Perjuangan Leo Untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia: oleh Jimmy Frismandana Kudo

152

Judul         : Leo Wattimena: Jadilah yang Terbaik dari yang Terbaik
Penulis     : James Luhulima
Cetakan  : Pertama, Mei 2025
Tebal         : xxiv + 176 halaman
ISBN          : 978-623-523-489-2
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta

Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat luas dari Sabang sampai dengan Merauke, mempunyai cerita sejarah dari berbagai macam bentuk perjuangan bagi bangsa dan negara demi tetap tegaknya kedaulatan Indonesia, baik di wilayah darat, laut, maupun udara. Berbagai buku telah memberikan banyak informasi dari banyak peristiwa sejarah sehingga dapat menjadi pelajaran penting untuk dapat dipetik bagi generasi selanjutnya. Kali ini, tokoh dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yaitu Leo Wattimena.

Buku dari tokoh yang bernama lengkap Leonardus Willem Johanes Wattimena ini, ditulis oleh mantan wartawan KOMPAS bernama James Luhulima yang telah menghasilkan berbagai buku terutama berkaitan erat dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di bumi Ibu Pertiwi, Indonesia dengan narasi yang sangat menggugah rasa cinta tanah air kepada bangsa dan negara yang besar ini. Buku ini sangat penting untuk diketahui berbagai kalangan masyarakat terutama kalangan generasi muda Indonesia sebagai pemimpin masa depan Indonesia.

James Luhulima dalam kata pengantar buku ini menulis (halaman xix), “Besar harapan saya, buku ini dapat menginspirasi penerbang-penerbang muda Angkatan Udara untuk mendorong dirinya hingga ke batas yang terjauh, yang mungkin dicapai. Bukan hanya sebagai penerbang saja, melainkan juga dalam berkiprah di Angkatan Udara. Buku ini memang jauh dari sempurna, tetapi buku ini paling tidak berisi kisah dari salah satu penerbang yang dimiliki Angkatan Udara dalam menempa dirinya menjadi yang terbaik.”

Buku ini terdiri dari empat bab yang saling berkaitan satu sama lain sehingga menjadikan buku sejarah ini penuh dengan makna sejarah yang menyajikan perjuangan Leo Wattimena mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai pilot tempur Indonesia mengawal wilayah udara Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Secara umum, James menulis (halaman 9) Leo Wattimena dikenal sebagai orang yang berani, memiliki prinsip yang kuat, ulet, disiplin, galak, dan sekaligus juga berangasan, atau istilahnya sekarang temperamental. Leo sebagai pilot tempur AURI merupakan salah satu kadet dari 60 kadet (calon penerbang) pada tahun 1950 ke akademi penerbangan TALOA (Transocean Air Lines Oakland Airport), Bakersfield, California, Amerika Serikat. Kemampuan Leo sebagai pilot dalam membawa pesawat tempur dengan keberanian dan manuver tidak terduga, turut andil dalam berbagai medan pertempuran. Satu di antaranya adalah operasi pembebasan Irian Barat yang merupakan salah satu operasi militer paling sensasional demi membebaskan Irian Barat sebagai bagian integral Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tulisan Terkait

ADAKAH : Puisi Datin Sariana

Berita Lainnya

Keluarga merupakan aspek sangat penting dalam mendukung karier seseorang termasuk perjalanan dan perjuangan Leo Wattimena sebagai seorang pilot tempur yang namanya harum dalam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNIAU). Istri Leo bernama Corry selalu mendukung penuh suaminya dalam berbagai keadaan. Dari pernikahan Leo dengan Corry, lahirlah empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Didikan Leo kepada anak-anaknya seperti ditulis oleh James (halaman 48) yaitu mengajarkan untuk tidak mentang-mentang. Oleh karena yang menduduki jabatan tinggi itu adalah orangtuanya, bukan mereka. Itu sebabnya, anak-anak tidak diperbolehkan menggunakan fasilitas orangtua.

James juga menulis (halaman 55) bahwa membaca buku merupakan salah satu kegemaran utama Leo Wattimena. Waktu senggangnya banyak diisi dengan membaca buku. Leo tidak membatasi topik dari buku-buku yang dibacanya, mulai dari yang serius hingga yang ringan. Tidak heran jika Leo mempunyai lebih dari seribu buku di kediamannya yang mencakup tentang sejarah dunia, Perang Dunia, dan novel-novel romansa. Berbagai buku itulah yang diwariskan kepada anak-anaknya. Menurut Gunther, salah seorang anak lelaki Leo, ayahnya pernah berpesan bahwa ia tidak akan meninggalkan harta karena yang akan diwariskan adalah buku, gudangnya ilmu. Suatu hal yang patut dijadikan teladan dalam pendidikan keluarga untuk selalu mencintai dunia buku dan segala hal berkaitan erat dengan buku.
Tentang kegemaran Leo mengikuti kegiatan terjun payung, Gunther mengisahkan (halaman 84), “Di rumah, Papi punya ruang kerja khusus yang menjadi tempat di mana payung terjunnya selalu dilipat dengan rapi dan disimpan di dalam lemari yang selalu dikunci. Papi selalu menggunakan terjun payung yang digulung, dilipat, dan disimpannya sendiri. Bagi Papi, ikut kegiatan terjun itu risikonya adalah nyawa. Kalau urusannya nyawa, Papi tidak akan memercayakannya pada orang lain.”

Pada bab III ‘Dikenal oleh Soeharto, Menyelamatkan Dirinya’, James menulis tentang bagaimana peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 mengubah drastis sejarah bangsa dan negara Indonesia. Beberapa orang terkena getah dari peristiwa G30S tersebut. Leo Wattimena selamat dari kemelut itu karena Leo mengenal dan dikenal oleh Soeharto. Masih pada bab III ini, juga diceritakan tentang kiprah Leo sebagai duta besar. Suatu tugas yang membuat Leo sakit hati. Untungnya, rasa sakit hati Leo tidak berlangsung lama. Corry sebagai istri yang setia mendampingi suaminya, berhasil dengan gigih meluluhkan hati suaminya. Corry meyakinkan suaminya (halaman 140), “Bahwa penunjukan sebagai duta besar itu bukan sebagai upaya untuk membuang atau menyingkirkan, melainkan justru karena Presiden Soeharto menyayangi dia.

Buku ini juga dilengkapi daftar pustaka sehingga para pembaca dapat menggali banyak referensi lainnya yang menjadi sumber-sumber dalam menulis dan menyajikan buku ini kepada kita semua. Lampiran dalam buku (halaman 173), juga memuat nama-nama 60 kadet AURI yang mengikuti pendidikan di Akademi Penerbangan TALOA, Bakersfield, California, Amerika Serikat yang kiprah dan perjuangan para penerbang selalu abadi di langit biru Indonesia yang mengisi cakrawala Indonesia dengan pengabdian kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Atas berbagai perjuangan dan keberanian yang Leo Wattimena tunjukkan dan berikan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia maka sejak pertengahan tahun 2012, nama Leo Wattimena dijadikan sebagai nama lapangan udara di Morotai yang berada di wilayah timur Indonesia. Pesan yang dapat kita ambil dari buku ini adalah agar setiap orang pada berbagai wilayah di Indonesia dapat berjuang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing untuk selalu menjadi yang terbaik dari yang terbaik karena hal tersebut membuat kita dikenang dalam keabadian bernama memori sejarah bangsa dan negara demi meneruskan kemerdekaan Indonesia untuk selama-lamanya!

Jimmy Frismandana Kudo, Guru Pendidikan Pancasila, SMA Darma Yudha, Pekanbaru frismandana@yahoo.co.id

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan