

Judul : Sapiens Di Ujung Tanduk
Penulis : Iqbal Aji Daryono
Cetakan : Pertama, April 2022
Tebal : xiv + 162 halaman
ISBN : 978-602-291-897-4
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Era saat ini merupakan era yang dekat dengan era digital dan segala hal yang berkaitan dengan dunia digital. Komunikasi dan informasi, dua kata dan dua dunia yang saling mempunyai keterkaitan satu sama lain. Komunikasi dan informasi juga ikut memasuki era digital yang sekarang seperti sudah menjadi hal yang umum untuk dijumpai.
Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan komunikasi dan informasi untuk mendukung segala bentuk kegiatan dan aktivitas yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, lelaki maupun perempuan. Komunikasi dan informasi merupakan hal penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari untuk menghasilkan keharmonisan sosial demi terciptanya ketertiban dan ketenteraman masyarakat.
Banyak buku yang membahas dan membahasakan tentang komunikasi dan informasi era digital telah banyak beredar di masyarakat. Buku dari penulis yang pernah menjadi supir truk di negeri Kangguru, Australia, bernama Iqbal Aji Daryono ini merupakan buku unik yang menambah khazanah ilmu pengetahuan mengenai komunikasi dan informasi pada era digital dengan tulisan-tulisannnya yang begitu otentik sekaligus menggelitik sehingga membuat para pembacanya tertawa dan bisa saja merasa tertohok.
Buku ini terdiri dari 30 tulisan dan karya dari Iqbal yang dimulai dengan tulisan berjudul ‘Dari angkringan ke medsos’ hingga ‘Ruang-ruang yang tak lagi dicintai’. Kesemuanya disajikan dengan bahasa ringan dan bahasa ilmiah. Gabungan kedua bahasa ini yaitu bahasa ringan dan bahasa ilmiah, mampu memberikan hal-hal yang baru dan terkadang menjadi otokritik bagi anggota masyarakat yang terlalu larut dalam komunikasi dan informasi era digital sehingga menjadi sedikit lupa tentang pribadinya sebagai makhluk sosial.
Iqbal yang dalam buku ini menyebut dirinya sebagai praktisi medsos penuh waktu melihat realitas yang terjadi dalam dunia komunikasi dan dunia informasi khususnya pada era digital sekarang ini. Terhadap medsos, Iqbal menulis bahwa (hlm. 18-19) kita cukup mudah menyebut seseorang menghilang, padahal yang terjadi tak lebih daripada “tak terlihat lagi di medsos”. Tanpa sadar, medsos telah menjadi kata kunci untuk menentukan apakah seseorang ada ataukah tidak ada!
Dalam tulisan Iqbal berjudul ‘Literasi media yang terlupa’ (hlm. 52 s/d 57), Iqbal dengan jitu menekankan pentingnya literasi media untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat dalam memilih informasi yang disantap setiap hari. Bagi Iqbal, literasi media pada era sekarang menjadi sebentuk life skill wajib yang akan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. Ia harus disediakan sebagai bagian dari hak warga atas pendidikan.
Menurut Iqbal (hlm. 133), menulis membutuhkan kemampuan menggali ide, keterampilan menata struktur pikiran, kecanggihan dalam menyodorkan argumen yang logis, kuat, dan sebagainya. Tulisan-tulisan Iqbal yang jenaka dengan tetap mengedepankan kualitas disajikan dengan begitu lezatnya sehingga tulisan-tulisan Iqbal disantap dengan penuh rasa ingin tahu yang mendalam.
Pengalaman pribadi Iqbal yang banyak berkecimpung di media sosial turut menjadi warna yang terdapat dalam tulisan-tulisannya yang berbobot dan berisi sehingga semakin menegaskan keunikan tulisan dengan gaya unik yang keunikannya hanya ada pada diri Iqbal melalui tulisan-tulisannya. Dalam buku ini, peristiwa yang pernah terjadi dalam media sosial yang dilalui Iqbal juga turut disajikan agar dapat menjadi pelajaran bersama untuk semakin bijak dalam menyikapi dunia media sosial, komunikasi, dan informasi pada era digital yang penuh dengan lalu lintas komunikasi dan informasi yang begitu cepat dan penuh dinamika.
Buku-buku yang berkaitan erat dengan dunia komunikasi dan dunia informasi termasuk dunia media sosial, biasanya disajikan dengan bahasa-bahasa yang hanya dimengerti oleh beberapa kalangan saja. Namun, pada buku Iqbal ini, perspektif yang beragam dalam dunia media sosial, komunikasi, dan informasi pada era digital dirangkai dengan campuran antara kata-kata yang cerdas dengan untaian-untaian kalimat yang memikat sehingga menjadikan tulisan-tulisan Iqbal dalam buku ini semakin menawan untuk dijadikan pelajaran bagi banyak kalangan.
Nezar Patria, wartawan senior mengenai buku Iqbal (hlm. ii), “Kita senang dengan gaya tulisannya yang jenaka, tapi juga jengkel karena kritiknya tentang ironi masyarakat digital, kok, banyak benarnya.” Ironi masyarakat di dunia dan era digital disajikan dengan begitu renyah. Para pembaca disuguhkan tulisan-tulisan yang mampu menyentuh kehidupan sehari-hari pada era digital sekarang ini.
Buku ini dapat dibaca oleh kalangan masyarakat luas termasuk mereka yang berkecimpung dalam dunia media sosial. Mahasiswa dan mahasiswi jurusan ilmu komunikasi khususnya serta mahasiswa dan mahasiswi secara umum, dapat menjadikan buku ini sebagai salah satu referensi untuk melihat apa yang terjadi dalam ranah media sosial pada era digital sekarang ini.
Media sosial digunakan dan dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik dan benar tanpa menghilangkan kenyataan yang terjadi dalam dunia yang sesungguhnya bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam menjalankan keseharian sebagai realitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Buku Iqbal ini semakin menegaskan kesungguhan makna tulisan dan kedalaman arti tulisan dalam setiap bingkai kata-kata dan setiap untaian kalimat-kalimat yang dirangkai sangat berisi sekaligus juga humor-humor yang berbobot sehingga membuat para pembaca merasa terbangun dengan kritisisme yang disuguhkan dan disajikan tanpa ada kesan menggurui.
Bijaksana dalam menyikapi kehidupan merupakan hal yang patut menjadi perhatian setiap anggota masyarakat agar hidupnya berisi dan bermanfaat bagi banyak orang. Bijaksana dalam menyikapi dunia media sosial, komunikasi, dan informasi pada era digital tentu saja sangat perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar terjadi keselarasan dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Jimmy Frismandana Kudo, Guru PPKN SMA Darma Yudha, Pekanbaru dan Alumni Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), frismandana@yahoo.co.id