Manusia, Malaikat dan Hewan, Sadarilah Diri di Posisi Manakah Kita Selalu Berada: Catatan Hendrizon

73

Diantara keistimewaan penciptaan makhluk yang bernama manusia, fungsi akal dan nafsu adalah sesuatu hal yang mampu membedakan dimanakah diri ini sedang berada. Di dalam ajaran Islam, penciptaan mahkluk hidup terbagi menjadi tiga jenis yakni manusia, hewan dan malaikat.

Sebagai mahkluk bernama hewan, ia hanya dibekali dengan nafsu. Terkadang nafsu cenderung untuk berperilaku jahat dan buruk bahkan bisa melebihi, seperti akan selalu melanggar ketentuan atau perintah yang telah ditetapkan. Sebagai contoh, binatang ternak yang ditengah tanah ladang yang luas. akan selalu berupaya keluar dan mencari makan dan memakan makanan temannya sendiri walaupun sudah dijatah oleh tuannya untuk tidak mengganggu makanan temannya sesama jenis binatang. Maka jangan heran kalau kita mendengar binatang masuk ke kebun dan memakan berbagai jenis tanaman walaupun sudah diberi batas atau dipagari.

Jenis malaikat pula adalah sesosok mahkluk yang telah Allah SWT ciptakan untuk mengabdikan diri dengan senantiasa taat akan segala perintah-Nya atas akal yang diberikan. Di dalam al Quran banyak dituliskan berbagai jenis dan bentuk dari perintah seperti perintah untuk bersujud maka bersujudlah malaikat, perintah untuk menyampaikan wahyu maka disampaikanlah wahyu, perintah untuk beribadah dan Ketaatan maka beribadah, bertasbih, dan memuji Allah tanpa henti dan tanpa rasa lelah, perintah menyampaikan wahyu maka disampaikanlah wahyu dari Allah kepada para nabi dan rasul, perintah mengatur alam maka diaturlah berbagai aspek alam, seperti hujan, rezeki, dan pertumbuhan tanaman, serta banyak lagi perintah lain. Singkat kata malaikat adalah mahkluk yang tak pernah mengingkari.

Berbeda dengan suatu mahkluk yang bernama manusia. Kepada diri manusia, Allah SWT telah memberikan akal dan nafsu. Dengan akal manusia itu mampu mencapai deraratnya seperti seorang malaikat, tapi dengan nafsu adakala manusia itu akan lebih hina dari seekor binatang.

Jika terdapat manusia yang selalu bersikap dan bertingkah laku seperti memakan makanan (hak) temannya sendiri dan orang lain, ingin menang sendiri (egois), hidup tak beraturan, melanggar pantang dan larang, serta lain sebagainya, maka sesungguhnya hidup manusia yang seperti itu sedang memposisikan dirinya sebagai seekor binatang. Jika ini terjadi maka bersegeralah minta ampun dan beristigfar kepada Allah SWT agar akal yang diberikan itu mampu menyadarkan diri untuk kembali ke fitrahnya menjadi seorang manusia atau makhluk yang disebut Khalifah Fil Ard (Pengganti dimuka bumi) untuk memakmurkan dan menjaga bumi serta mengelola sumber daya alam dengan bijaksana (QS. Adz Dzariyat :56), (QS. Al-Baqarah: 30), (Q.S Hud :61), (Q.S. al-Nisa’: 58) dan ( Q.S. al-Ahzab : 72).

Sebaliknya bilamana manusia ketaatannya telah melampaui batas seperti berpuasa sehari penuh, mengerjakan sholat tak kenal waktu atau beribadah tak lagi mengenal syariat, maka sesungguhnya ia telah berada diposisi sebagai seorang malaikat. Andaikata ini telah kita alami maka bersegeralah introspeksi diri dan ingat untuk bersegera mencontohi apa yang telah dituntunkan oleh nabi Muhammad SAW sebagai seseorang yang memberikan suri tauladan yang baik (Uswatun hasanah) dalam kehidupan ini.

Manusia sesungguhnya memiliki kedua unsur yang tadi disebutkan diatas (akal dan nafsu). Akal yang dimiliki manusia berpotensi untuk mencapai derajat yang tinggi, sebaliknya nafsu manusia juga berpotensi menjerumuskan dirinya ke dalam lembah dosa dan kemaksiatan. Dari diri manusia itu dituntut berusaha keras untuk mengendalikan hawa nafsu dan dari diri manusia itu dituntut untuk meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT agar bisa meraih derajat yang tinggi di sisi-Nya.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Imam al Ghazali di dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan level manusia itu berada di antara malaikat dan hewan. Lebih mulia dari hewan dan lebih rendah dari bangsa malaikat.

والإنسان رتبته فوق رتبة البهائم لقدرته بنور العقل على كسر شهوته ودون رتبة الملائكة لاستيلاء الشهوات عليه وكونه مبتلى بمجاهدتها، فكلما انهمك في الشهوات انحط إلى أسفل السافلين والتحق بغمار البهائم، وكلما قمع الشهوات ارتفع إلى أعلى عليين والتحق بأفق الملائكة.

Artinya, “Level manusia itu berada di atas hewan karena dengan cahaya akal yang dimilikinya mampu menaklukan syahwat. Akan tetapi di bawah level malaikat karena memiliki syahwat dan diuji untuk menaklukannya.” “Jika ia terbuai oleh syahwatnya, levelnya akan turun setara dengan hewan. Sebaliknya, jika mampu menghancurkan syahwatnya, makan levelnya akan naik setinggi-tingginya bersama golongan para malaikat.” (Ihya ‘Ulumiddin, juz , hal. 236).

Maka jangan heran di dalam kehidupan ini terdapat manusia dengan pangkat dan jabatan yang tinggi, tapi sesungguhnya derajatnya sama dengan seekor binatang atau hewan, begitu pula sebaliknya terdapat manusia yang fisiknya atau casingnya tak meyakinkan tapi berhati mulia seperti hatinya para malaikat.

Namun yang paling kita kehendaki disini adalah sesosok manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT kapanpun dan dimanapun ia berada. Wallahu”alam.

Bengkalis, 06 Agustus 2025

Hendrizon Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024 -2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.No.Hp/WA 0813 1533 2965.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan