KRITIK & ESAI : Pantun Warisan Dunia | Deklarasi Warga Pantun, 2016

PANTUN WARISAN DUNIA
DEKLARASI WARGA PANTUN, 2016

(1)

Ahad malam, 27 Desember 2020, saya mengikuti Kenduri Puisi yang diadakan melalui daring. Dipandu oleh Tauafik Ikram Jamil, dan menampilkan beberapa pembicara seperti Pudentia MPSS (Ketua ATL), Dr. Najamudin Ramly, Prof. Madya Abdul Malik, William Derk Ph.D., Kenduri ini dimaksudkan sebagai penyambutan atas ditetapkannya PANTUN sebagai Warisan dunia tak benda, yang hidup di sejumlah negara seperti Idnonesia, Malaysia, Brunei, Singapore, Thailand. Perjuangan yang diupayakan oleh Indonesia dan Malaysia ini, akhirnya berbuah manis. Mengapa hanya Indonesia dan malaysia, dijawab oleh Pudentia bahwa ini masalah tehnis koordinasi dan adminsitratif, yang sangat dibatasi oleh waktu yang cukup terbatas. Namun hal ini telah dikomunikasikan kepada rekan-rekan di tiga negara dimaksud.

Pantun memang warisan budaya yang dulunya dalam bentuk lisan. Kini telah banyak buku-buku tentang pantun yang diterbitkan, yang berkisah tentang sejarah ataupun nilai-nilai kehidupan. Saya ingin menyebutnya: Iberamsyah Barbary, Pantun Sejarah: Riung Negeri Banjar, Dwi bahasa Indonesia Inggris, Penerbit KKK Jakarta, 2019; Tenas Effendy , Ungkapan Melayu, Penerbit Dinas Kebudayaan dan Provinsi Riau bersama Tenas Effendy Foundation, 2012; Tusiran Suseno, Mari Berpantun, Yayasan Kesenian Riau Jakarta bersama Pemerintah Kota Tanjung Pinang, 2003. Tentu masih banyak lagi buku-buku tentang pantun atau yang menggunakan pantun sebagai media dalam mengemukakan gagasan dan pendapat, yang terbit di Indonesia ini dan di negeri-negeri Asean lainnya.

Namun saya ingin menulis sebuah peristiwa pertemuan penyair se Asean, yang diadakan di Singapore, 2016, digagas oleh Rohani Din. Pertemuan ini mewajibkan setiap penyair untuk menulis pantun yang nantinya diedit oleh Rohani Din, dengan standar yang cukup ketat untuk mengikuti kaidah penulisan pantun, antara sampiran dan isi, bahkan berkaitan dengan jumlah suku katanya. Hasilnya adalah terbitnya buku antologi pantun berjudul: SENANDUNG TANAH MERAH, Kumpulan Pantun dari Penyair 5 Negara Asean, diterbitkan oleh KKK Jakarta, disunting dan disusun oleh Rohani Din, Singapore.

Terdapat beberap komentar yang berkaitan dengan penerbitan buku antologi pantun Asean ini yang tertera dalam sambutan yang ada dalam buku ini. Misalnya penyair Brunei, Chong Ah Fok, menyatakan bahwa usaha Bunda`Anie yang gigih mengumpul dan mengedit pantun-pantun yang diterima, akan memperkaya khazanah budaya Melayu yang diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang di Nusantara. Sementara itum Dimas Arika Mihardja dari Jambi, Indonesia menulis bahwa pantun dan santun merupakan dei tunggal, dua hal yang menyatu dalam sikap dan kearifan budaya Melayu. Pemantum mengajarkan sikap ramah tamah, senyum dan kearifan melalui pantun.

Dari Thailand, Mahroso Doloh, menulis bahwa dengan terbitnya buku antologi pantun ASEAN ini, diharapkan dapat menjadi sumbu untuk anak-anak Melayu, khususnya anak-anak Melayu Pattani, menyalakan kembali minatnya, di dalam dunia sastra (pantun). Jasni Matlani, dari Sabah, menyatakan bahwa pantun sudah wujud di sekitar wilayah Nusantara ini lebih 400 tahun yang lalu. Karena itu Jasni Matlani mengucapakan penghargaan setingi-tingginya kepada Bunda`Anie Din, karena berjaya mengumpulkan 1212 buah pantun yang termuat di dalam buku ini. Sedangkan Fakhrunnas MA Jabbar, memuji usaha Bunda Anie ini, yang berhasil menghimpun pantun dari penyair yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand. Buku ini dapat dijadikan sarana dalam menebar kebajikan sambil memperkenalkan kekayaan khazanah orang melayu dalam memperhalus akal dan budi.

(2)

Diantara 105 penyair yang lolos seleksi penulisan pantun dengan jumlah pantun sebanyak 1212 pantun, terdapat 12 berasal dari Riau, yaitu Aries Abeba, Pandeka MD, Dheni Kurnia, DM Ningsih, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, Kazzaini, Kunni Masrohanti, Musthamir Thalib, Muchied Albintani, Replizonri Sikumbang, Yanti Riswara Idris.

Apa saja tema yang ditulis oleh 12 penyair Riau itu? Sebagaimana umumnya penyair, tema yang ditulis cukuplah beragam, dari soal cinta, alam, makanan, iklim, sosial politik, dan lain-lain. Untuk melihat secara sekilas, saya akan kutipkan beberapa pantun mereka:
Aries Abeba, bercerita soal cinta dan akad nikah:

Buah kuni dimakan cik Ita/bersama rumpi dan kuih layang/
apakah ini namanya cinta/ malam termimpi siang terbayang/

Bersepah gading dipungut pak Amin/ cucu cik Etun kejar rama-rama/
pengantin bersanding atas pelamin/ shalawat dilantun kompang bergema/

Lain Aries, lain pula Dheni. Dheni tak lagi bicara soal cinta atau pelaminan, tetapi soal kehidupan yang hars bermarwah dan berarti.

Cuaca redup bersantai di sawah/asyik merokok jari terbakar/
Kalaulah hidup tidak bermarwah/bagaikan pokok tidak berakar/

Pokok turi ditanam pak Aripin/ tanaman keladi dijaga sentiasa/
Elok negeri karena pemimpin/ eloknya budi karena bahasa/

Apa yang ditulis Presiden Penyair Perempuan Indonesia, Kunni Masrohanti? Ternyata Kunni sudah bersiap menjadi orang bijaksana dan pemberi nasehat kepada kamu muda atau juga kaum tua.

Berbaring di pangkin di tepi lombong/sepoi anginnya udara pun nyaman/
Kalau dah miskin masih nak sombong/itulah tandanya kurang siuman/

Kerikil baru di sebalik bukit/takkan berubah menjadi permata/
Memberi sesuatu usah diungkit/kebaikan berubah menjadi nista/

Sebagai salah satu penyair wanita dari 3 penyair Riau yang dimuat pantunnya dalam buku ini, DM Ningsih nampaknya satu mazhab dengan Kunni. Ini pantunnya:

Pasang pelampung di Teluk Belitung/ tenggiri bawal sedang dipanggang/
Hidup sekampung pandai berhitung/modal terawal dibuat berdagang/

Suara jentayu berperi-peri/nampak di perigi airnya tenang/
Orang Melayu mampu mandiri/ke mana pergi sentiasa senang/

Seorang pensyarah yang baru selesai membuat Doktor (2014) di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan kelahiran Bintan, Muchied Albintani, menulis pantun bertemakan dunia makro dan sosial politik. Begini pantunnya:

Berjalan raya ke rumah Syarifah/ di bangku kayu duduk tak lama/
Bahasan karya perihal falsafah/ falsafah Melayu milik bersama/

Selori kayu dibawa ke kota/ tak sedar kera tenggek atasnya/
Tanda Melayu masih bertakhta/ tanah Singapura jadi saksinya/

Kelapa diperah keluar santan/ nak bawa ke pura tumpah ke tanah/
Saksikan sejarah si anak Bintan/dari Singapura bawa khazanah/

(3)

Saya ingin mengutip hasil pertemuan Singapore 2016 itu,yaitu disepakatinya dibuat sebuah deklarasi yang disebut sebagai Deklarasi Warga Pantun, yang ditandatangani oleh 105 penyair peserta pertemuan, pada 30 Januari 2016, yang berisi 6 butir pernyataan.

  1. Kami warga pantun, berdaulat untuk berpantun, dalam membangun silaturrahmi serumpun dengan sesiapa pun dan dengan warga manapun.
  2. Wilayah pantun, tidak terbatas oleh sempadan, tidak tersekat oleh waktu, tidak terkurung oleh musim dan tidak hanyut terbang dibawa angin gelombang.
  3. Bahasa Pantun adalah bahasa santun. Yang dikemas dalam adab berkaum, yang dialu-alukan masa berhimpun, yang dihibahkan turun-temurun.
  4. Lambang pantun adalah putuh budi, berwarna keberagaman pelangi, bercorak ketulusikhlasan diri, mengibarkan panji-panji persaudaraan abadi.
  5. Pemimpin berpantun adalah hati nurani, rakyat pantun adalah kasih mengasihani, panglima pantun sayang menyangi, hulubalang pantun jaga menjagai.
  6. Peradaban kami adalah kanun maruah seni, berakar pada teras Melayu sejati, bergantung pada haq, ilaahi raabbi.

(4)


Unesco telah memberikan penghargaan begitu rupa pada eksistensi PANTUN sebagai warisan dunia tak benda, akan merupakan pendorong agar Warisan ini tidak disia=siakan, tetapi betul-betul dipelihara dan dikembangkan, di lembaga pendidikan dan ditengah-tengah masyarakat. Dalam banyak pidato pimpinan pemerintahan, termasuk juga pimpinan perguruan tinggi, selalu memulainya dan amengakhirinya dengan pantun. Namun sayang di sayang, seperti yang dikeluhkan oleh Tenas Efendi , ketika beliau masih hidup, pantun-pantun mereka itu masih jauh dari kaidah-kaidah dasar penyusunan pantun. Mana sampiran mana isi, tak jelas. Dalambanyak kasus, justru yang ada adalah tidak adanya sampiran, tetapi semuanya berisi ISI dan ISI sehingga aspek estetika menjadi hambar. Beliau kecewa ? Tentu . Ternyata membuat Pantun, janganlah dianggap sepele… perlu juga belajar. Tentu saja juga belajar tentang alam, semesta, flora dan fauna.

Jom !

Pekanbaru, 28 Desember 2020

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan