisasi alam”.
Di sini diturunkan sebuah puisi yang menyiratkan kemesraan puisi dengan warna lokanya yang natural.
Jika Ia Daun Jika ia daun, berilah gugur, berilah agar tanah dapat menghimpun humusnya restu bagi luka-riangnya ibu-pohonnya Jika ia darah, sempurnakanlah perih lukanya, sempurnakanlah liang-lukanya, koyak-kelupasnya agar kucur-nyerinya menyungaikan aduh padamu saja Jika ia rahim, suburkanlah indung-telurnya, suburkanlah janin apabila ia mengasuhnya, suburkanlah ia bagai tanah yang subur, agar menggeliat benih rindunya menjangkau sang surya Jika ia air mata, puisikanlah asinnya, puisikanlah derainya, puisikanlah sedu-sedannya, ratap-raungnya, gelepar rentanya, lapar-rindunya, hidup-matinya agar semesta memahami bahwa ia hanya sebaris puisi (Ajamuddin Tifani, Berita Buana, 17 Des. ‘85)
Kemesraan puisi dengan warna lokal adalah bentuk kemandirian seorang penyair yang berpribadi. Kerinduan terhadap kemesraan warna lokal semakin lama tinggal sebagai kerinduan, jika orang berbicara tentang sastra kota. Sastra yang berangkat dengan sejumlah bagian yang terpotong-potong. Di satu pihak masyarakat agraris menghuni pemukiman di kota-kota, namun di pihak lain masih menggantungkan sikap dan tradisi yang terbentuk sekian tahun di masyarakat dusun. Dengan kombinasi ini mereka hidup. Dengan kombinasi ini mereka mulai mementingkan diri yang ditimbulkan oleh sistem komunikasi yang berpijak pada status, tingkat sekolah, turunan, asal-usul ataukolom gaji.
Kerancuan komunikasi manusia modern menimbulkan kegoncangan dalam nilai-nilai tradisi. Apa yang dulu dipertahankan secara tertib kini dipertanyakan. Sastra yang dibangun dalam kemesraan warna lokal dan natural yang dilapisi dengan cahaya keindahan, kini dijungkirbalikkan. Kecenderungan tematik dalam puisi modern ditampilkan secara faktual dengan menghilangkan efek emosi (estetik).
Kemesraan warna lokal dan kemesraan rasa solidaritas sosial yang tercermin dalam kedua sajak sebagai contoh pembicaraan di atas selalu membuktikan bahwa sastra mencerminkan sejarah manusia yang hidup dengan segala kesejarahannya. Kearifan puisi yang sampai saat ini didendangkan penyair masih meninggalkan suatu pesona yang dalam yang membangunkan kegairahan bahwa hidup bukanlah sesuatu yang menyakitkan tetapi juga menyenangkan.***
Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan