Acara pemberian dan pengukuhan gelar adat jangan dilihat dari sisi seremonialnya, dibaliknya tersirat makna yang sangat dalam terutama dalam pelestarian adat. Pemberian gelar adat sudah banyak dilakukan oleh pemerintah seperti halnya di Provinsi Jambi dilakukan kepada Jenderal TNI (Purn) Edi Sudradjat sebagai “sesepuh adat” Provinsi Jambi.
Kemudian pengukuhan gelar adat “Ratu Intan Noto Manggala” kepada Gubernur Jambi. Parni Hadi, wartawan terkemuka Indonesia pernah menyatakan bahwa pengukuhan gelar adat kepada petinggi dan tokoh nasional merupakan gejala masyarakat pasca modern di belahan dunia Barat. Pemberian dan pengukuhan gelar adat justru berdampak positif dalam arti mampu menjadi penyaring adat budaya asing yang menerobos masuk ke Indonesia melalui jaringan informasi dan komunikasi canggih yang sulit untuk dihindarkan.
Penggunaan kata “Ratu” di Jambi bukan hal baru karena istilah ini sejak dulu telah dikenal antara lain pada zaman Majapahit dan Melayu. Secara harfiah Ratu adalah pucuk pimpinan tertinggi. Oleh karena itu Pangeran Ratu pada zaman kerajaan Jambi merupakan sosok pemimpin dari Dewan Patih Luar dan Dewan Patih Dalam yang waktu dulu cukup disegani. Tentang istilah intan merupakan cerminan dari sesuatu yang disenangi, dihormati dan dikagumi. Sedangkan Noto Manggala berasal dari dua kata Noto dan Manggala. Noto berarti mengatur termasuk mengatur pemerintahan dan masyarakat, sedangkan kata Manggala berarti guru besar yang pengalamannya sangat luas dan bijaksana.
Majelis Adat Budaya Melayu Medan berdasarkan musyawarah dan mufakat Pengurus inti telah memutuskan pemberian Gelar Warga Kehormatan Masyarakat Melayu Deli kepada Harly Siregar, S.H., M.H.
Tunjuk Ajar Melayu
Pengertian Tunjuk Ajar Melayu berarti segala petuah dan amanah suri teladan, nasihat, dan amanat yang membawa manusia ke jalan yang lurus. Orang tua-tua mengatakan, bahwa hanya orang-orang yang mampu menjadikan dirinya contoh teladan yang dapat mewariskan tujuk ajarnya. Sebab, di dalam kehidupan tradisional orang Melayu, kebanyakan dari mereka lebih mempercayai contoh teladan yang nyata daripada mendengar pembicara. Dalam ungkapan Melayu dikatakan, “mencontoh kepada yang tampak/meniru kepada yaitu nyata“. Berikutnya dijelaskan, bahwa dalam menafsirkan ungkapan tidaklah selalu dengan “harga mati“, tetapi dapat dikembangkan seluas mungkin, asal tidak berubah dari makna hakikinya. Hal ini diangggap penting, karena perkembangan penafsiran dapat sejalan dengan perkembangan zaman dan masyarakatnya, sehingga ungkapan yang mengandung nilai-nilai luhur dapat pula terus hidup dan berkembang pada masyarakat pendukung. Dalam ungkapan dikatakan, “cakapnya tetap, pahamnya beranak pinak“.
Di bawah ini akan diturunkan kriteria manusia paripurna atau Insan Kamil menurut versi Tunjuk Ajar Melayu.
Taqwa kepada Allah
Apa tanda Melayu jati
Bersama Islam hidup dan mati
Apa tanda Melayu pilihan
Hidup matinya dalam beriman
Supaya hidup beroleh rahmat
Amal badat jangan disukat
Supaya hidup beroleh berkah
Amal tanyak, taqwa melimpah
Taat kepada Pemimpin
Ada orang terpuji
Pemimpinnya dijunjung tinggi
Taat tidak terbelah
Bagi setianya kokoh menahan uji
Adat hidup sama senegeri
Memuliakan pemimpin sepenuh hati
Adat hidup manajemen rakyat
Kepada pemimpin selalu taat
Mana yang busuk sama di kerat
Mana yang runcing sama dipepat
Mana yang renggang sama dirapat
Mana yang jauh sama diperdekat
Mana yang hilang sama diingat
Mana laba sama mendapat.
Taat kepada orangtua
Apa tanda anak menakah
Kepada ibu bapak pantang menyanggah
Apa tanda anak berbudi
Kepada ibu bapak ia mengabdi
Apa tanda anak beriman
Kepada orangtua ianya sopan
Apa tande anak manusia
Ibu bapaknya tak sia-sia
Kalau hendak beroleh berat
Pada ibu bapak elokkan sifat
Kalau hendak menjadi orang
Budi ibu bapak hendaklah kenang.
Medan, 5 November 2025