Perjuangan Kaum Eksil Di Luar Negeri: Resensi Jimmy Frismandana Kudo

144

Judul       : Tanah Air yang Hilang: Wawancara dengan Orang-Orang “Klayaban” di Eropa
Penulis   : Martin Aleida
Cetakan : Kedua, Agustus 2025
Tebal        : xviii + 326 halaman
ISBN         : 978-602-412-287-4
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta

Republik Indonesia yang luas dan besar ini mempunyai banyak peristiwa dengan beragam peristiwa yang mengikutinya setelah suatu peristiwa sejarah tersebut terjadi dengan segala dampak dan akibatnya. Salah satu peristiwa sejarah yang membuat perjalanan sejarah bangsa dan negara ini berubah secara drastis adalah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang sampai sekarang merupakan peristiwa sejarah paling menyita banyak perhatian dari berbagai kalangan, baik sejarawan dan cendekiawan maupun orang-orang biasa.

Peristiwa sejarah G30S 1965 menimbulkan akibat dan dampak yang tidak mudah karena masalah sosial politik. Pada masa pemerintahan Soekarno, negara gencar memberikan beasiswa kepada pemuda-pemudi bangsa atas nama mahasiswa ikatan dinas untuk dapat kuliah ke luar negeri dengan pilihan keilmuan yang pemuda-pemudi Indonesia miliki. Tujuannya adalah setelah mereka selesai kuliah di berbagai negara dari beasiswa pemerintah maka mereka bisa kembali ke tanah air agar dapat menerapkan dan mengaplikasikan ilmu yang didapatkan demi kemajuan serta pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

Namun, peristiwa dan kemelut G30S 1965 membalikkan semua keadaan. Ketika mereka kuliah di luar negeri, politik tanah air berubah. Saat Soekarno tidak lagi menjadi presiden dan Soeharto menjadi presiden, mereka tetap memilih setia kepada Soekarno dan ajarannya daripada mendukung pemerintahan baru (dengan mengutuk pemerintahan Soekarno). Akibatnya, pemuda-pemudi Indonesia yang tergabung dalam mahasiswa ikatan dinas ini dengan sadar lebih memilih kehilangan tanah air daripada ditekan oleh rezim pemerintahan baru.

Terombang-ambing di luar negeri selama puluhan tahun tanpa status kewarganegaraan merupakan suatu pukulan telak dalam hidup mereka. Namun, seiring waktu mereka mendapatkan kewarganegaraan baru pada negara yang mereka tempati saat ini sesuai pilihan hati nurani masing-masing. Mereka yang dianggap pembangkang oleh rezim pemerintahan baru ini, seiring waktu mampu menyembuhkan luka sejarah dan luka politik secara pelan-pelan karena hidup selalu berjalan ke depan dengan melihat ke belakang sebagai pedoman untuk melangkah tegar ke depannya.

Martin Aleida sebagai mantan wartawan dan sastrawan Indonesia yang berbagai tulisannya hadir dalam berbagai bentuk karya tulis telah berhasil menulis hasil wawancaranya dengan 19 orang Indonesia yang dipaksa / terpaksa kehilangan tanah air karena paspor mereka dicabut sehingga mau tak mau mereka harus mencari tanah air yang baru. Dalam kata pengantar (halaman xi), Martin menulis, “Mereka bukan diaspora yang menerima paspor dengan kemegahan, melainkan orang-orang yang haknya atas sebuah tanah air telah dirampas. Mereka bekelana menyeberangi berbagai batas negara dalam ketakutan, tanpa paspor, untuk menghindari pengejaran yang dilancarkan oleh sebuah rezim yang bertahta berdasawarsa lamanya.” Kalimat yang mencerminkan betapa getirnya perjuangan kaum eksil di luar negeri.

Sampul depan buku ini menjelaskan segalanya. Seorang yang sudah berusia senja dengan wajah tertunduk dan di depannya terdapat meja besar dengan gambar wilayah Indonesia. Di sebelah kanan seorang yang sudah berusia senja ini terdapat dua koper besar dengan motif khas koper lama yang menjadi saksi bisu kaum eksil. Sampul depan ini memberikan makna sejati bahwa kaum eksil yang berada di luar negeri, suatu saat ingin kembali tanah airnya, Indonesia tercinta.

Pada tiap bab, Martin Aleida memberikan judul yang mencerminkan betapa beratnya perjuangan kaum eksil di luar negeri sebagai dampak dan akibat berkelanjutan dari peristiwa G30S 1965 yang masih menjadi simpang siur sejarah hingga detik ini. Martin Aleida mampu membuat wawancara kaum eksil ini dengan narasi yang jelas, bermakna, kuat, sedih, dan tentu saja ada sedikit unsur humor dalam suatu momen wawancaranya. Martin memulai wawancaranya awal bulan Maret 2016 selama kurang lebih tiga bulan yang menghasilkan buku yang sangat baik dan sangat diperlukan untuk dapat diketahui oleh khalayak luas masyarakat Indonesia terutama generasi muda agar selalu memberikan perhatian serius pada sejarah dan dinamika yang ada pada suatu peristiwa sejarah termasuk peristiwa Gerakan 30 September 1965 ini.

Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada Agustus 2017 sebagai cetakan pertama. Bulan Agustus 2025, Penerbit Buku Kompas memutuskan untuk mencetak kembali buku ini. Tujuannya agar suatu hal yang jarang orang ketahui yaitu pahit getirnya perjuangan kaum eksil ketika hak hidupnya dirampas atas nama rezim pemerintahan baru dapat diketahui oleh generasi penerus bangsa dan negara Indonesia ini. Pilihan kata dan kombinasi kalimat yang digunakan oleh Martin mampu membuat mereka yang membacanya dengan serius menjadi memahami hal-hal apa yang dirasakan kaum eksil, terombang-ambing, dan status kewarganegaraannya dicabut. Tulisan penulis yang meresensi buku Martin Aleida ini mengambil dan mengutip beberapa kisah dari kaum eksil ini agar menjadi pelajaran sejarah untuk kita semua.

Tulisan Terkait

ADAKAH : Puisi Datin Sariana

Berita Lainnya

Rumah di Surga: Cerpen Mohd. Nasir

Sarmadji (halaman 49 sampai dengan halaman 72) dalam bab berjudul ‘Sedih Sesedih-Sedihnya’, yang menetap di Belanda, tetap dengan aksen jawa yang kental dan kesetiaannnya pada berbagai tumpukan buku yang ia kumpulkan dengan disiplin selama puluhan tahun, bercerita tentang pengalamannya menjadi eksil di luar negeri sampai dengan menetap di negeri kincir angin, Belanda. Suasana wawancara yang cair menjadikan cerita sejarah yang penuh dinamika sejarah untuk dapat diketahui bersama. Walaupun sedih namun Sarmadji tetap tegar dan tegak menjalani kehidupannya.

Nita (halaman 91 sampai dengan halaman 109) dalam bab berjudul ‘Trah Aidit di Paris’ dengan baik menceritakan pengalamannya sebagai anak seorang eksil di Paris, Prancis. Nita merupakan anak perempuan dari Sobron Aidit. Nama Sobron Aidit merupakan adik lelaki dari Dipa Nusantara Aidit, pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI). Tentu tidak mudah menjadi anak dari Sobron Aidit sebagai eksil. Nita (halaman 99) dengan jelas menyampaikan bahwa, “Sejak masih kecil, bahasa Indonesia kami diperkuatkan oleh Ibu-Ayah. Darah, tulang, kulit kami adalah Indonesia.” Dinamika keberadaan ‘Restaurant Indonesia’ yang didirikan oleh Sobron Aidit dan rekan-rekan sesama eksil juga diceritakan di sini.

I Ketut Putera (halaman 111 sampai dengan halaman 133) dalam bab berjudul ‘Sengsara tapi Ada Cahaya’, menceritakan kehidupannya yang walaupun sengsara namun ia meyakini ada cahaya yang muncul seiring waktu berjalan untuk dapat melihat cahaya tersebut. I Ketut Putera (halaman 120) menyampaikan, “Kami tak punya kewarganegaraan. Inilah nasib yang kita tidak nyana. Padahal, posisi kita jelas. Kita setia dan cinta tanah air dengan tujuan kembali ke Indonesia untuk menyumbangkan sesuai dengan kemampuan kami masing-masing bagi kemajuan Indonesia.” Sebuah bukti rasa cinta tanah air yang besar dari seorang eksil bernama I Ketut Putera.

Djoko Santoso yang saat diwawancara oleh Martin Aleida, didampingi oleh istrinya pada bab berjudul ‘Kami di Paris, tetapi Perasaan Kami di Indonesia’ (halaman 153 sampai dengan halaman 169) menceritakan tentang berbagai dinamika kehidupan sebagai seorang eksil. Walalupun begitu pada saat Martin menanyakan (halaman 164):

Di mana Bung merasa kehilangan tanah air? Sejak di Uni Soviet atau ketika sudah sampai di RRT atau di Prancis ini? Jawaban Djoko Santoso: “Saya merasa Indonesia yang sekarang sudah lain dengan Indonesia yang dulu. Kehilangan? Hilang dalam pengertian hilangnya sesuatu yang saya dambakan untuk ditemukan kembali, tak ada. Teman-teman sudah habis, Sanak famili juga sudah tak ada secara alamiah. Namun, berita tentang Indonesia terus kami ikuti. Tiap hari kita mengikuti berita tentang Indonesia. Malahan lebih banyak kita ikuti berita tentang Indonesia daripada Prancis. Kalau tentang Prancis ‘kan kita sudah banyak tahu. Negara ini stabil. Perasaan kami bercabang. Kami tinggal di Prancis tetapi perasaan kami seperti di Indonesia.” Jawaban yang menjelaskan betapa rasa berbangsa dan bernegara Djoko tetap dan selalu ada dalam berbagai waktu perjalanan sejarah hidupnya.

Chalik Hamid dalam bab berjudul ‘Apa yang Bisa Saya Sumbangkan, Itulah Soalnya’ (halaman 189 sampai dengan halaman 211) menceritakan kisah hidupnya sebagai seorang eksil di Tirana, Albania. Chalik sekarang menetap di Amsterdam, Belanda. Chalik mengatakan (halaman 211), “Betul, walau sebagai seorang yang terhalang pulang saya mendapat pengetahuan, bisa berbahasa Albania, bisa melihat dunia, tapi apa yang saya sumbangkan untuk Indonesia? Itulah soalnya.” Penjelasan yang menerangkan betapa besarnya rasa hormat Chalik Hamid pada tanah air Indonesia tercinta.

Sunarto, seorang eksil yang menetap di Berlin, Jerman (halaman 213 sampai dengan halaman 226) dalam bab berjudul ‘Penderitaan di Indonesia Menyemangati Hidup Saya’ menceritakan kisah hidupnya sebagai seorang eksil dari masa muda hingga masa tua. Pada bagian akhir wawancara dari Martin Aleida mengenai pelajaran yang bisa dipetik, Sunarto menjawab (halaman 226), “Saya tidak dididik oleh orang tua saya sebagai pejuang, tapi kalah tetap berjuang untuk hidup.” Jawaban yang menjelaskan betapa kerasnya perjuangan hidup Sunarto sebagai seorang eksil.

M. Djumaini Kartaprawira (halaman 283 sampai dengan halaman 299) mengisahkan dalam bab berjudul ‘Dari Rusia untuk Cinta Paling Agung’ dengan penuh perasaan tentang cinta paling agung yaitu Indonesia. Djumaini menyampaikan bahwa (halaman 298), “Walau saya merasa khawatir, saya ceritakan mengapa saya tak bisa pulang ke Indonesia sekian lama. Sebab di antara keluarga saya sendiri ada yang tak tahu mengenai pencabutan paspor saya. Ada yang mengira, wah… sudah enak di luar negeri, jadi nggak mau pulang… Padahal di luar negeri itu keadaan saya seperti ini. Setelah saya jelaskan barulah mereka tahu keadaan yang sebenarnya. Saya jadi lega.”

Buku ini sangat direkomendasikan bagi para penyuka sejarah Indonesia khususnya yang berkaitan dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 serta cerita-cerita kemanusiaan dan kisah-kisah hebat dari kaum eksil yang berjuang untuk meneruskan kehidupannya setelah kemerdekaan mereka sebagai warga negara Indonesia dirampas oleh rezim pemerintahan baru saat itu. Rasa cinta berbangsa dan bernegara kepada tanah air Indonesia sedikit pun tidak hilang dan selalu hadir dalam setiap dimensi waktu perjalanan sejarah dan petualangan kehidupan kaum eksil selamanya.

Jimmy Frismandana Kudo
Guru Pendidikan Pancasila, SMA Darma Yudha, Pekanbaru
frismandana@yahoo.co.id

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan