

Judul : Andy Noya: Kisah Hidupku
Penulis : Robert Adhi KSP
Cetakan : Pertama, Agustus 2015
Tebal : xiv + 418 halaman
ISBN : 978-979-709-954-1
Penerbit : Kompas, Jakarta
Mendengar nama Andy F. Noya, pikiran semua orang tentu akan tertuju pada acara Kick Andy di Metrotv yang selalu menampilkan dan memberikan cerita serta hikmah mendalam dari berbagai tokoh yang diundang Andy sehingga para pemirsa pecinta sejatinya dapat merasakan makna mendalam dari acara bermutu dan sangat berkualitas ini. Terlebih dari itu semua, acara sangat bagus ini selalu ditunggu dan dinanti setiap minggunya.
Kita selalu menyaksikan bahwa Andy Noya selalu menghadirkan kisah-kisah inspiratif dari berbagai kalangan. Pertanyaannya adalah mengapa kisah hidup sang pembawa acara, Andy F. Noya tidak dicoba untuk diangkat? Jawaban dari pertanyaan sederhana ini akhirnya dapat dijawab dengan enak sekali dengan membaca buku tebal yang mengasyikkan dengan judul ‘Andy Noya: Kisah Hidupku’. Buku best seller ini wajib dimiliki bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih jauh sosok bersahabat dan di satu sisi, keras hati bernama Andy F. Noya.
Buku cerdas luar biasa ini ditulis oleh Robert Adhi Kusumaputra. Kolaborasi jenius antara Adhi dan Andy sampai dengan hadirnya buku ini, dijalin mulai tahun 2011. Dengan berbagai strategi, akhirnya Adhi berhasil melunakkan serta meluluhkan hati Andy Noya. Pertemuan intensif dan wawancara mendalam akhirnya dapat menjadi sebuah buku biografi yang sarat dengan makna kehidupan Andy Noya, jurnalis serba bisa yang bersahabat.
Dalam buku ini, ada 11 bagian yang masing-masingnya memiliki cerita tersendiri. Tiap bagian sangat terasa bahwa ‘ke-aku-an’ seorang Andy Noya, terasa dengan kental dalam arti yang positif tanpa ada maksud membesar-besarkan diri. Terasa sekali bahwa Andy identik dengan dunia wartawan yang dapat dilihat dari passion dan keinginannya yang sepenuh hati dalam menjalankan profesi mulia bernama jurnalis atau wartawan. Suatu hal yang patut ditiru bagi siapa saja yang ingin bercita-cita menjadi seorang wartawan sejati termasuk penulis handal.
Jakob Oetama, sesepuh Kompas memberikan pengakuan pada kiprah Andy Noya dalam Kata Pengantar buku renyah ini. Jakob Oetama menulis (hlm. ix), “Andy, menurut saya, memiliki talenta besar, ditopang raut mukanya yang membuat orang segera merasa akrab. Apakah keberpihakannya merupakan refleksi dari kisah hidupnya, dari yang serba kurang dan pahit, menjadi serba sukses dan membuat iri banyak orang? Menurut saya keberpihakan Andy Noya dan timnya lebih ditempa oleh jati diri profesional wartawan: cenderung membela yang underdogs, berkekurangan, dan terpinggirkan.”
Guru Andy sewaktu di Malang, Jawa Timur bernama Bu Ana yang berhasil menemukan bakat besar Andy menjadi wartawan. “Kamu anak pandai, Andy. Kamu punya talenta dalam menulis. Kalau kamu kembangkan, suatu hari kamu bisa jadi wartawan,” kata Ibu Ana. Kata-katanya waktu itu membuatku menyadari akan potensi yang ada dalam diriku. Potensi yang membuatku bisa seperti ini (hlm. 122).
Andy Noya selalu mengenang dengan sangat baik kata-kata dahsyat Ibu Ana sehingga bagi pecinta Kick Andy tentu dapat mengingat dengan jelas pada tahun 2008, Ibu Ana, guru sewaktu Andy di SD Sang Timur, Malang, diundang dalam acara tersebut. Dapat disaksikan bahwa Ibu Ana dan Andy Noya saling tersenyum bahagia. Andy mencium tangan Ibu Ana sebagai tanda terima kasih yang sangat besar dan tidak terbalaskan karena telah menemukan lentera jiwanya dalam dunia wartawan. Sebaliknya, Ibu Ana terharu karena anak didiknya menjadi wartawan yang terkenal di seluruh penjuru negeri. Sungguh sebuah pemandangan yang menyejukkan jiwa!
Perihal Ibu Ana, Andy menulis (hlm. 396), “Setelah itu, aku mengundangnya hadir di acara Kick Andy untuk menjadi tamu kehormatan dan menerima buku Andy’s Corner, yang di dalamnya ada kisah tentang Ibu Ana. Akhirnya, di depan mata jutaan orang yang menyaksikan acara Kick Andy, sambil terisak, aku menyerahkan buku itu dan sekaligus menyampaikan ucapan terima kasihku. Sejak saat itu, aku sering berkomunikasi dengan guruku ini. Aku dan istriku juga sepakat menyantuni Ibu Ana selama hidupnya meskipun aku menyadari apa yang kulakukan ini tidak ada artinya dibandingkan jasa Ibu Ana dalam hidupku.”
Dalam perjalanan Andy sewaktu menjadi Pemimpin Redaksi Media Indonesia dan Metrotv, Andy dalam buku ini menuliskan dinamika kepemimpinannya yang tegas dan juga berbagai ide untuk turut mencerdaskan publik Indonesia di seantero negeri. Andy sendiri pernah bahkan dalam buku ini, bisa dikatakan sering berbeda pendapat dengan pendiri Media Group yang membawahi Media Indonesia dan Metrotv, Surya Paloh.
Dari berbagai silang pendapat antara Andy Noya dan Surya Paloh, Andy menghargai salah satu sikap Surya Paloh. Andy menulis (hlm. 284), “Salah satu sikap Surya Paloh yang kuhargai adalah menjunjung tinggi pluralisme. Dia meyakini betul kebhinekaan di negeri ini merupakan kekuatan. Perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, merupakan karunia Tuhan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. Dengan demikian, kewajiban kita semua sebagai anak bangsa untuk menjaga dan merawatnya.”
Kisah hidup masa kecil dan masa remaja serta masa muda yang pahit pada akhirnya dapat membuat Andy Noya memetik hasil jerih payahnya yang begitu manis pada waktunya. Hal ini dapat menjadi pelajaran penting bersama kita semua. Terima kasih Andy F. Noya atas multi inspirasinya!
Jimmy Frismandana Kudo, Guru PPKN SMA Darma Yudha, Pekanbaru, frismandana@yahoo.co.id