

Bahasa pilihan dari setiap pengarang atau penyair adalah bahasa khusus yang ditemukan, diciptakans dijelajahi, dan dikembangkan untuk menceritakan dan menjelaskan dunia rekaan yang sesungguhnya abstrak dan berada di luar jangkauan pembaca.
Dengan bahasa-bahasa tersebut sang penyair harus dapat mencapai dua misi, yaitu menjelaskan dengan meyakinkan tentang dunia rekaannya yang abstrak dan berada di luar jangkauan pembaca serta juga mampu memberi pengalaman kebaruan tentang kehidupan.
Penyair pada umumnya berbicara tentang sesuatu yang sangat akrab tetapi belum tentu otomatis akrab bagi pembaca. Keanekaragaman sumbangan sastrawan atau penyair tak dapat dinafikan adalah menyentuh masalah mode of expression, cara penyampaian, pilihan kata dan pemakaian simbol serta Idiom.
Pada ranah puisi pembaca dapat melihat dan membaca persoalan manusia dan dunia rekaan yang pada mulanya tidak akrab bagi pembaca menjadi lebih akrab akibat kemampuan berkomunikasi dengan bahasa pilihan pengarang atau penyair.
Puisi-puisi yang sezaman dengan para pembacanya lebih mendekatkan persoalan yang relevan dengan pengalaman pembaca, Terutama orang-orang yang hidup dalam era globalisasi dunia kini dapat melihat dan memantau kegembiraan maupun keresahan kultural bangsanya. Pekerjaan seorang sastrawan( penyair) adalah menciptakan, sedang pekerjaan seorang pembaca sastra adalah memahami dan mendalami hasil pekerjaan sastrawan
“Bagi penyair“, kata Sartre, ‘bahasa adalah suatu struktur dunia luar. Pembicara berada dalam situasi, dalam bahasa, ia dikurung dengan kata. Kata-kata ini adalah penyambung-penyambung artinya, jepitan-jepitannya, sungut-sungumya, kacamata-kacamatanya. Ia mengolah gerak dari dalam; ia merasakannya seolah-olah sebagai badannya sendiri; ia dikelilingi oleh sosok badan kata-kata yang hampir tidak diinsafinya dan yang meregangkan aksinya atas dunia. Penyair berada di luar bahasa‘ (Wiratmo Soekito dalam Umry, Juli 2002).
Seorang sastrawan yang menulis buku-buku untuk rakyat banyak tetap berada dalam bahasa. Namun, ketika ia menulis dalam genangan proses penciptaan maka yang terjadi adalah bahasa sebagai suatu dunia luar, karena ia sedang menciptakan objek-objektermasuk kata-kata secara kreatif.
Peran bahasa sangat penting dalam sastra. Hal ini dapat dibuktikan ketika Subagio Sastrawardojo (Umry, 2012) menyatakan di dalam lukisan, nyawa masih terus bergulat hendak mengucapkan diri seakan-akan terkungkung dalam tubuh yang tak dianugerahi bahasa. Maka akhimya Subagio.menyambut bidang kesusastraan sebab di sini dia dapat mengucapkan dirinya secara penuh sebagai manusia sekalipun insaf bahwa bayangan yang terlukis lebih kekal dan universal daripada bahasa sebagai sarana sastra.
Di bawah ini diturunkan satu paragraf puisi Afrizal Malna (1995:11):
‘kita lihat Sartre malam itu lewat pintu tertutup menawarkan manusia mati dalam sejarah orang lain, tetapi wajah-wajah Dunia Ketiga yang memerankannya , masih merasa heran dengan kematian pikiran/neraka adalah orang-orang lain” tak ada yang memberitahu di situ, bagaimana masa lalu berjalan memposisikan mereka di sudut sana. Lalu kukutip butir-butir kacang dari atas pangkuanmu. Mereka telah melebihi diriku sendiri (Migrasi dari kamar Mandi).
Sebuah sindiran cukup tajam yang disampaikan Afrizal Malna adalah dominasi kemerdekaan individu pada segala hal, namun di pihak lain sebenarnya ia berarti kericuhan dan chaos, ketidaknyamanan sosial seperti yang dialami masyarakat kita saat ini. Eksistensialisme yang membela individualisme tampil dalam tesis ‘neraka adalah orang lain’ seperti yang digaungkan Sartre di masa lampau.
Kemudian penyair Sutardji Calzoum Bachri menulis puisi yang berasal dari wilayah ‘psikologi mentalistik’ setelah melihat dan mengalami peristiwa sosial di tanah air.
Tanah airmata tanah tumpah dukaku Mata air air mata kami Air mata tanah air kami Di sinilah kami berdiri Menyaksikan air mata kami Di balik gembur subur tanahmu Kami simpanperih kami Dibalik etalase megah gedung-gedungmu Kami coba sembunyikan derita kami (Tanah Airmata)
Kedua puisi di atas mencerminkan sebuah peristiwa yang diolah dalam dunia kata-kata. Pernyataan ini membenarkan apa yang disebut Goenawan Mohamad (1992; 139) bahwa puisi adalah seni kata, bukan seni konsep dan membandingkan penyair dengan penari topeng yang ‘menari‘ dengan kata ‘yang dihadapi pembaca‘ bukanlah sebuah diri, bukan pula sebuah kesimpulan yang selesai”.
Kedua puisi di atas (Afrizal dan Sutardji) mencerminkan suatu peristiwa sosial yang berasal dari psikologi penyair dan diolah kembali dalam dunia kata-kata. Keduanya tampil dalam sajian yang berbeda.
Puisi Afrizal disajikan dalam kata-kata yang terpotong-potong dalam berbagai referensi informasi yang dikutip secara eksploaratif dari dunia bacaan, percakapan. motto orang-orang besar dan bahkan igauan mimpi yang disajikan secara kreatif.
Puisi Surtardji disajikan dalam bahasa pilihan dengan mengambil referensi tunggal tentang ‘tanah air tumpah darahku’ yang didaur ulang dalam bentuksolidaritas sosial kepedihan bangsa. Keduanya mampu menyampaikan pesan-pesan terhadap pengalaman korelatif pembaca yang agaknya juga telah dialami oleh pembaca.**
*Penulis Dosen dan sastrawan, tinggal di Medan