Esai Nafi’ah al-Ma’rab

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Kasih Tertinggal di Bulang Linggi: Sebuah Jejak Perjalanan Diri dan Hati

 “Puisi itu bukan untuk dipahami, tetapi dihayati. Kalau Anda senang membaca sebuah puisi, ya sudah jangan tanya apa artinya.” (Sapardi Djoko Darmono)

Tepat, sebuah penghargaan terhadap karya puisi adalah ketika kita bisa menghayati karya tersebut dalam multiinterpretasi. Mungkin ada hal-hal yang transparan, ada yang sublim, ada yang abstrak, tetapi persoalannya bukan itu. Apakah sebuah puisi yang kita baca menemukan rasa atau tidak, itu masalahnya.

Hal itu pulalah yang ingin saya ungkapkan pada kumpulan puisi penyair Bambang Kariyawan Ys, Kasih Tertinggal di Bulang Linggi. Puisi-puisi dengan aroma keindahan tanpa perlu penafsiran yang membuat pikiran menjadi rumit. Puisi-puisi itu sudah bisa kita nikmati begitu saja hanya dengan membacanya. Bunyinya, diksinya, dan pesan hati si pengarang sudah bisa kita rasakan.

Sebuah Jejak Perjalanan Diri dan Hati Pengarang

Kasih Tertinggal di Bulang Linggi merupakan puisi-puisi perjalan diri dan hati. Ia mungkin bisa kita maknai secara tersurat, tetapi jauh lebih penting menikmati keindahan aroma kata-katanya. Merasakan sentuhan hati yang kaya dengan pengalaman empirik si pengarang.

Saya teringat kata-kata penyair Jason Stone, sebuah puisi bertujuan untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran melalui berbagai cerita yang cepat dan lebih mengesankan. Puisi adalah tentang perasaan dan ide, suka ataupun tidak suka, pemujaan, dan emosi.  

Di dalam kumpulan puisi ini, penyair telah berjalan ke banyak daratan dan perairan di tanah air. Ia benar-benar menjadi penyair ketika berhasil memotret semua jejak perjalanan itu dalam sehimpun puisi-puisinya. Ia menuangkan segala bukti sejauh mana jiwa dan pikirannya telah melanglang buana, segala perasaan, segala yang terlihat, dan segala yang ingin ia keluhkan. Ada deskripsi sejarah, tentang apa yang pengarang lihat di belahan negeri, tentang yang benar-benar melekat di hati pengarang, yakni kebudayaan.

Mungkin tak mengherankan kalau Robert Pinsky pernah bilang, puisi itu seni kuno yang lebih tua dari mesin cetak, lebih tua dari kontemporer, lebih tua dari prosa, dan lebih tua pula dari proses menulis. Puisi lebih tua dari perjalanan itu sendiri, dan puisi-puisi itu telah lahir sebelum Kasih Tertinggal di Bulang Linggi dirampungkan penyairnya.

Harga Sebuah Pengalaman Empirik

Nama Bambang Kariyawan Ys barangkali saat ini masuk dalam deretan penyair Riau yang sudah cukup matang dan berusia. Itulah alasan paling kuat mengapa ketika membaca karya-karya puisinya telah kaya dengan pengalaman empirik yang tak bisa dibohongi.M

Mari kita simak beberapa lirik puisi sederhana tetapi di situ kita bisa menemukan aroma terdalam pengalaman hati penyairnya.

Pada batu-batu ini

Ada aroma kesahajaan

Kuhidu wangi kekerabatan

Kuhirup anyir kekuasaan

Pada batu-batu ini

Akan selalu ada kisah

Tentang sengkarut dinasti

Kita baca juga bait di puisi yang lain:

Di atas perahu ini kupungut asinmu

Bersama kecipak arus yang terbuai angin

Darinya kutemukan berbaris kata tentang lautmu

Pertemuan-pertemuan arus menderu bersama mesin perahu

Menyusuri tepian pulau dari negeri segantang lada ini

Kupunguti asin lautmu dalam cawan bermotif naga

Di dalamnya berkisah tentang kegagahan silam akan maha karya

Demikianlah harga sebuah pengalaman empirik pengarang. Ia menjadi keistimewaan yang tak akan bisa diplagiasi. Diksi dan bunyi mungkin saja penyair lain bisa epigon, tetapi pengalaman empirik yang tertuang dalam sebuah puisi akan menjadi pembeda sebuah karya dari karya yang lainnya.

Bagi saya keistimewaan Kasih Tertinggal di Bulang Linggi yang paling terasa adalah semua itu. Inilah yang membuat saya menemukan kepribadian penyair dalam puisinya. Sedangkan untuk mendapatkan semua itu tak mudah. Butuh waktu, ketunakan dalam berproses dan berjalan sebagai penyair ke berbagai tempat untuk membaca segala suasana.

Jadi, benarlah bahwa harga sebuah perjalanan diri dan hati, pengalaman empirik adalah sesuatu yang sangat bernilai. Lihatlah apa kata Rumi:

Dalam terang-Mu aku belajar mencintai.

Dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi.

Kau senantiasa menari dalam hatiku,

meski tiada seorang yang melihat-Mu,

dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu.

Dan, sungguh, “Penglihatan Agung”

inilah yang menjadi inti dari seniku.

(Ditulis oleh: Nafi’ah al-Ma’rab, penikmat puisi dan pengarang).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan