Mengapa Para Seniman Menolak Revitalisasi TIM? Ini alasannya

63

Demo Seniman FSPT Terus Berlanjut

JAKARTA-TIRASTIMES: Puluhan seniman lintas generasi yang terhimpun dalam Forum Seniman Peduli TIM (FSPT) setiap Jumat selama berminggu-minggu terus menggelar demo di trotoar jalan Cikini Raya persis di depan TIM Jakarta. Aksi ini sebagai bentuk protes atas proyek Revitalisasi TIM yang dikerjakan oleh manajemen Jakpro atas izin kerjasama Pemprov DKI Jakarta.

Para seniman melakukan berbagai atraksi protes mulai berorasi dengan penguras suara menolak proyek revitalisasi, pawai dengan mengibarkan bendera merah putih, bagi-bagi kembang, atraksi teaterikal dan macam-macam untuk menarik simpati masyarakat yang lalu lalang di kawasan TIM yang kino sudah pagari seng sekelilingnya.

Koordinator FSPT, Tatan Daniel kepada Tirastimes.com belum lama ini menyatakan aksi demo ini dilakukan sebagai protes keras para seniman kepada Pemptov DKI dan Jakpro. Sebab, dalam pelaksanaan proyek revitalisasi tersebut pihak Pemrov dan Jakpro sama sekali tidak melibatkan para seniman yang selama ini merupan user (pengguna) TIM dalam berkreasi seni.

Tulisan Terkait

”TIM selama ini sejak didirikan oleh Gubernur Ali Sadikin tahun 1968 benar-benar sudah menjadi ‘rumah seniman.’ Banyak seniman besar di negeri ini yang lahir dan dibesarkan di TIM. Sekarang dengan alasan ingin melakukan modernisasi kawasan TIM yang dilakukan oleh Jakpro, tiba-tiba bangunan-bangunan lama yang bersejarah itu dirobohkan karena akan dibangun bangunan dan fasilitas baru yang menelan dana keseluruhan mencapai Rp. 1,7 T. Sedihnya, sebagian besar para seniman tidak diajak bermusyawarah,” kata Tatan Daniel di tengah-tengah kerumunan para pendemo.

Lantas mengapa para seniman lewat FSPT ini menolak revitalisasi? Tatan Daniel menjelaskan grand design yang disiapkan Jakpro jelas sangar kapitalis dan tidak berpihak pada kepentingan para seniman sendiri. Para seniman nanti bakal jadi ‘tamj asing’ di rumah sendiri yang selama ini sudah menjadi habitat berkesenian yang sangat merakyat. Sementara Jubir FSPT, Noorca M. Massardi mengungkapkan perjuangan FSPT ini akan terus dilakukan sampai pihak Pemprov dan Jakpro bersedia melakukan moratorium  dan berunding  secara formal agar tercapai kesepakatan yangvwin-win.

FSPT ini sebelumnya sudah mengadu ke DPR untuk penyampaian aspirask yang sama. Selain itu, aktivis FSPT, Arif Joko Witjaksono menambahkan, sebenarnya para seniman tidak memerlukan fasilitas mewah untuk berkreasi. Namun seniman membutuhkan tempat dan wadah yang nyaman sehingga terstimulan melahirkan karya-karya besar di negeri seperti yang sudah terbukti selama ini. Seperti  gambar-gambar yang dipajang oleh Jakpro di sekeliling pagar TIM, diperlihatlan rancangan gambar TIM pascarevitalisasi.

 Di kawasan TIM akan dibangun perhotelan mewah, wisma seno, fasilitas berkesenian dan sebagainya. (ns)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan