KRITIK & ESAI : Cerpen Sebagai Dokumen Budaya

Cerpen Sebagai Dokumen Budaya

Budaya ibarat akar pada pohon yang besar dan tinggi, yang membuat pohon tersebut kokoh menjulang.Akar tersebut mampu menopang besarnya pohon itu hingga dapat tegak kuat.Ibarat sebuah akar, begitu pula budaya menjadi hal penting yang tak dapat dipisahkan dari suatu kaum. Kaum yang memiliki budaya, sejatinya, akan selalu menjaga, karena “akar” itu (baca: budaya) mampu membentengi mereka dari gempuran-gempuran perubahan zaman yang tidak dapat dielak. Gempuran zaman terus datang seperti banjir bandang; arusnya begitu deras tak terbendung menerjang.

Perubahan zaman akan membawa dampak positif dan juga negatif. Ini tidak bisa dielak. Kemajuan hidup akan melipat kebiasaan-kebiasaan lama ke dalam lemari tua, sebaliknya kebiasaan baru akan berupaya keras menemukan tempat untuk bertandang agar diterima oleh seluruh manusia agar tercipta eksistensinya. Ia (kebudayan baru itu) semakin lesat tanpa kita sadari. Muncul dan berdiri di hadapan kita sebagai teman, tersenyum, dan berusaha akrab agar kita memilikinya. Maka dari itu, hadirlah dia di tengah-tengah kehidupan sosial, pemikiran, tata pergaulan, bahasa, pola hidup, dan sebagainya yang konon menjadi gaya hidup masa kini (modernisme).

Perubahan zaman seperti itu boleh saja berkembang pesat.Sebab hal itu sejatinya tidak bisa dielak.Kita hidup di tengah-tengah globalisasi.Segala hal berubah menurut kadarnya (fungsinya) yang membuat hidup semakin kompleks dan beragam.Semua ingin menunjukkan jati diri sebagai manusia modern yang ingin melaju cepat melebihi angin kencang. Lihatlah, segala benda-benda, bahasa, pola pergaulan, gaya hidup yang mencerminkan hal itu seolah-olah menjadi tolok ukur manusia abad kini. Bagi mereka yang mengikuti arus itu seperti akan merasa menjadi manusia terdepan, sedang bagi mereka yang tidak mengikutinya dianggap manusia ketinggalan zaman. Apakah hal ini benar?

Sebagai manusia yang memiliki akar budaya yang kokoh tadi, tentunya kita mesti berpikir arif dan bersikap bijak.Budaya yang kita miliki sebenarnya hal yang paling mendasar untuk menunjukkan jati diri kita sebagai manusia yang berkaratkter. Budaya akan mampu memberikan nilai lebih pada manusia yang mau menjaganya; merawat, melestarikan, mengembangkannya hingga dikenal oleh masyarakat luas. Budaya yang mampu menjadi ciri khas itu menjadikan seseorang menempuh hidup yang cerah oleh sebab ia dituntut pada sikap hidup yang telah terpola (baca: tercipta) dari para pendahulunya yang kaya akan keteraturan sikap dan norma yang melekat hingga membentuk karakter mulia.

Sebagai khasanah yang patut dijaga sepanjang masa, budaya yang kita miliki mesti juga harus berkembang.Zaman boleh saja terus beranjak membawa perubahan hidup yang laju, namun budaya tidak boleh mati.Mesti ada estafet bagi kaumnya untuk mengembangkan keberlangsungan budaya itu agar tetap terjaga.Perpaduan klasik dan modern sejatinya bisa dibentuk untuk memperkenalkan budaya.Adanya persebatian itu tentunya lahir dari tangan-tangan kreatif manusianya.Kita boleh lihat beberapa negara maju yang malah terkenal dengan membawa khazanah budayanya.Artinya, mereka memiliki ciri khas sebagai bangsa modern.Bukan menjadi kaum yang lupa pada budaya aslinya, tetapi menjadi manusia yang kreatif membawa budaya di tengah-tengah modernisasi ini.

Lihatlah Jepang yang mampu menunjukkan jati dirinya sebagai manusia modern yang berbudaya.Kehidupan mereka yang masih terpola dengan karakter budayanya mampu membawa mereka menjadi kuat dalam menghadapi gempuran modernisasi.Segala bentuk sikap hidup masih menjadi prioritas dalam masyarakatnya untuk menjaga kestabilan tingkah laku dan pola berpikir.Artinya, mereka tidak “mentah-mentah” memakan globalisasi, namun “menyaringnya” kembali dalam cawan budayanya sebelum hal itu di makan dalam kehidupannya.Meski mereka selalu berjas dan berdasi namun mereka tidak membeli pizza di saat lapar, tetapi dengan bangga tetap menyantap sushi dan sashimi sebagai makanan mentah itu.

Hal di atas hanya sebagai contoh kecil yang setidaknya dapat menjadi cerminan kita dalam menyikapi budaya.Bahwa budaya mesti menjadi prioritas dalam hidup yang penuh gempuran globalisasi.Budaya harus menjadi cerminan sikap hidup yang mesti ada ditunjukkan di tengah-tengah modernisasi ini.Bagaimana hal itu bisa sikapi? Tentu banyak cara sejauh kita mau berpikir kritis dan sekaligus kreatif. Sebab di tangah-tangan manusia yang kreatiflah hal itu mampu tercipta.

 

Cerpen yang menjadi dokumentasi budaya

Di tangan kreatif seorang penulis, budaya hadir melalui karya tulis. Seorang penulis karya sastra akan mampu mengedepankan nilai-nilai budayanya ke dalam karyanya. Maka, sastra menjadi dasar dalam meletakkan segala perihal budayanya. Penulis bukan hanya menyuarakan budaya itu, tetapi secara tak langsung, ia juga menyimpan (mendokumentasikan) budaya itu ke ranah yang lebih memikat. Mengapa memikat? Karena ia memberikan kesan melewati cerita. Dalam jagat sastra kita tidak sedikit sastawan mengangkat tema-tema budayanya sebagai karya sastra yang bernas.Bacalah Upacara karya Korrie Layun Rampan yang kental dengan warna budaya Dayak.Si Doel Anak Jakarta karya Aman Datuk Madjoindo dengan warna Betawi.Bako karya Darman Munir, Belantik karya Wisran Hadi, dan Istana Ketirisan karya Gus tf Sakai dengan warna budaya Minang.Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG,  Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, dan Mantra Pejinak Ular karya Kuntowijoyo dengan warna budaya Jawa. Tiba-Tiba Malam karya Putu Wijaya dan Tarian Bumi karya Oka Rusmini dengan warna budaya Bali.Lampuki karya Arafat Nur dengan warna budaya Aceh.Ibu Pergi Ke Surga karya Sitor Situmorang dengan warna budaya Batak.Sang Gurukarya Gerson Poyk dan Orang-Orang Oetimu karya Felix K Nesi dengan warna budaya Nusa Tenggara. Hempasan Gelombang karya Taufik Ikram jamil dan Bulang Cahaya karya Rida K Liamsi dengan warna budaya Melayu (Riau), dan lain sebagainya (sekadar menyebutkan), bahwa ada pesan-pesan yang lebih jauh ingin disampaikan mereka; sekaligus mewakili pemikirannya tentang khasanah budaya itu. Jadi bukan sebatas dokumentasi baku dan kaku. Maka karya sastra menjadi alternatif dalam membangun, membentuk, melestarikan nilai-nilai hidup untuk membantu kita menemukan kembali khasanah budaya yang mungkin terasa telah jauh dari kehidupan modern ini.Sastra mencoba membangun kembali nilai-nilai itu ke dalam hati kita, pemikiran kita, untuk menyadarkan kita sebagai manusia yang memiliki jati diri dalam kehidupan ini.

Hal itulah yang menjadi pertimbangan dan penilaian saya terhadap beberapa cerpen karya Bambang Kariyawan yang termaktub dalam bukunya berjudul Lukah yang Tergantung di Dinding (Soega Publishing, 2017).Ada kesan yang kuat dari cerpen-cerpennya sebagai bentuk “dokumentasi” budaya. Bambang tidak hanya membawa cerita secara hakikat karya sastra, tetapi ia juga menjadikan karya sastra (cerpen) bagian dari “ruang penyimpanan” lain yang mampu memberi tempat bagi khasanah budaya itu. Jadi, cerpennya bukan semata-mata bentuk hasil cipta karya sastra, namun lebih ke jauh menjadi tempat dokumentasi budaya untuk kita dapat mencari nilai-nilai yang terkandung dalam budaya itu.

Pada dasarnya hampir seluruh cerpen menyiratkan pesan kuat tentang khasanah budaya Melayu Riau.Namun saya hanya mengulas tiga judul saja.Tiga judul ini dirasa memiliki nilai yang tinggi dari bentuk pengolahan nilai-nilai budaya yang terdapat di alam Melayu, yaitu “Lukah yang Tergantung di Dinding”, “Anak Jalur”, dan “Bujang Bayu”.Tiga cerpen itu dirasa mewakili dari keseluruhan tema besar dalam bukunya.

Cerpen “Lukah yang Tergantung di Dinding” mengisahkan tentang sebuah objek benda yaitu “lukah”.Lukah sebagai alat menangkap ikan yang terbuat dari buluh (bambu) yang khas.Masyarakat Melayu pada umumnya membuat benda ini sebagai salah satu kreativitas kerajaninan tangan.Ketelatenan, ketekunan, kesabaran, kerajinan dalam membuatnya merupakan syarat yang harus dimiliki pada seseorang yang membuatnya. Selain itu, penggunaannya juga  tampak praktis karena diletakkan di dalam (dasar) sungai (yang tak dalam) agar ikan kelak terperangkap dan masuk ke dalamnya.

Secara naratif penulis menceritakan Lukah dengan penjelasan detail.Pemilihan “Lukah” yang menjadi salah satu simbol budaya bentuk benda bagi masyarakat Melayu menunjukkan usaha memberikan pengetahuan tentang benda tersebut; sekaligus fungsi, juga nilai-nilainya dalam kehidupan.Lukah menjadi arti penting bagi masyarakat Melayu dalam menjalani aktivitas hidupnya sebagai alat penopang mencari nafkah.Cukup menarik hal ini dilihat dari usaha penulisnya yang memadukan penjelasan benda budaya itu dengan paduan cerita yang mengarah kepada aktivitas masyarakatnya.

“… lukah dibuat dari bilah rotan atau buluh yang kususun dan kuikat hingga membentuk sebuah benda yang mewakili sebuah harapan akan masa depanku. Lukah seukuran satu meter dengan garis pusat 20 sentimeter. Di bagian ujung dalam lukah terdapat lubang yang biasa disebut ‘injap’ berbentuk seperti leher kuda untuk membolehkan ikan masuk di mana terdapat bilah rotan yang runcing dan tajam.” (hal: 15).Pendeskripsian ini menyuguhkan kesan aktivitas mereka yang semangat dalam menempuh hidup sebagai orang Melayu.Sebagai masyarakat yang hidup di perairan, penggunaan benda tersebut bukan hanya sebuah keharusan dan keterampilan, namun menujukkan sebuah etos kerja bagi masyarakatnya.

Di samping itu, tradisi membuat Lukah bukan hanya hal keterampilan yang digunakan sebatas fungsi harfiah, namun juga mengandung nilai kebatinan yang diiringi dengan peramainan rakyat.Hal ini menandakan aktivitas budaya mengarah kepada aktivitas manusianya yang lebih kompleks. Adanya permainan Lukah yang dipandu seorang Bomo (pawang) dengan membaca mantera-mantera kepada Lukah yang telah dihias sedemikian rupa memberi arti mendalam akan objek benda tersebut bahwa Lukah juga menjadi simbol budaya yang mistis.

“Tradisi Lukah yang biasa dilaksanakan di kampungku menjadi sepenggal kenanganku bersama abah dan lukah.Tradisi yang selalu kunantikan bersama teman-temanku karena keramaiannya.Tradisi yang bukan sekadar ritual tetapi telah menjadi permainan yang selalu dinantikan. Permainan yang, paling tidak, melibatkan tiga orang laki-laki dewasa. Dibutuhkan sebuah lukah berukuran satu meter yang diberi kain sarung atau baju bekas seperti orang-orangan di tengah sawah. Di awali dengan pembakaran kemenyan dan dupa oleh pawang yang berpakaian hitam. Diiringi pukulan gendang dan kompang, pawang mulai mengasap-asapkan lukah. Aku selalu mendengar pantun yang sudah aku hafal setiap mengukuti permainan ini.” (hal: 20).

Berikut cerpen berjudul “Anak Jalur” mengisahkan tentang tradisi yang telah membudaya bagi masyarakat Kuantansingingi, Riau.Tradisi yang telah berumur ratusan tahun yang sampai saat ini masih terus dimainkan hingga menjadi helat yang memikat bagi siapa saja yang menonton.Di dalamnya tercermin nilai-nilai tinggi.Pacu jalur, oleh penulis, bukan sebatas ide cerita yang biasa dan hambar, namun penulis mampu mengolah ide tradisi ini menjadi menarik dengan paduan karakter tokoh-tokohnya.Hal yang menjadi begitu bernilai bagi saya adalah pendeskripsian helat itu sendiri yang terasa menarik dikemas oleh penulisnya dengan bahasa sastra.

“Pacu jalur sebuah produk seni masyarakat Kuantan yang lahir dan berasal dari sebuah perpaduan unsur seni ukir, musik, tari, dan olahraga. Tak kalah pentingnya adalah semangat kebersamaan.Pacu jalur diyakini memiliki kekuatan magis dan spiritual. Pacu jalur merupakan puncak dari seluruh kegiatan, segala upaya, dan segala keringat, serta kebahagiaan yang mereka keluarkan untuk mencari penghidupan selama setahun.” (hal: 34).

Pendeskripsian yang padat itu memberikan kesan tentang suatu budaya massa yang aktif sampai kini. Menjadi banyak perpaduan dalam nilai-nilai yang ditawarkannya. Di samping itu, penulis meramu cerita dengan karakter kuat tokoh Aku yang menjadi “peneriak” bagi para pendayung agar terus semangat mendayung jalurnya hingga ke garis finish. Saya menangkap ramuan cerita yang ditawarkan penulis bukan hanya sebatas para tokohnya. Tokoh Aku, juga dapat memberi kesan simbolis dari “arti sebuah semangat hidup” bagi orang Melayu dalam lingkungan itu sendiri. Sebagai sosok peneriak itu, ia memiliki kesan kuat dalam tradisi pacu jalur; ada perihal pertaruhan harga diri, marwah, yang apabila kalah, ia (tokoh peneriak itu) bisa jadi juga dipersalahkan atau bahkan dinilai buruk eksistensinya.

“… Aku dianggap sebagai ikon dalam setiap parahu jalur yang melaju membelah arus sungai Kuantan. Semakin aku kuat berteriak maka akan semakin semangatlah pendayung-pendayung jalur mengayunkan lengan-lengan kekarnya. Belum lagi tabuhan gendangku yang menyentak nadi semangat teman-temanku.” (hal: 33).

Namun, sebagai sebuah fiksi yang diolah oleh konflik, penulis tidak saja membiarkan tokohnya lurus dan stagnan.Konflik pun tercipta dalam persaingan lomba yang khas sebagai tradisi Melayu itu. Sebuah konflik yang cukup tragis dan menyentak yaitu tokoh Aku sebagai sosok peneriak kehilangan suara! Sebuah “gesekan” yang dirasa memberi gambaran ketimpangan tidak sehat dalam sebuah perhelatan.Saya tidak tahu, apakah dalam realitas ini ada atau tidak, yang kalau diturut-turut menjadi begitu pelik sekaligus sangat disayangkan.Namun, disitulah letak kepiawaian seorang penulis cerita yang mampu menawarkan sesuatu dalam ceritanya untuk tidak kaku dan hambar.Salah satu hal fiksi—perihal budaya sekalipun; yang notabenenya dikenal membawa sebuah karifan bagi manusianya—mampu diolah oleh konflik yang memikat.Bambang sebagai seorang pencerita telah melakukannya dengan memikat.

“Aku tersadar dan ada sesuatu yang salah dengan suaraku.Aku tidak bisa mengeluarkan suara.Tenggorokanku seperti terkatup oleh lendir yang pekat dan menyesakkan.” (hal: 40).

Meski cerita ini fiksi, namun nilai-nilai budaya terasa kental dan dapat digali dengan baik dari sebuah tradisi yang turun-temurun.Pendeskripsian yang dikemukakn penulis mampu menjadi kesan tersendiri bagi pembaca, karena disana terdapat aktivitas, sikap hidup, pola pergaulan, gambaran masyarkat, peran-peran mereka dalam aktivitas tersebut menjadi padu oleh cerita yang memikat.

Berikut cerpen berjudul “Bujang Bayu” mengisahkan tentang budaya pengobatan tradisional.Dimana terdapat nilai-nilai spiritual mendalam pada pelaksanaannya.Berbagai syarat dan ketentuan adat tampak menjadi hal utama yang harus dijalani dalam pelaksanaannya membuat tradisi ini memberi kesan mistis. Namun Bambang tidak sekadar mengisahkan tata cara dan beragam tetek bengek peralatan acara itu, dia menyelipkan pesan moral sebagai bentuk nilai-nilai dalam sebuah karya fiksi. Adanya konflik batin yang terjadi dalam diri tokoh Aku menyebabkan cerita ini menjadi menarik. Kesan “tarik-menarik” perasaan yang “serba-salah” itu menjadi sesuatu yang menimbulkan simpati kita sebagai orang “di luar” lingkungan tersebut: “apakah kita memihak kepada mereka yang tetap menjaga tradisi leluhur dengan segala kesmistikannya itu? Atau kita berpegang teguh pada prinsip untuk tidak sedikitpun “menodai” keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam ajaran Islam?”Semua saling teraduk dalam lubuk hati kita. Perasan dan pikiran kita ikut larut berpikir, merasa, menyikapi dengan konteks pemikiran kita masing-masing akan hal tersebut. Segala kecamuk perasaan yang dialami tokoh Aku, seorang remaja SMA itu juga dapat kita rasakan. Betapa serba-salahnya dia, betapa gundahnya dia ketika seorang guru Agamanya menasihati dengan bahasa yang lembut akan pekerjaannya yang membantu ayahnya itu.

Cerpen ini juga sarat akan nilai-nilai religiusitas, sosial-masyarakat, perjuangan, kesopanan dan kesantunan, pendidikan, juga garis besarnya budaya. Segala perihal tersebut menjadi satu dalam sebuah cerita utuh yang menarik. Disini saya ambil salah satu paragraf  kisahnya yang menjadi warna budaya dalam acara adat yang bernama Babalian yang telah menjadi tradisi tersebut.

“Tradisi ini memang telah menjadi bagian kehidupanku di kampung.Ritual yang dilaksanakan untuk mengobati oarng yang sakit amat parah.Babalian berasal dari Babalikan. Selama ritual babalian, semua perkataan Gumantan kepada Bujang Bayu harus dibalikkan pengertiannya…” (hal: 97).

Secara harfiah, tradisi ini penuh dengan syarat dan ketentuan yang ketat.Sebagai bentuk ritual adat yang khas, yang mengandung kemistikan, Babalian tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Seseorang yang telah mapanlah yang menjadi “nahkoda” dalam membawa  jalannya ritual upacara tersebut, yang disebut Gumantan. Adapun perihal alat-alat ritual—sebagai pelengkap jalannya upacara itu—dideskripsikan oleh penulisnya dengan sangat terstruktur.

“Biasanya setelah Abah mengucapkan kalimat itu, aku akan segera bergegas dengan gairah mengambil segala hal yang diperlukan. Mulai dari rotan jini, janur, mayan pinang, tempurung kelapa hijau, lilin putih, dulang, piring kaca, batang pisang, tembikar berisi bara tempurung, tebu gagak, pisau, jeruk nipis, kain putih, air putih, lidi kelapa hijau, tepung tawar, bertih padi, bunga berwarna merah-putih-kuning, bunga raya, bunga cempaka, bunga pandan, kemenyan, kayu gaharu, korek api, telur ayam, duri rukam, tikar rumbia, dan hal-hal yang lain yang elah kuhapal.” (hal: 98).

Hal yang telah menjadi kebiasaan dalam mengumpulkan benda-benda upacara Babalian itu membuat tokoh Aku mampu melaksanakannya dengan riang dan senang.Ia menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari ritual. Hal ini menjadi kebanggaan akan ayahnya sendiri sebagai orang terpercaya membawa ritual tersebut. Namun, konflik batin ternyata singgah dibenak tokoh Aku yang terus mencermati kata gurunya tersebut yaitu Pak Umar.Sebagai guru Agama Islam, dan seorang pendidik si Tokoh Aku, Pak Umar memberikan nasihat sebagai bentuk sebuah sikap kewajaran.Nilai-nilai agama tentu harus ada dalam diri seorang yang terpelajar juga sudah semestinya disikapi dengan bijak. Disinilah timbul “tarik-menarik” dari konflik batin tokoh Aku, apa yang harus dipilihnya? Mengikuti terus dalam acara ritual itu atau meninggalkannya sama sekali? Sebab tokoh Aku juga sadar bahwa ia seorang Muslim yang mendapatkan pendidikan Agama yang baik di sekolah.

“Aku menakung di tepi jendela memanang bulan separuh.Kebimbangan membuatku gamang mengambil keputusan.” (hal: 98).

“Tapi kegamangan yang dihembuskan Pak Umar membuatku separuh hati melengkapi yang biasa kunikmati. Bahkan harum bunga cempaka yang biasa kuhirup dan membawaku melayang, kini terasa hambar dalam menebarkan wanginya.” (hal 99).

Sebuah konflik batin yang menarik disuguhkan dalam cerpen ini.Penulis tidak langsung menentukan pilihan tokoh Aku. Tetapi melewati tokoh Aku yang mencapai titik risaunya, konflik itu mampu memuncak dengan deskripsi yang masih menggantung: apakah tokoh Aku benar-benar meninggalkan ritual itu—mengingat dia telah menjadi bagian terpenting sebagai Bujang Bayu—atau dia hanya setengah-setengah dalam mencapai pilihannya untuk teguh dalam ajaran Islam, lalu kembali kepada bagian dari ritual itu; mengingat Ayahnya berperawakan antagonis yang sangat ditakutinya.

 “Udin! Lihat Aku!!!  Gelegar pekik Abah menyesakkan pekat malam.Sebutan ‘Aku’ terasa mengerikan di telingaku.Kuangkat perlahan wajahku untuk memandang Abah.Mata yang kupandang bukanlah mata Abah yang biasa kutatap tapi mata Gumantan yang telah membara.

Selayang sebatan rotan jini yang biasa dipeang Abah mendarat di kepalaku dan seketika cipratan darah membasahi badanku.

Ahh…. Izinkan Aku memilih, Abah …, lirihku”. (hal: 103).

Pilihan menjadi sesuatu yang berat dalam hidup ini.Tetapi begitulah hidup yang merupakan sebuah pilihan.Pertaruhan sikap dan hati nurani menjadi hal yang penting dalam menyikapi pilihan kita ke mana arah yang hendak kita tuju.Melewati cerpen “Bujang Bayu” ini budaya dalam kerangka religiusitas menjadi perhatian penulisnya.Antara mempertahankan tradisi dan meninggalkannya, menjadi bagian dari problematika yang cukup pelik.Pandangan dan daya pikir menjadi buncahan yang terus ditaburkan agar meruap ke khalayak ramai untuk mencoba menyikapi dari pemikiran masing-masing.Di sini, setidaknya, hati nurani ikut bermain meski segala hal yang menyangkut keyakinan ketuhanan telah bersebati dalam benak.

Sekali lagi, melewati cerpen-cerpennya tersebut, Bambang menawarkan cerita dalam kerangka budaya yang membuat kita berpikir jauh, kritis, sekaligus menyikapi makna yang terkandung di dalamnya.Cerpen-cerpen Bambang bukan sebatas kisah tetapi mampu memberikan pendeskripsian nyata yang terstruktur dari suatu aktivitas budaya tempatan.Warna lokal yang disuguhinya sarat pertimbangan yang matang untuk diolah menjadi fiksi.Maka, cerpennya mampu berperan sebagai “dokumen” budaya.Sebagai manusia yang berbudaya, sudah sewajarnya segala tradisi harus kita lestarikan.Manusia berbudaya adalah manusia yang mampu menjaga kearifan lokalnya.Membawanya ke tangah gempuran modern sambil terus merawatnya, sampai kapanpun.Karena budaya adalah akar yang kuat pada karakter suatu bangsa. (*)

Selatpanjang,  2020

——————————————-

Riki Utomi, Penulis dan Guru SMA Negeri 3 Tebingtinggi, Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Bukunya Mata Empat (cerpen 2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (cerpen 2015), Mata Kaca (cerpen 2017), Menuju Ke Arus Sastra (esai 2017), Belajar Sastra Itu Asyik (2019), Amuk Selat (puisi 2020), Anak-Anak yang Berjalan Miring (cerpen 2020). Puisinya termaktub dalam Banjarbaru’s Rainy Day Festival, Negeri Sawit, Negeri Poci, dan lainnya.

 

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan