Esai : Membaca Jati Diri Sambil Mencermati Hakikat “Siapa Kita?”

Membaca Jati Diri Sambil
Mencermati Hakikat “Siapa Kita?”

Oleh Riki Utomi

Kali ini, sastrawan Musa Ismail tampil gagah dengan puisi-puisinya. Sebelumnya, ia banyak melenggang dengan prosa; cerpen dan novel—selain  tentu saja pemikiran cemerlangnya melalui esai. Saya pun telah banyak membaca karya-karya awalnya itu, baik di dalam sejumlah media massa, antologi, atau buku-bukunya yang telah terbit; dan sempat pula mengulas karya-karya prosanya.[1] Sekarang dengan penuh gelora, sastrawan yang kental dengan nuasa religius dan Melayu ini menelurkan sebuah buku puisi berjudul Sultan, Tanjak, Keris: Tak Malu Kita Jadi Melayu (Tere Book, 2019).

Setidaknya dari sisi judul mengingatkan pembacaan saya pada buku puisi Taufiq Ismail, “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Namun tentu kesan itu berbeda. Musa Ismail membawa misi kemelayuannya sekaligus membungkusnya dengan hal-hal religus yang dijunjung tinggi dalam segala tindak-tanduk puaknya. Baginya, segala tarikan nafas dalam hidupnya adalah Melayu itu sendiri yang mesti disyukuri. Hal paling awal sebelum menelisik lebih jauh dari puisi-puisinya adalah judul buku ini, yang lazimnya—juga karya-karya penulis lain—memiliki satu kesatuan tema besar dari isi buku. Judul “Tak Malu Kita Jadi Melayu” dapat menyiratkan pesan sekaligus pertanyaan. Pesan tentang bahwa kita harus percaya diri menunjukkan jati diri sebagai orang Melayu, sedang sebagai pertanyaan, dapat ditelisik “sudahkah kita mampu mengedepankan segala hakikat Melayu itu dalam jati diri kita?” Dapat disederhanakan seperti ini “segala bentuk perihal hidup ini sudahkah kita membawa Melayu itu?”

Di sini Musa—menurut saya—memberi judul unik, yang kalau dijabarkan secara gramatikal memiliki pola P-S-Ket. Frasa /tak malu/ sebagai predikat dijabarkan secara semantis dapat mengarah kepada pertanyaan lugas, juga membangun kesan sindiran. Sedang /kita/ sebagai subjek memiliki posisi sebagai pronomina persona. “Kita” menjadi kata ganti orang pertama jamak dapat mengarah kepada makna semantik “siapa”. Kemudian /jadi Melayu/ sebagai bentuk kata keterangan yang menunjukkan “prosfek” (tujuan) yang dapat dikatakan sesuatu yang final yaitu jadi Melayu, harus “jadi Melayu” tidak boleh menjadi yang lain.

Judul buku ini menyiratkan pesan mendalam. Pesan yang mengajak merenung akan arti “jati diri”. Jati diri /kita/ tadi sebagai subjek yang memang harus menjadi Melayu. Melayu sejati! Kata Musa dengan kepalan tangan. Tidak boleh tidak. Dan, untuk menjadi Melayu (baca: orang Melayu) janganlah malu. Sebab, penyair mengatakan dengan tegas, bahwa kita adalah bangsa bermarwah. “Jati diri” sebagai orang yang beradab, menjunjung adat-resam, dengan segala perihalnya yang melatarbelakangi itu. Lalu, “siapa” kita? Adalah Melayu itu sendiri. Hingga /kita/- /tak—perlu—malu/.

Perlu diingat, bahwa Musa meletakkan tiga kata keterangan di atas judul bukunya yaitu “sultan,” “tanjak”, “keris”. Tiga kata simbolis ini semacam tanda memperkokoh penjudulan bukunya. Adapun kata perlambangan ini menyiratkan satu kesatuan dengan judul, selain tentu saja keselarasan. “Sultan” secara denotatif adalah seseorang yang memiliki kekuasaan sebagai pemimpin tertinggi dalam sebuah kerajaan; biasanya sebagai sebutan petinggi dalam kerajaan Nusantara berazas Islam. Sedang “Tanjak” mengurai maksud sebagai suatu hiasan kepala yang beragam bentuknya, yang dipakai oleh kaum lelaki dalam budaya Melayu—secara manfaat dapat untuk memperindah diri (gagah) dan menutup kepala dari cuaca panas—kalau boleh ditafsirkan begitu. Sedang “Keris” adalah senjata tajam (tikam) sebagai benda untuk pertahanan diri, yang diselipkan di sisi pinggang. Keseluruhan dari tiga kata itu secara simbolis merujuk kepada makna “Melayu itu besar dan kuat” hingga “tak (perlu) malu kita (untuk) jadi Melayu”. Jadi sekali lagi, dapat ditegaskan, “kita harus menjadi Melayu (sejati), karena kita bangsa yang besar dan bermarwah!” Tentu, hal ini dalam konteks Riau.

Penjudulan yang “megah” dari penyair itu dapat kita jabarkan lagi melewati puisi-puisinya yang termaktub dalam buku. Sejatinya orang Melayu, Musa membawa alam dan ruh Melayu begitu intens. Seperti pada dasarnya pengarang (sastrawan) Riau lainnya—namun tentu saja berbeda dari cara pembawaan dan pengolahannya. Tema-tema besar alam Melayu selalu tidak pernah lepas dari cangkang kreativitasnya hingga menjadi ladang inspirasi dalam mencipta karya sastra (puisi).

Puisi Musa bersifat lugas, tanpa banyak mencoba mendayu-dayu dengan bahasa-bahasa metafor, juga tampak biasa tanpa banyak mengarah kepada sebuah eksperimen bentuk, gaya ucap, atau penggalian estetika. Ia mengalir bagai air sungai deras, bergulung bagai ombak berkejaran di pantai. Ia tampaknya tidak ingin berumit-rumit dalam membangun tubuh puisi. Tidak juga ingin jauh dalam menggali bentuk, gaya (style) dalam membawakan puisinya. Untuk itu, sejatinya, ia tidak ingin membawa “beban” dalam puisi-puisinya. Puisi akhirnya tampil elegan dengan sederhana namun antusias dalam menyampaikan pesan moral yang menjadi pokok utamanya sehingga berisi, dan jangan lupa, seorang Musa Ismail sangat piawai dalam pengolah kosa kata bahasa Melayu menjadi hidup dan segar ketika dibaca. Oleh karena itu, ia menjadi penting.

Buku puisi ini terbagi dalam—kalau boleh dibilang—sub judul. Semacam pembagian atau penjabaran dari karakter tema puisinya. Semua itu dirasa mampu memberikan ciri dalam hal isi puisi yang termaktub di dalamnya. Pembagian itu terutama berdampak pada kekuatan setiap puisi yang ada di dalamnya. Hal itu antara lain, lelaki matahari, istana cahaya, siak bertanjak, manusia api, kenangan oktober, pesan dalam pedang, dan kepada langit. Yang masing-masing pembagian itu memiliki puisi-puisi yang memikat. Adapun hal ini akan saya ambil sebagian saja dari pembagian “sub judul” tersebut.

Pertama, puisi berjudul “Nasihat Diri: Sultan (Kepada Hati)”. Menarik untuk disimak dan diulas. Penyair berkata /hati adalah sultan/ tahtanya bersemayam dalam badan/ dalam!//. Kalimat lugas ini tampak menohok dan tegas. Penyair mengatakan dengan langsung namun tetap dalam koridor perlambangan. Sebuah kalimat padat, ringkas, dan padu ini membentuk satu korelasi makna, bahwa segala sesuatu berhulu pada hati. Hati ibarat sultan. Sultan dalam suatu sistem pemerintahan adalah kasta paling tinggi, seorang penguasa, pengambil keputusan, kebijakan, dan di lisannya terdapat titah. Begitu pula hati adalah pokok segala sesuatu yang mesti dijaga baik-baik. Apabila hati lembut maka akan bermuara kepada kebaikan, sebaliknya apabila hati keras akan bermuara kepada keburukan. Hal ini ditegaskan lagi oleh penyair, bahwa segala sesuatu yang bermuara di hati itu terdapat dalam badan. Penegasan diksi /dalam!/ menunjukkan perkara yang disematkan oleh manusia ke dalam hati itu bergantung dari kadarnya, apakah hal baik atau buruk, yakin atau ragu, akan disimpan dalam lubuk hati yang dalam. Untuk itu kita harus mempertanyakan diri ini, apakah kita sudah baik atau belum, sudah benar atau masih salah? Introspeksi akan menyaring segala hal dalam kehidupan yang kita jalankan, hingga kita akan terus bertanya (bercermin diri) untuk mengatakan “siapa kita?” seperti yang dilanjutkan oleh penyair /kemanakah langkah sultan/ dengan hati buta atau hati cahaya?//.

Bait kedua, /berpikirlah dengan hati!/ ketika langit dan bumi menghadap Allah/ dengan suka hati/ patutkah hati kita benci?/ penyair mengajak kita berpikir sambil menyikapi iman kita. Sejauh mana kadar iman itu untuk dapat mencerna tanda-tanda kebesaran Allah. Membaca kalimat ini seperti membuka tirai yang ketika tirai itu telah disingkap, akan masuklah cahaya terang matahari. Begitu pula kalimat puisi itu, penyair mengajak kita berpikir kembali bahwa suatu saat nanti manusia akan kembali kepada Tuhan-Nya: “berpikirlah dengan hati!” katanya tegas. Bahwa semuanya: “langit dan bumi (akan) menghadap Allah. Disini penyair berkata bahwa semua ciptaan Allah akan menghadap-Nya dengan suka-hati. Artinya, mereka akan kembali menemui Rabb-Nya dengan senang hati setelah menjalankan takdir tugas di dunia fana ini. Maka, hal itu memberi kesan banding kepada kita (manusia) untuk berpikir: “mampukah kita kelak ketika kembali kepada Allah dengan suka-cita?” sedang manusia, pada dasarnya cenderung berbuat khilaf dan dosa.

Namun penyair memberi kesan nasihat yang adem dari hal itu /patutkah kita benci?/ tunduk, hatinya tenteram/ hati tenteram, Allah hendaklah genggam// sebagai manusia yang beriman kepada Allah, hendaklah kita selalu bertaubat, sambil terus memperbaiki diri agar kelak ketika menghadap Sang Khalik dalam keadaan bersih dan suka-cita tadi, “tunduk, hatinya tenteram, hati tenteram, Allah hendaklah genggam.” Kata penyair dengan jelas.

Berikutnya, masih dalam “sub judul” yang sama, puisi berjudul “Air Laut, Rumah Masa Depan” berbicara perihal masa depan. Penyair memainkan nuansa laut, sambil berkata kritis tentang laut yang harus diwariskan untuk kehidupan masa datang. Puisi ini sederhana namun padat. Sederhana dalam pengolahan kata dan padat dalam pemaknaan. /Rumahku adalah laut/ tempat ikan dan siput/ bebas berebut lumut-lumut//. Ada pesan tersirat yang ingin diungkapkan oleh penyair bahwa laut—sebagai bagian identitas, sekaligus objek mata pencaharian puak Melayu—mesti mampu untuk dipelihara. Laut bagi bangsa Melayu merupakan bagian hidup. Keakraban mereka dengan laut sudah bersebati dengan tubuh (jiwa raga) hingga laut menjadi bagian hidup. /tempat air/ bebas pasang/ bebas surut/ tempat karang/ kokoh berpaut//. Laut juga menjadi teman bagi hidup. Di laut terdapat berbagai hasil kekayaan yang mampu memberi daya gugah dalam hidup. Dalam artian, “laut menjadi tempat ladang bermain” bagi puak Melayu. di laut mereka hidup, mencari rezeki. Di laut mereka menemukan jati dirinya hingga bersebati dalam diri.

Hal itu semakin ditegaskan oleh penyair /rumahku adalah laut/ yang menunjukkan eksistensi puak Melayu yang akrab dengan laut. /menyimpan pengetahuan tak pernah surut/ bagai bencana yang tak luput-luput// laut yang terhampar luas (lebih luas daripada hamparan bumi) selalu menjadi kajian ilmu pengetahuan; selain hasil kekayaan di dalamnya. Namun apabila puak tidak pandai merawat maka akan menjadi bencana, yang kata penyair “bagai bencana yang tak luput-luput”.

/Rumahku adalah laut/ lantainya jernih juga sejuk/ tiangnya dari karang-karang/ dindingnya dari bakau dan hutan/ atapnya adalah gemintang terang// bait ketiga ini tampil indah dengan pengolahan rima dan diksi. Penyair kembali menegaskan bahwa laut sudah menjadi seperti rumah sendiri. Segala sesuatu akan bertumpu pada laut dan akan merasa tenteramlah puak ketika berada di dalamnya (di laut) karena kehidupannya ditopang oleh segala yang berkaitan dengan laut. Hal ini ditegaskan kembali pada bait terakhir, /rumahku adalah laut/ tiada limbah/ tiada sampah/ disana, aku hidup hingga dijemput maut//.

Pada sub judul kedua, puisi berjudul “Kabut Selat” membawa pesan moral dengan kritik sosial yang tajam. Ada getaran-getaran hati yang mencoba untuk dibahasakan menjadi sesuatu dari hal yang telah tertindas oleh tangan-tangan beringas yang tak bertanggungjawab. Oleh sebab itu, penyair—mewakili puaknya—mencoba membahasakannya dengan puitis dengan kalimat kritis. /tangker minyak menebas air selat yang deras/ adalah perut rakyat, tergilas melelas//. Sebatas baca, kalimat ini biasa. Namun ada diksi yang mencoba untuk dibawa ke “rasa” yang lain. Dua diksi itu /minyak/ dan /tergilas/. Lalu apa hubungannya dengan “rasa” tadi. Disinilah diperlukan penafsiran yang kritis. Secara jauh, penyair ingin kita turut merasakan perasaannya melewati puisi. Kalimat yang lugas namun puitis itu berbicara tentang suka-duka, leguh-legah puaknya (Melayu). Melayu dalam hal ini konteks Riau diketahui sebagai penghasil minyak terbesar. Penggarapan hasil bumi minyak yang terus-menerus tereksploitasi namun meninggalkan “luka” pada diri puak Melayu.[2]

Bait kedua, penyair menyambungnya dengan nada-nada memelas /kabut menggantung di ujung air/ bagaikan bangkai dilanyak kapal/ adalah mata rakyat, pedih menganga/ cuma tinggal sedikit bening di awal hari/ belum larat nak mencuci muka//. Adanya harapan yang pupus, hilang dalam sejumlah langkah. Namun mencoba diharapkan kembali meski terkais-kais untuk memperjuangkannya. Penyair berharap kita tidak larut dalam kepedihan. Sebab, seperti judul besar buku ini, bahwa kita harus kuat sebagai puak Melayu. /berharap Riau pada riak selat/ laksana menggantang asap/ adalah rakyat, pikirannya tersayat/ cuma sisa sedikit angan terkepal di tangan/ belum siap nak mengangkat lengan//. Harapan demi harapan harus tetap digali. Sejatinya kita (puak) adalah penguasa. Kita kuat untuk mengepal tangan, sambil meneriakkan keadilan.

Berikutnya dalam sub judul “Siak Bertanjak” terdapat judul puisi yang menjadi judul besar buku ini “Sutan, Tanjak, Keris: Tak Malu Kita Jadi Melayu”. Penyair memberi porsi tinggi pada puisi ini sehigga dapat terkesan istimewa. Puisi yang sangat khas ini memberi dorongan bagi puak Melayu untuk terus menata diri: introspeksi, berusaha maju, mengejar ketertinggalan, atau bersaing dengan penuh percaya diri. Penyair menggambarkan hal-hal penting itu pada kalimat-kalimat terukur, hingga mampu mengena. /tak malu kita jadi Melayu/ walau hinaan orang-orang dungu/ tersebab mereka tak tahu/ bahwa kita dulu menghala laju/. Ada semacam kesan tersirat dari hal-hal psikologis tentang “aruk-amuk”, “remuk-redam,” yang tersimpan di hati penyair. Ia berusaha bangkit berusaha membawa risau-galau hatinya kepada sesuatu yang dapat dilihat/ditunjukkan pada mereka bahwa inilah kami! Inilah kami yang tetap ada, tetap berpijak pada marwah, dan menapak di tanah kami sendiri dengan tegap, gagah, dan jumawa.

/di tengah lautan menongkah arus dan gelombang/ walau zaman tak lagi tentu haluan/ inilah jati diri yang tak akan mati menghala tuju//. Penyair menyambung dengan kalimat retoris bahwa tak perlu ditanya lagi tentang “Siapa kami.” Bahwa sejatinya kami (Melayu) selalu ada dan siap dalam keadaan apapun: “di tengah lautan menongkah arus dan gelombang”. Meski arus deras dan gelombang bergulung-gulung, kami terus menerjang, menegakkan marwah dan menunjukkan bahwa kami mampu berbuat bagi diri kami maupun puak ini, seperti penegasan yang dikatakan penyair: “inilah jati diri yang tak akan mati menghala[3] tuju”.

Dibait kedua, penyair menyampaikan penyadaran akan jati diri kita (Melayu) yang tak perlu ragu untuk melangkah maju (bersaing) menuju harapan-harapan cemerlang itu. /hari ini adalah tentang masa depan, segan tak perlu/ tersebab kita tinggal di rumah bertiang syarak/ bertingkap kitab//.  Bahwa Melayu kuat bersandar pada nilai-nilai keislaman (tauhid). Landasan ibadah yang terjaga itu mampu memberi tuntutan hidup untuk terus melangkah maju, untuk itu janganlah ragu, seperti penegasan penyair: “tersebab kita tinggal di rumah bertiang syarak.” Jadi tak ada yang mesti dikhawatirkan sebab kita puak yang berada di jalan yang lurus, jalan Islam yang diridhoi Allah: “bertingkap kitab.”

Lalu penyair juga memberi kesadaran pada puaknya bahwa kita jangan terlena dengan kemegahan masa lalu[4]. Sebab, zaman semakin laju dengan arus deras tanpa ampun, untuk itulah puak ini harus terus melangkah. /bukan cuma mengenang masa lalu/ kita adalah manusia berbangsa/ tahu dimana letak tanggungjawabnya//. Secara tegas penyair mengatakan bahwa puaknya (Melayu) sebagai manusia bermarwah/berbangsa yang sadar akan tanggungjawab; setia pada amanah, mampu mengemban perintah, dan teguh pada titah—seperti Tuah dalam pengabdiannya pada Sultan.

Lalu, bait berikutnya seperti sebuah introspeksi bahwa kita jangan lengah untuk mencoba bangkit. /di depan cermin, ayo kita berdiri/ menembus ke dalam/ ada marwah yang masih tergadai dalam julangan waktu//. Bangkit untuk menegakkan marwah menjadi hal utama, ia menjadi harapan. Bangkit itu diinterpretasikan bahwa kita sebagai orang Melayu yang memiliki jati diri (marwah) harus mampu berbuat untuk daerah kita; jangan sampai puak lain yang mengambil alih bagi kelangsungan marwah yang resam ini. Berpacak tegak di tanah sendiri, besembang angan yang disemai mengurai subur di tanah ini.

Dibait berikut, penyair kembali berteriak, /kita adalah Melayu, barisan pulau-pulau yang masih mengigau/ hendak mengacungkan tamingsari dan tempuling ke langit/ nak menyongsong orang-orang yang berlari di semenanjung//. Janganlah kita larut dari resam-resam zaman gemilang yang telah lalu. Sebab kita hidup di zaman serba cepat berubah alamnya. Dimana dunia persaingan semakin menggila, semakin mengikis dan menjadikan persaingan menjadi ke dalam bahasa “siapa cepat dia dapat, siapa sigap ia hinggap, siapa mau ia bisa, dan siapa ragu ia mundur.” Maka, kata penyair, “barisan pulau-pulau yang masih mengigau (mulai) mengacungkan tamingsari dan tempuling ke langit.” Kita harus menunjukkan jati diri kita sebagai orang Melayu. Tunjukkan siapa kita: tegakkan dada, dongakkan muka, acungkan tangan sambil mengepal ke langit! Maka siaplah kita maju bersaing dengan yang lain.

Pada bait-bait berikutnya, puisi ini bersuara tentang puaknya yang harus terus berusaha mempertahankan marwah. Hidup dan bersaing dalam zaman serba cepat ini harus tetap berpegang pada marwah. Jangan sampai marwah tergadai karena hal-hal yang mendorong kepada kenikmatan sesaat, hingga kita hilang di tanah sendiri. Puisi ini menandung pesan moral. Penyair memberikan porsi tinggi dari kalimat-kalimat yang disusunnya, selain indah oleh metafor yang diselipkannya. Nilai-nilai moral itu seperti memberikan penyadaran kepada puaknya untuk jangan tidak menjunjung marwah. Justru dengan kita bermarwah, menunjukkan bahwa kita sebagai puak yang disegani oleh siapapun.

/Ini negeri Melayu, negeri bertanjak/ adalah kursi yang kau berikan kepada kami/ berikan kami tanjak agung/ tanjak hormat/ tanjak mulia/ tanjak marwah/ tanjak ilmu/ tanjak sultan/ biar mampu menyongsong angin dimana-mana…//. Penyair memilih diksi “tanjak” sebagai bentuk kata yang diulang. Hal ini memenuhi perlambangan kata yang dapat dimaksudkan kemuliaan. Hakikat tanjak yang sebagai penghias kepala adalah perlambangan keindahan ketika memakainya, selain itu mesti dan pasti harus dipakai untuk kepala. Maka kemuliaan bertanjak sangat penting dalam bentuk kelengkapan dalam berpakaian adat Melayu. bila tidak, akan terasa janggal; berkesan tidak sempurna. Maka, kesempurnaan akan keagungan, ilmu, marwah, harus dimiliki oleh puak Melayu sebagai bangsa yang besar dan bermarwah. Dengan kesempurnaan semua itu akan membawa bangsa Melayu terus mampu tegak sejajar dengan bangsa lain, dan tidak akan mudah goyah oleh perkembangan zaman ini.

Puisi terakhir yang menjadi telisik bagi saya yaitu “Dimanakah Kita?” sebuah puisi bernada kritik sosial, sekaligus mengandung pertanyaan yang memilukan, yang sejatinya—tidak perlu kita yang berada di tanah sendiri ini—bertanya demikian, sebab bukankah ini tanah kita? Itu tentu benar apa adanya, namun penyair memiliki ketertarikan dalam mengolah imajinasinya dari hal-hal itu menjadi puisi utuh yang menggugah.

Puisi ini dari diksi awal disebutkan sungai, laut, darat, udara, tanah, rumah, kebun-kebun, lalu menyusul nama-nama kota yang ada di Riau yang intinya menyuarakan sindiran halus akan ketidaksinambungan perihal ketidakadilan atau apapun bentuknya dari sebuah kebijakan yang kurang arif pada masyarakat.

/sungai/ sejarah telah dikoyak kapal-kapal/ lunglai/

/laut/ segala harapan tak bisa berpaut/ kecut/

/darat/ pohon-pohon larat/

/udara/ angin-angin sengsara/ lara/

/tanah/ semburkan nanah-nanah, tak sudah-sudah/ resah/

Suara-suara tajam namun halus, lugas namun hunjam, biasa namun menukik, terarah sekaligus menggerahkan kita (puak) Melayu untuk sadar akan daerah kita, tanah kita, sebagai tempat hidup kita. Dimana semua itu mesti dapat kita sikapi dengan arif dan bijaksana. Penyair mewakili harapan-harapannya melewati puisi ini; sebagai cerminan bagi kita untuk terus bertanya “siapa kita?” sudahkah kita berusaha keluar dari “keterpurukan” itu, keterpurukan yang bercokol di tanah-tanah kita, di laut-laut kita, di mimpi-mimpi kita.

Penyair dengan segala ungkap dan harap membahasakan dengan penuh gelora sekaligus disusun dengan perlambangan yang menggugah. Membaca puisi-puisi dalam buku ini lebih jauh dapat memberi motivasi tentang membangun mental, spiritual, moralitas kita sebagai puak Melayu. kita meski bangga dan harus mau berbuat untuk puak yang besar ini. Musa sebagai penyair memiliki kesan idealis, seperti pula para penyair lain dengan visi misinya menyuarakan kegelisahan hatinya tentang puaknya tersebut.[5]

Adapun—boleh jadi—yang menjadi salah satu nilai lebih bentuk daya ungkap sekaligus penampilan puisi-puisi Musa Ismail yaitu dari kata Bismillah dan Alhamdulillah yang disematkannya pada setiap puisi. Dua kata ini dijadikannya sebagai mengawali dari puisi dan menutup dari puisi tersebut. Dapat diinterpretasikan bahwa Musa ingin memposisikan puisi sebagai hal yang harus dirawat, dijaga, untuk itu puisi bukan hal yang main-main ataupun sembarangan; sebab ia punya nilai tinggi dan harus disikapi dengan nilai agamis. Maka, puisi Musa—dalam prinsipnya diharapkan menjadi—sesuatu yang membawa kerihdoan Allah. Keridhoan yang kelak akan mampu membawa perubahan akan puaknya sambil menjunjung nilai-nilai marwah itu. Allahualam. Semoga. (*)

Riki Utomi kelahiran Pekanbaru 1984. Bukunya antara lain Mata Empat (cerpen, 2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (ceren, 2015), Mata Kaca (cerpen, 2017), Menuju ke Arus Sastra (esai, 2017), Belajar Sastra Itu Asyik (nonfiksi, 2019), Amuk Selat (puisi, 2020), Anak-Anak yang Berjalan Miring (cerpen, 2020). Bekerja sebagai pendidik sambil menulis karya-karya sastra di Selatpanjang, Riau.


[1] Seperti kumpulan cerpen Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut, kumpulan cerpen Hikayat Kampung Asap. Pernah diulas dan dimuat Riau Pos.

[2] Bagaimanakah Anda dapat membayangkan suatu daerah yang begitu kaya raya, tetapi hampir 50 persen masyarakatnya hidup miskin, tak berpendidikan, dan tidak memiliki akses apa-apa untuk dapat melangkah lebih maju ke depan. Sungguh Saya terguncang, misalnya ketika awal 90-an, dalam tugas saya sebagai wartawan, melihat kilang minyak yang memproduksi 40 persen dari keperluan BBM di Tanah Air, justru berada bersebelahan dengan satu-satunya desa tertinggal di Dumai. Padahal jarak diantara keduanya hanya dipisahkan oleh parit selebar kira-kira satu meter dan pagar kawat setinggi dua meter. (TIJ, Hikayat Batu-Batu, KOMPAS, 2004).

[3] Menuju pada sesuatu.

[4] Kerajaan-kerajaan Malayu seperti Melaka, Riau-Lingga, Siak Sri Inderapura, Indragiri, dll.

[5] Sebagaimana banyak penyair Riau yang tunak membawa aura Melayu untuk karya-karyanya. Namun tetap mempunyai karakter dalam pengolahan tema-tema bernuansa Melayu-Riau itu, seperti karakter gaya, pengolahan kalimat, diksi, dan lain-lain.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan