

SAYA, termasuk dalam rombongan Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Riau mewakili Yayasan Haji Muslimat NU, yang menghadiri Kongres XVIII Muslimat NU, di Surabaya, 10–16 Februari 2025. Ada 37 peserta dari Riau ikut dalam kegiatan ini, termasuk perwakilan perangkat organisasi dari Yayasan Haji Muslimat NU, Hidmat MNU, Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU, Yayasan Pendidikan Muslimat NU dan sejumlah bidang lainnya. Rombongan dipimpin langsung oleh Ketua PW Muslimat NU Riau, Dinawati, S.Ag, M.Si.
Setibanya di Surabaya, para peserta disambut dengan hangat oleh panitia lokal. Para delegasi dari berbagai provinsi dari seluruh Indonesia berdatangan menggunakan beragam moda angkutan. Ada yang naik pesawat udara, tranportasi darat dan lewat kapal. Umumnya rombongan dari Indonesia Timur seperti Papua, Sulawesi dan sekitarnya menggunakan kapal laut. Para peserta kongres diinapkan di Asrama Haji Sukolilo, tempat yang telah sering digunakan untuk perhelatan besar, mengingat kapasitasnya yang memadai untuk menampung ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Pembukaan oleh Presiden Prabowo
Kongres XVIII Muslimat NU secara resmi dibuka oleh Presiden Prabowo Subianto. Acara pembukaan berlangsung meriah, dengan Presiden Prabowo menabuh rebana sebagai simbol dimulainya kongres. Turut hadir Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan sejumlah pejabat tinggi negara.
Presiden Prabowo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap peran Muslimat NU dalam menjaga stabilitas sosial dan berkontribusi terhadap ketahanan nasional, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa.
Presiden menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendukung program-program Muslimat NU, khususnya yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan, pendidikan Islam, dan kesejahteraan sosial.
Prabowo sangat mengapresiasi tiga program yang diluncurkan Khofifah yaitu Mustika Darling yaitu Muslimat NU Cantik dan Sadar Lingkungan, Mustika Mesem (Muslimat NU Cantik Mengentaskan Kemiskinan) dan Mustika Bugar yaitu Muslimat NU Cantik, Sehat dan Bugar.
Program Kerja
Program kerja Muslimat NU untuk 5 tahun ke depan meliputi, peningkatan kesejahteraan perempuan dan anak melalui berbagai program sosial.
Dukungan terhadap pendidikan Islam, khususnya melalui penguatan lembaga pendidikan di bawah naungan Muslimat NU.
Penguatan ekonomi keluarga dan pemberdayaan perempuan melalui pelatihan kewirausahaan serta akses permodalan yang lebih luas.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, turut memberikan arahan kepada peserta kongres. Yahya menegaskan bahwa Muslimat NU memiliki peran strategis dalam mendukung program-program NU serta memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan harmonis.
Dinamika Pemilihan Ketum Organisasi
Salah satu agenda utama kongres ini adalah pemilihan Ketua Umum Muslimat NU untuk periode 2025–2030. Pemilihan berlangsung cukup dinamis.
Khofifah Indar Parawansa disepakati menjadi Ketua Dewan Pembina Muslimat NU untuk periode lima tahun ke depan. Pemilihan dilakukan melalui mekanisme musyawarah.
Setelah pemilihannya, Khofifah mengusulkan tiga nama untuk posisi Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU, yaitu Arifah Choiri Fauzi, Siti Aniroh Slamet Effendy, dan Ulfah Mashfufah. Para peserta kongres akhirnya memilih Arifah Choiri Fauzi, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sebagai Ketua PP Muslimat NU.
Penyusunan kepengurusan lebih lanjut dilakukan oleh Tim Formatur yang terdiri dari utusan PBNU dan perwakilan tujuh wilayah besar Muslimat NU. PBNU sendiri mengutus dua orang untuk mendampingi jalannya kongres dan memastikan prosesnya berjalan sesuai tata tertib yang telah disepakati.
Keputusan-keputusan Kongres
Kongres XVIII Muslimat NU menghasilkan beberapa keputusan penting yang akan menjadi arah kebijakan organisasi dalam lima tahun ke depan.
Program Kerja organisasi meliputi peningkatan kesejahteraan perempuan dan anak melalui berbagai program sosial. Dukungan terhadap pendidikan Islam, khususnya melalui penguatan lembaga pendidikan di bawah naungan Muslimat NU.
Penguatan ekonomi keluarga dan pemberdayaan perempuan melalui pelatihan kewirausahaan serta akses permodalan yang lebih luas.
Selain itu, kongres ini juga membahas berbagai isu strategis, termasuk program pemberian makanan bergizi gratis bagi siswa dan santri, serta peran Muslimat NU dalam pengentasan kemiskinan.
Kegiatan Kongres yang berlangsung sepekan diisi dengan berbagai agenda acara yang padat.
Beberapa kegiatan utama meliputi: Khatmil Qur’an dan Santunan 1000 Anak Yatim, Peluncuran Program Mustika Muslimat NU yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan perempuan dan keluarga melalui pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.
Diskusi Isu-isu sosial membahas berbagai isu strategis seperti perkawinan anak, peningkatan peran perempuan dalam pembangunan, serta kebijakan-kebijakan baru yang dapat meningkatkan kesejahteraan perempuan dan anak-anak di Indonesia.
Peringatan Nisfu Syaban dengan Pemberian Ijazah Amalan
Dalam momen ini, Muslimat NU memberikan ijazah amalan khusus kepada para peserta, yang diyakini dapat membawa keberkahan dan perlindungan bagi keluarga mereka.
Setelah berlangsung selama enam hari, dan dihadiri lebih 7000 muslimat NU dari berbagai daerah dan mancanegara, Kongres XVIII mengamanatkan agar Muslimat NU terus berkembang menjadi organisasi yang semakin kuat dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara Muslimat NU, pemerintah, dan berbagai pihak dalam mewujudkan kesejahteraan umat.
Para peserta kongres termasuk dari Riau pun kembali ke daerah masing-masing dengan membawa berbagai ilmu, pengalaman, harapan dan kenangan untuk diterapkan dalam organisasi di masing-masing tingkat wilayah dan cabang. Dengan hasil kongres yang penuh optimisme, Muslimat NU diharapkan mampu terus berkontribusi dalam membangun bangsa dan memperjuangkan kepentingan perempuan serta keluarga di Indonesia. *
Hj. Tutin Apriyani, SE adalah mantan pramugari dan kini aktif dalam kepengurusan organisasi Muslimat NU Riau.