

Oleh : Firdaus Herliansyah
Seringkali sebuah perjalanan itu bukan soal seberapa cepat kita sampai di tujuan, tapi bagian terbaiknya justru datang dari cerita-cerita yang lahir di sepanjang alurnya.
Tahun 2026 telah menuntun langkah kaki saya menuju babak petualangan baru yang tak terlupakan dalam hidup. Bertempat di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, Saya berkesempatan untuk menghadiri helat Festival Telaga Air Merah VI Tahun 2026. Tidak cuma memanjakan mata, bagi saya perjalanan ini juga memberikan asupan bagi jiwa.
13 Jam Pengalaman Magis di Kapal Jelatik
Petualangan dimulai pada suatu sore yang hangat di Pelabuhan Sungai Duku, Pekanbaru. Tampak Kapal Jelatik sudah bersandar gagah di dermaga. Bagi masyarakat Riau khususnya orang Melayu pesisir, bahtera kayu legendaris ini di masa dahulu merupakan urat nadi penghubung antara daratan dan kepulauan. Saya sendiri masih menyimpan memori berkesan tentang Kapal Jelatik di masa kecil ketika mengunjungi sanak saudara di Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis. Kala itu jalan darat belum terlalu populer dan Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah belum lagi dibangun.

Dalam 13 jam ke depan, kapal ini adalah rumah berjalan buat saya, membelah heningnya Sungai Siak dan bermandikan sinar bulan. Experience ini buat saya benar-benar tak terlupakan. Di atas dek kapal, ruang dan waktu seolah mencair. Pengalaman bertemu teman-teman baru lintas komunitas sangat mengasyikkan. Ditemani pemandangan nelayan yang mencari ikan dan pabrik-pabrik di sepanjang Sungai Siak, kami berbagi cerita tentang banyak hal random, mulai dari potensi wisata di daerah masing-masing, hingga tenggelam dalam percakapan intens tentang sejarah kejayaan Kerajaan Siak Sri Indrapura yang sungainya sedang kami lintasi sepanjang malam itu. Riak air sungai dan deru mesin kapal seolah jadi musik orkestra yang sempurna bagi diskusi kami.

Awalnya saya sempat heran, kenapa panitia lebih memilih jalur perjalanan via transportasi air yang memakan waktu tidak sebentar. Bagi masyarakat perkotaan yang senantiasa berpacu dengan waktu, dikejar produktivitas, dan hiruk pikuk tenggat waktu, tentu rasanya tidak efektif memilih moda transportasi yang dianggap wasting time. Namun ketika saya sudah mulai menikmati perjalanan, merenung dan refleksi diri, barulah saya menyadari. Memilih Jelatik bukanlah hendak membuang waktu, tapi berarti memilih untuk melambat, menikmati waktu, dan meresapi esensi dari sebuah perjalanan kehidupan.

Welcome to Selatpanjang: Hujan, Becak, dan Kedai Kopi
Azan Subuh membelah langit Selatpanjang ketika Kapal Jelatik merapat di Pelabuhan Tanjung Harapan. Pagi ini Selatpanjang menyambut kami dengan rintik hujan yang sejuk, seolah hendak mengguyur sisa-sisa penat perjalanan sepanjang malam tadi. Di Pelabuhan sekumpulan becak motor khas Selatpanjang sudah menunggu kami. Tanpa menunggu lama, kami menaiki becak motor yang sudah disediakan. Menerobos deru hujan menggunakan transportasi khas ini tentu memberikan sensasi tersendiri. Kami juga sempat singgah berkumpul di rumah tua khas Melayu milik salah seorang panitia tempatan dengan sambutan hangat dan ramah tamah. Lalu tak lama setelah itu kami pun bergerak menuju Kedai Kopi Harum Sari di Jalan A. Yani.

Suasana khas kedai kopi dengan view laut Selatpanjang memberikan kehangatan yang langsung menjalar seiring seruputan secangkir kopi panas. Mie Sagu dan teh tarik khas Kepulauan Meranti menemani kelakar dan obrolan pagi kami. Saya bersama rombongan mengambil kesempatan sehabis sarapan untuk berfoto sejenak di Klenteng Hoo Ann Kiong yang tak jauh dari kedai kopi, sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan darat selama 45 menit menuju titik lokasi acara: Telaga Air Merah, Desa Tanjung, Kecamatan Tebingtinggi Barat.

Rasa lelah seketika menguap begitu kami tiba di lokasi. Kesejukan udara dan keindahan Telaga Air Merah membikin saya terpesona. Air berwarna merah alami dan dikelilingi rimbunnya hutan hijau menyajikan eksotisme lanskap yang tidak saya temukan di destinasi wisata lain.
Keramahan Budaya Melayu dan Kuliner yang Memanjakan Lidah
Keramahtamahan khas orang Melayu turut membuat perjalanan ini semakin berwarna. Ada ketulusan dalam setiap senyuman dan kehangatan di setiap sudut lewat sapaan masyarakat Desa Tanjung yang berkesan di hati. Kami disambut layaknya keluarga yang baru pulang merantau jauh.

Bukan orang Melayu namanya kalau tak ada tradisi memuliakan tamu lewat hidangan. Tak pernah patah selera kami selama di sini, sebab lidah selalu dimanjakan oleh kelezatan mie sagu yang lembut dan kaya rempah, gulai siput sedut yang gurih dan unik, hingga ikan asam pedas dengan kuah gurih yang segar. Setiap suapan terasa seperti perayaan kuliner lokal yang otentik.
Festival Telaga Air Merah : Sebuah Selebrasi Kebersamaan
Event tahunan ini dibuka secara resmi oleh Bupati Kepulauan Meranti, H. Asmar, bersama jajaran Forkopimda setempat. Kehadiran beliau tak cuma untuk membuka festival, tetapi juga meresmikan infrastruktur jalan sepanjang 1.600 x 3 meter yang menjadi urat nadi baru bagi warga setempat.

Pagi hari kami selama festival selalu diawali dengan vibes positif melalui senam kebudayaan bersama. Kemeriahan juga sangat terasa lewat aneka perlombaan tradisional yang digelar. Riuh sorak penonton di tepi telaga air merah menyaksikan lomba pacu sampan, keseruan ibu-ibu dalam lomba cucuk atap, hingga tawa ceria anak-anak yang mengikuti lomba mewarnai. Festival ini boleh dibilang telah sukses menjadi ruang temu yang menyatukan banyak komunitas, institusi, hingga seluruh lapisan generasi.
Dari Tempat ‘Angker’ Menjadi Komoditas Wisata
Di balik gegap gempita Festival Telaga Air Merah 2026, ada satu cerita yang membuat saya benar-benar kagum tentang sejarah panjang Telaga Air Merah. Siapa sangka, destinasi telaga seindah ini dulunya merupakan bekas lokasi PDAM di era Kabupaten Bengkalis yang lama terbengkalai. Bertahun-tahun tak terurus, tempat ini bahkan sempat dianggap ‘angker’ oleh masyarakat. Namun, lewat solidaritas, kreativitas, dan semangat kebersamaan para pemuda serta warga tempatan, tempat yang sempat “mati” ini sukses disulap jadi komoditas wisata yang luar biasa dan menggerakkan ekonomi lokal. Betapa tidak, pada tahun 2025 lalu, BUMDes ini berhasil meraup pendapatan berkisar Rp183 juta.

Transformasi ini tentunya tidak terjadi begitu saja. Di antara apresiasi yang patut disematkan adalah kontribusi program CSR dari EMP PT. Imbang Tata Alam (ITA). Dukungan penuh dan totalitas dari pihak perusahaan dalam men-support kegiatan ini adalah sebuah bukti nyata bagaimana sinergitas antara korporasi, komunitas, dan masyarakat lokal bisa melahirkan dampak ekonomi yang nyata bagi warga sekitar.
Malam Penutupan yang Meriah dan Berkesan
Malam penutupan Festival adalah puncak dari kemeriahan. Malam di tepian telaga berubah menjadi panggung kebudayaan yang megah namun kental tradisi. Alunan musik dari orkes Melayu membuat seluruh hadirin terhibur, ditambah lagi keanggunan tarian kreasi Melayu, drama teater, peragaan busana (fashion show), serta semaraknya pertunjukan Barongsai, turut merepresentasikan harmoni keberagaman masyarakat di Kepulauan Meranti.

Malam semakin spektakuler dan dramatis saat aksi teatrikal pembacaan puisi mulai menggema. Kolaborasi peserta Festival dan anak-anak masyarakat lokal telah turut membakar semangat, hingga akhirnya Festival ditutup dengan kobaran api unggun yang membarakan langit malam di Kepulauan Meranti.
Kembali Pulang dengan Perasaan Galau
Saat perjalanan pulang telah tiba, perasaan saya benar-benar campur aduk. Antara buncahan rasa bahagia dan puas karena telah menjadi bagian dari Festival ini. Namun, di satu sisi terselip pula rasa sedih sebab harus meninggalkan tanah ini, beserta orang-orang ramah yang baru saya kenal, serta mengakhiri segala pengalaman serta insight baru yang amat berharga dalam perjalanan kehidupan saya.

Festival Telaga Air Merah 2026 memberikan sebuah pelajaran penting tentang arti sebuah harapan dan perjuangan. Masyarakat Desa Tanjung di Kecamatan Tebingtinggi Barat telah membuktikan bahwa melalui komunitas, gotong royong, dan komitmen, sesuatu yang awalnya terbengkalai dan dilupakan dapat diubah menjadi permata yang bersinar dan memberi arti dalam kehidupan banyak orang.
Bagi saya, Telaga Air Merah bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah simbol refleksi semangat dari pelosok terpencil di Meranti yang mengajarkan kita semua bahwa perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama. Sampai jumpa lagi, Meranti! (firdaus)
Firdaus Herliansyah adalah penulis yang berdomisili di Kota Pekanbaru. Seorang suami dan ayah yang saat ini bekerja sebagai ASN di Pemerintah Provinsi Riau. Penulis memiliki hobi dalam dunia digital, kebudayaan, literasi, dan sastra. Beberapa tulisannya seperti opini, artikel, puisi dan cerpen telah dimuat dalam media online dan buku antologi bersama.