Presiden Penyair Indonesia, SCB Pun Bicara Soal Revitalisasi TIM. Apa Katanya?

JAKARTA-TIRASTIMES: Hari-hari Presiden Penyair Indonesia, Datuk Seri Sutardji Calzoum Bachri (SCB) sejak beberapa bulan terakhir jadi berubah sejak Proyek Revitalisasi TIM (Taman  Ismail Marzuki) dimulai. Kini bila SCB datang ke TIM, paling penyair hebat ini langsung menuju Gedung Perpustakaan Daerah DKI Jakarta. Tepatnya di pojok depan gedung ini yakni Bengkel  Galeri Bukunya Seniman Jose Rizal Manua.

”Tinggal aku sendiri,” ucap SCB mengawali perbincangan dengan Fakhrunnas MA Jabbar, wartawan Tirastimes.com di suatu sore, akhir Februari di TIM.  Makna ‘sendiri” itu, SCB merasa setahu dia tak ada lagi seniman atau sastrawan seangkatan atau di bawahnya yang ‘mangkal’ di TIM seperti waktu-waktu dulu. Apalagi semenjak proyek revitalisasi TIM dimulai sejak beberapa bulan lalu.

SCB merasa awalnya  TIM sejak didirikan oleh Gubernur Ali Sadikan tahun 1968, benar-benar sudah menjadi ‘rumah seniman’ baik yang tinggal di Jakarta maupun dari berbagai kota di seluruh Indonesia. TIM benar-benar menjadi barometer untuk mengukur kadar kesenimanan seseorang dalam rentang waktu yang panjang.

Pandangan yang sama sering pula diungkapkan sastrawan penggagas Hari Puisi Indonesia (HPI) Datuk Seri Rida K. Liamsi. ”Sejak dulu saya ingin semua kegiatan perayaan HPI secara nasional dipusatkan di TIM. Sebab TIM ini benar-benar menjadi barometer dalam berkesenian termasuk puisi di Indonesia,” kata Rida suatu ketika.

Ketika bangunan-bangunan bersejarah TIM secara bertahap dirubuhkan terkait pelaksanaan Proyek Revitalisasi TIM, SCB tampak gusar dan sedih.

”Aku bukannya tak setuju dengan revitalisasi TIM ini. Tapi mengingat adanya badan usaha (baca: Jakpro) yang membangun dan mengelola TIM ini ke depan, kita patut curiga. Kalau pun nanti semua bangunan TIM sudah baru tapi pasti tak semua fasilitas bisa dinikmati semua seniman. pasti akan sangat berbeda dibanding suasana TIM di masa lalu. Mana mau badan usaha  itu menyumbang cuma-cuma. Perusahaan itu pasti mengejar untung setidak-tidaknya mengembalikan modal dulu. Bisa dibayangkan nanti seberapalah yang bisa dinikmati senimsn, ” ujar penyair yang mencapai debutnya lewat Puisi Mantra.

”Ibarat apa yang dikerjakan perusahaan ini membangunsebuah rumah mewah. Seniman paling-paling hanya diberi faviliunnya saja. Jadi kecil sekali,” lanjut SCB.

SCB sempat bernostalgia, bagaimana dulunya TIM saat awal dibangun oleh Gubernur Ali Sadikin. Waktu itu, kawasan TIM yang sebelumnya merupakan kebun binatang  disulap menjadi kawasan yang membangun peradaban. Tanaman hijau masih dominan di TIM. Dulu ada kantin Dewi Indah, tempat para seniman berkumpul dan berbincang.

Selain itu, kata SCB, ada Wisma Seni yang menjadi tumpuan menginap para seniman yang datang dari berbagai kota di Indonesia debgan harga yang sangat terjangkau. 

”Wisma ini bukan hanya sekadar tempat nginap. Tapi yang lebih penting, wisma ini menjadi  tempat bertemunya berbagai gagasan dan pemikiran para, seniman sambil saling bersilaturahim. Saya khawatir, suasana seperti ini tidak akan ditemukan lagi,” kata penyair yang lahir di Rengat ini. ,
SCB juga mengingat, dulu ada seniman yang kalau ada masalah dengan istrinya di rumah lalu ‘mengungsi’ di Wisma Seni selama beberapa hari. Biasanya setelah itu, seniman ini dapat ketenangan pencerahan.

Dikatakan, kawasan TIM di masa lalu benar-benar menjadi habitat para seniman berbagai bidang seni dalam  berkreativitas. Banyak sanggar-sanggar yang tumbuh secara alamiah. Para seniman ini banyak melahirkan karya-karya hebat di negeri ini.

Diakui SCB bila sejak dulu sejalan dengan pergantian Gubernur DKI dan pengelola TIM, tata letak dan bangunan fasilitas seni di TIM juga mengalami pasang surut.

Pernah pada masa kepemimpinan Salim Said, ada juga bangunan lama yang dirubuhkan dan dibangun bangunan baru. “Tapi Salim masa itu mengajak para seniman bermusyawarah. Apa yang akan dirubuhkan dan dibangun kembali dijelaskan lengkap dengan gambar-gambar. Jadi para seniman itu diajak berunding dan sama-sama membuat keputusan. Oleh sebab itu tak banyak permasalahan yang muncul. Kata kuncinya ya harus bermusyawarah,” ujar  penyair yang tinggal di Bekasi ini.

Terkait proyek revitalisasi TIM sekarabg, kata SCB, nampaknya Pemprov DKI hanya berunding dengan pengurus DKJ dan institusi lain serta  melibatkan lima orang perwakilan seniman yang dicomot begitu saja. Oleh sebab itu keberadaan mereka dipandang kurang representatif oleh kebanyakan seniman yang lain. 

Sesuai SK Gubernur DKI No. 1018 Tahun 2018, tercantum mama kelima perwakilan tersebut yakni Arie F. Batubara, Arsono, Hidayat LPD, Yusuf Susilo Hartono dan Mohamad Chozin.

Oleh sebab itu, Gubernur DKI melalui Dinas Kebudayaannya menerima masukan-masukan selain DKJ dan institusi terkait juga kelima seniman yang kini dipertanyakan oleh para seniman yang tergabung dalam Forum Seniman  Peduli TIM (FSPTim) yang terus menggelar demo protes atas proyek ini. FSPTim dipimpin oleh Radhar Panca Dahana dan koordinator lapangan Tatan Daniel. Di kubu ini juga ada nama-nama lain seperti Noorca M. Massardi, Arif Joko Wicaksono dan masih banyak lagi.

SCB di akhir perbincangan tetap berharap agar TIM harus menjadi ‘rumah’ bagi seniman seperti di masa lalu. ***

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan