
Puisi dan Proses Keterbiusan : Oleh Shafwan Hadi Umry
Puisi dan Proses Keterbiusan : Oleh Shafwan Hadi Umry
Oleh Shafwan Hadi Umry
Pernah misalnya Amy Lowell mengatakan, dalam proses penciptaan seni dalam ha1 ini puisi bertolak dari misteri. Ia memisalkan penyair sebagai sinyal-sinyal pesawat radio yang sanggup menerima berita-berita pada gelombang yang beraneka ragam. Tapi penyair lebih daripada satu sinyal maupun wayar, oleh karena dia memiliki kemampuan untuk memindahkan berita-berita ke dalam pola-pola kata yang kita sebut puisi.
Berita-berita yang diterimanya mungkin berupa kunjungan inspirasi seperti kenangan, perasaan, pikiran, renungan, bunyi bunyian dan mungkin juga wanita. Kunjungan inspirasi bagai seorang tamu yang berbicara kepada penyairnya dan menuntun sang penyair untuk mencari kertas dan pena Sebagaimana yang dikatakan Amy Lowell. “Some poets speak of hearing a voice speaking to them...” (Sementara penyair mengatakan, mereka mendengarkan suatu suara yang berbicara kepada mereka).
Proses penciptaan satu cipta sastra memerlukan beberapa aspek yang harus ada antara lain konsentrasi, inspirasi, kenangan serta keyakinan. Seperti yang dikatakan Stephen Spender, “usaha menulis puisi yang terkonsentrasi itu merupakan suatu kegiatan spiritual, yang dapat membuat seorang penyair benar-benar lupa pada saat itu, bahwa dia mempunyai jasmani.”(Tarigan, 1971:52).
Tentulah mustahak kalau masalah penciptaan seni ini dihubungkan dengan analisis Sigmund Freud tentang psiko-analisisnya yang termasyhur itu. Menurut Freud tingkat pribadi yang paling dalam, ialah tingkat libido (bawah sadar).
Di bawah sadar yang paling dalam itu tersembunyi seluk-beluk pribadi manusia yang terkadang memunculkan konflik emosi antara perasaan tanpa sadar dengan keinginan di luarnya. Emosi itu sendiri bersifat dwirasa. Tidak ada emosi yang homogen. Benci dan sayang bercampur aduk. Seperti seorang lelaki mungkin membenci wanita tetapi sekaligus ia juga tertarik padanya.
Konflik batin yang terjadi dalam diri seorang penyair mungkin dapat disublimasikan, tapi bila menemui kegagalan ia mirip neurosis yaitu konflik emosi di dasar jiwa.
Hubungan antara seni penciptaan dengan neurosis ala Freud memang menarik untuk diadakan bahan pengkajian. Seperti yang dikemukakan Andre Harjana, “Hubungan antara sastra dan neurosis ala Freud menyangkut persoalan bawah sadar. Alkohol, narkotika dan sejenisnya dapat mengendorkan dan mengumpulkan kesadaran jiwa, sehingga dunia bawah sadar pun timbul. Coleridge, De Quincey, Dylan Thomas, misalnya terkenal dengan pendirian bahwa opium dan alkohol dapat menyingkap dunia pengalaman baru.”(1981:61)
Kegemaran menikmati opium, narkotik ataupun minum bir, adalah suatu sikap yang kurang terhormat dalam pandangan publik relegius sebagai partisipan aktif dalam menikmati karya-karya penyair. Pada umumnya penyair sering mengalami kerasukan dan berbicara tidak sadar dalam tingkat yang suprarasional. la mengalami stone atau trance. Sebagaimana Rendra mengakui dalam kesadaran alam, yakni kesadaran di luar kesadaran kebudayaan, atau kesadaran di luar perbendaharaan kebudayaan sehari-hari, di luar akal sehat pada umumnya. Dengan kata lain saya sering berada dalam keadaan trance atau stoned (1983:63).
Dalam kondisi mengalami trance seperti pengalaman Rendra di atas pada dasarnya tiap penyair mengalami suatu keterbiusan. Untuk mencapai suasana keterbiusan itu terdapat berbagai cara yang dilakukan penyair Bagi Rendra barangkali proses keterbiusan itu Iebih bersifat intelektual daripada bersifat fisik. Tidak demikian halnya penyair modern yang membangunkan rangsangan fisiknya dengan siraman bir. Namun masing-masing cara yang dilakukan penyair ialah untuk menimbulkan keadaan trance. Dalam suasana semacam itu penyair mungkin mengalami kegirangan batin dalam saat proses kreatif .
Sutan Takdir Alisjahbana pernah menyatakan, “dalam sastra saya dalam keadaan seorang pencipta yang bebas menumbuhkan perasaan dan pikiran yang fantasi dan menyusun sekaliannya dengan kebebasan menjadi sesuatu yang menjelmakan kepribadian saya. Hasrat dan dambaan kegirangan maupun kesedihan saya dapat saya lepaskan sebebas-bebasnya.”(1977:9).
Peristiwa kreatif seorang sastrawan seperti Takdir Alisyahbana sudah menunjukkan beberapa karakteristik tentang penciptaan seni. Di dalamnya kegirangan dan kedukaan kumpul menjadi satu dalam liang magma, semisal gunung berapi yang menyimpan lava. Maka puisi merupakan lavanya imajinasi yang mencegah adanya gempa bumi. Pada saat demikianlah sebuah lahan yang subur dari genesis penciptaan mulai berproses dengan segala kemungkinannya.
Iwan Simatupang pernah mengatakan, “Tiap karya seni adalah organisme mutlak sejak dari mula sekali. Plotnya, eksposenya, ‘momen motoris’-nya yang mencakup klimaks dan antiklimaksnya, moralnya, filsafatnya, semuanya ini sudah komplit hadir sejak dari genesisnya yang acap juga disebut ilham, instuisi entah apa lagi itu.” (1983:255).
Karya seni yang lahir sejak mula atau menurut Iwan ‘sejak genesis’ penciptaan memang punya kesinambungan yang tak terumuskan, karena ia dipungut dari perbendaharaan roh manusia. Ia lahir dengan kepribadian yang total. Seperti ucapan Subagio Sastrowardojo , “lahir dari kepenuhan pribadi manusia, filsafat yang berupa pengentalan dan pengendapan pengalaman jasmaniah dan rohaniah. Sumber galian pengalaman-pengalaman itu adalah di dalam alam bawah sadar daerah gelap rahasia itu, tetapi kaya akan air hayat, sumber kesadaran yang cerah tentang jagat manusia dan Tuhan.” (Simponi, 1971:50).
Penyair sebagai produser kreativitas seni berada di luar pendekatan rasional. Mereka selalu hidup dalam konflik batin. Dunia instink dan emosi mengakui dan menerima misteri, teka-teki, sublimasi dan fantasi. Maka tidaklah mengherankan mengapa para penyair senantiasa terjebak dalam keakraban dengan hati nurani mereka sebagai pusat kepribadian yang mempersatukan akal budi dan intuisi, pengalaman dan perasaan.
Penciptaan seni pada hakikatnya dimulai pada proses keterbiusan dan melahirkan wawasan kreatif dengan segala kemungkinannya.***
Penulis dosen tinggal di Medan