Menyimak Ego Sektoral Kita: Catatan Shafwan Hadi Umry

2

Menjelang Milad ke-81 Kemerdekaan kita, ada sebuah renungan dan sekaligus mengkaji diri bahwa siapakah kita dalam ‘rumah besar Indonesia ini?’

Kita turunkan sebuah kata-kata dari sorang cendekiawan pada media twitternya.

Some people believe what they want to believe and refuse to believe what they don’t want to believe.” (GM)

Kalimat di atas dalam terjemahan bebasnya, “Ada orang yang percaya apa yang mau dia percaya, dan menolak percaya apa yang tidak mau dia percaya.”

Timbul pertayaan, apakah pernyataan di atas berlaku untuk semua hal? Jawaban singkat: Hampir iya. Tapi ada 3 tingkat yang menjadi bias yang harus dipahami.

Pertama, fakta yang keras dan absolut Misalnya, bentuk bumi bulat, 1+1=2, api itu panas Hal itu sulit dibantah. Kalau menolak, orang akan bilang sikap kita “denial
Kedua, .opini dan nilai. Misalnya dunia politik, agama, dan siapa yang benar berkonflik maka dia dianggap paling kuat. Kita cenderung memilih info yang “enak” buat telinga kita sendiri.
Ketiga, posisi diri sendiri. Misalnya, “Aku pasti bisa“, “Dia pasti selingkuh“, “Kampus kita pasti bisa bangkit” pernyataan ini dianggap paling berbahaya. karena kita bela mati-matian.

Jadi: untuk secara fakta sains, dia kalah berdasarkan bukti. Tapi untuk 90% hal ini terjadi pada hidup kita sehari-hari. Hal ini sering, berlaku. Timbul pertanyaan mengapa hal itu bisa berlaku? Jawabannya ada tiga komponen.
1. Confirmation Bias
Otak kita malas. Dia cuma cari info yang menguatkan apa yang sudah kita yakini. Misalnya ketika seseorang suka kepada A cuma dengan membaca berita bagus tentang A. maka berita buruk tentang A, di-skip/dihapus.

2. Ego Protection
Kalau kita dituding salah, berarti selama ini kita bodoh dong? Hal ini menyakitkan maka lebih enak menolak fakta baru daripada mengaku salah.

3. “Addictive Madness”
Kita kecanduan narasi yang nyaman. Yang bikin kita merasa benar, merasa menjadi korban, merasa paling pintar.
Merujuk kembali kepada Logo sebuah kampus yang memilih  lancang kuning. Gambaran Ini persis kenapa “Kapal Lancang Kuning” bisa karam. Ada lagi orang yang mau percaya “sebuah kampus baik-baik saja” dengan cara menolak melihat data mahasiswa turun.

Ada yang mau percaya “Ini salah si A” dan menolak melihat yang salah itu sistemnya. Ada yang mau percaya “Semua hoax” (menolak melihat surat resminya).

Semua Ingin Beda

Pada sebuah pertunjukan orkestra misalnya, ada pemain biola, ada pemain drum yang sangat energi dan ada pemain terompet yang bernapas panjang.
Namun, ada masalah besar. Si pemain biola bersikeras ingin memainkan musik jazz. Si pemain drum memukul irama rock yang keras. Pemain terompet dengan mars perjuangan. Sang dirigen berdiri bingung di tengah ,sambil melambaikan tongkat tanpa ada yang memperhatikan.
Syahdan, akhirnya kita bukn mendengar simfoni yang indah melainkan kebisingan yang menyakitkan telinga. Tujuannnya sama ( bermain musik ) tetapi ego memainkannya secara berbeda.
Dengan melihat peristiwa musik itu, menampilkan gambaran paling jujur dari realitas kita sekarang baik di tingkat lokal maupun nasional.
Selalu ada ‘raja-raja kecil’ .Mereka ialah tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh, memiliki kuasa dan pengikut dan yang saling krusial mempunyai kebutuhan untuk diakui.
Mereka gagal karena merasa dilangkahi, mereka kecewa karena merasa tersaingi karena ego sektoral yang begitu besar.
Bagaimana untuk mengatasi ego semacam ini? Dalam buku “Legacy Lokal” (Rachmat Putra), mengajukan alternatif pemecahan yakni, bagaimana energi yang tadinya dipakai untuk menyerang sesama, menampilkan keunggulan individu pemusik kini seharusnya difokuskan untuk menyerang ego sektoral.
Mereka harus disadarkan bahwa para pemusik itu berada di panggung yang sama, untuk menyenangkan telinga pendengar mereka dalam suasana partisipasif yang indah dengan suasana harmonisasi dan kekompakan bersama.

Penutup

Indonesia sebagai ‘rumah bersama’ harus dibangun atas kesadaran partisipasi sosial berdasarkan hati nuranid dan intelektual. Sikap perjuangan itu dengan mendahulukan kebersamaan kekompakan dan kesadaran kolektif sebagai bangsa yang besar dan bermartabat di panggung dunia internasional.

*Penulis sastrawan tinggal di Medan

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan