Membaca Umar Khayam Tentang Sastra Indonesia : Catatan Shafwan Hadi Umry

Membaca Umar Khayam Tentang Sastra Indonesia : Catatan Shafwan Hadi Umry

115

Membaca Umar Khayam Tentang Sastra Indonesia
Oleh Shafwan Hadi Umry

 

Tokoh budayawan dan sastrawan Umar Kayam termasuk seorang pemakalah yang populer dalam Kongres Bahasa Indonesia V (1988). Tidak mengherankan ruang dalam gedung LIPI penuh dengan pengunjung yang telah menantikan Umar Kayam untuk menyampaikan makalahnya. Sebagaimana yang disebutkan Budi Darma yang hari itu bertindak sebagai pemandu, Umar Kayam termasuk seminaris profesional dengan menambah riwayat hidup dan sudah barang tentu sejumlah kreativitas Kayam yang telah dibukukan.

Menanggapi komentar Budi Darma, novelis Umar Khayam menyambutnya dengan kata-kata “maka habislah misteri diri saya hari ini….” Khayam menyatakan bukan hanya wanita yang harus memiliki misteri tetapi juga lelaki. Khayam dengan nada humor mengatakan berbahagialah sang istri kalau ada sesuatu ‘misteri’ yang masih disimpan dalam diri. Andai- kata tidak ada yang tertinggal apapun dalam diri lelaki maka tamatlah riwayatnya sebagai lelaki kecuali Romo Dick Hartoko. Kata-kata itu disambut hadirin dengan tertawa riuh.

Umar Khayam dalam makalahnya tidak luput menyerang metode pendekatan sastra modern dengan teori sastra yang selalu menerbitkan kekecewaan. la tidak setuju novel War and Peace karya Tolstoi di potong-potong sesuai dengan kepentingan kritikus, sehingga bagian-bagian yang terpotong itu tidak lagi meninggalkan keharuan bagi pembaca. Padahal bahasa kesusastraan pengarang adalah bahasa khas pengarang yang bercerita tentang yang sangat akrab, tetapi belum akrab bagi pembaca.

Pengarang pada umumnya terus-menerus berdialog dengan lingkungan budayanya. Dalam pengembaraan itu ia haruslah memiliki konsep dunia rekaan dan bahasa pilihan. Tolstoi pengarang Rusia tahu bahasa pilihan yang dipakainya. Bahasa pilihan itu membuat pembaca tergetar menikmati karya yang dipersembahkannya. Bahasa pilihan adalah bahasa khas pengarang. la ibarat cat dalam seni lukis yang menentukan keindahan atau keburukan lukisan. Tetapi bahasa seperti halnya cat bukan terutama menentukan segalanya. Diperlukan suatu konsep dunia rekaan suatu dunia yang sangat gelisah, yang memiliki posisi yang goyah dan cair terutama bila dikaitkan dengan dunia pengarang di Indonesia. Secara prihatin Umar Kayam menyatakan apa yang nampaknya kita korbankan, kita pertahankan’.

Mengenai masalah sastra di Indonesia, Umar Kayam menegaskan karya fiksi kita tertarih-tatih. Dunia sastra kita ‘kalah muncul’ dengan dunia seni lukis Indonesia.

Barangkali di bidang puisi kita mujur sedikit. Beliau mengambil contoh sajak-sajak Chairil Anwar terutama sajak ‘Senja di Pelabuhan Kecil’ menampilkan sajak suasana yang terkuat yang pernah ditulis di Indonesia. Puisi Chairil ini mampu menyatu dengan dunia rekaan dan pilihan bahasa yang dipakainya. Kemudian beliau mengambil contoh puisi mutakhir Indonesia seperti Goenawan Mohamad dalam puisi ‘Di Taman Jepun’ (termasuk kawasan gedung East-West Center, Hawai) menceritakan tragedi kecil tentang seorang lelaki yang terlanjur beristri dan memiliki anak terlibat cinta dengan seorang wanita yang telah bersuami dan memiliki anak.

Dunia lebih rumit

Bahasa pilihan dari setiap pengarang adalah bahasa khusus yang ditemukan, diciptakan, dikembangkan untuk menceritakan dan menjelaskan dunia rekaan yang sesungguhnya abstrak dan berada di luar jangkauan pembaca. Dengan bahasa tersebut sang pengarang harus dapat mencapai dua “misi”, yaitu menjelaskan dengan meyakinkan tentang dunia rekaannya yang abstrak dan berada di luar jangkauan pembaca serta juga mau memberi pengalaman keharuan tentang kehidupan yang baru dan indah.

Dalam makalahnya ‘Bahasa Indonesia sebagai bahasa karya Fiksi’, Umar Khayam mengagumi gerakan kebudayaan yang dipelopori sejumlah kelompok cendikiawan Pujangga Baru. Sutan Takdir Alisyahbana bukan satu kebetulan membina dunia rekaan dengan bahasa pilihan yang lain dalam Layar Terkembang.

STA menyadari pemakaian bahasa pilihan dalam Dian Tak Koenjoeng Padam amat berbeda dengan pilihan bahasa novel Layar Terkembang. Novel yang kedua yang ditulisnya bercerita tentang dunia yang lebih rumit, lebih modern dibandingkan novel Dian Yang Tak Koenjoeng Padam yang sangat sederhana, tidak rumit dan dunia rekaan dunia kampung.

Perkembangan sesudah angkatan 45, menurut Umar Kayam adalah perkembangan yang lebih memunculkan keanekaragaman di bidang penulisan. Satu generasi penulis baru yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal barat, seperti Ajip Rosidi, W.S.Rendra dan kemudian Goenawan Mohamad menulis dengan nafas yang berbeda-beda dan sangat berbeda dari para pendahulu mereka.

Mungkin dengan kondisi bahasa yang lahir sebagai keputusan politik yakni memunculkan sikap imperatif (perintah) berkembangnya bahasa komunikasi politik dan bahasa sebagai keputusan budaya suatu bahasa pengikat yang mampu mengembangkan kebudayaan baru, suatu negara kesatuan yang memiliki konsep baru. Kebudayaan Indonesia terus menjalani proses integratif, kegelisahan pengarang sebagai cendikiawan yang hidup dalam arus tranformasi kebudayaan, maka sosok sastra modern Indonesia masih “serba kurus”. Kurus sebagai suatu khazanah bahasa pilihan pengarang; kurus sebagai suatu konsep dunia rekaan yang menakjubkan.

Menurut Umar Kayam, sosok sastra kita yang kurus banyak ditentukan dari kiat dan seni sang pengarang menciptakan situasi dan komposisi dalam cerita atau puisi..

Demikian sorot balik sosok Sastra Indonesia menurut Khayam yang mantan Direktur Flim dan TV RI.

Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan