Puisi-Puisi Hinarto

14

Halimun di Kaki Bukit

Pagi membuka halimun seperti senyum,
di kaki bukit hijau bernapas lega;
meja biliar terhampar tenang,
bola-bola kecil belajar berjalan.

Satu garis bergerak pelan,
menyentuh lalu berpindah arah;
di tiap pantulan, hati mengangguk,
bahwa tak semua harus tepat untuk bahagia.

Kolam renang menampung langit,
birunya jujur tanpa rahasia;
aku turun ke dalam riaknya,
membiarkan diri menjadi ringan.

Air terjun turun tanpa ragu,
suara jatuhnya bersih dan ramah;
ia mengajarkan satu hal sederhana:
berani jatuh, lalu terus mengalir.

Halimun perlahan menipis,
matahari hadir secukupnya;
meja, kolam, dan jatuh air saling sapa,
dalam satu pagi yang utuh.

Saat senja tiba tanpa beban,
aku pulang membawa terang kecil;
di kaki bukit, aku mengerti—
bahagia tak perlu dijelaskan.

Cisarua, 25 Januari 2026

Tulisan Terkait

Puisi-Puisi Iainurroziq

Berita Lainnya

Mandala yang Retak

Di tubuh Candi Borobudur
aku menjadi bayang
yang berjalan di antara lingkar.

Batu adalah ingatan,
dan waktu menjelma debu
yang tak pernah jatuh.

Dalam diam yang megah,
ada denyut tanpa nama—
seperti tanya
yang menolak dijawab.

Relief berbisik dalam tanda:
burung tanpa langit,
air tanpa muara,
langkah tanpa tujuan.

Aku menaiki diriku sendiri,
lapis demi lapis dilepaskan,
hingga yang tersisa
hanyalah kosong yang bernapas.

Dan di puncak
yang bukan akhir,
aku pecah menjadi makna
yang tak lagi ingin utuh.

Magelang, 26 Maret 2026

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan