

Melansir Council on Foreign Relation, Israel dan Palestina terlibat perang karena berbagai usaha perebutan wilayah yang mengancam pengusiran penduduk Palestina dari tanah yang telah mereka diami selama berabad-abad sebelumnya.
Selain itu alasan kenapa Israel dan Palestina perang juga disebabkan hasil dari berakhirnya Perang Dunia I. Saat itu Inggris menguasai Kesultanan Turki Ottoman yang runtuh.
Sehingga, Palestina menjadi tempat tinggal mayoritas penduduk Arab dan Yahudi. Yahudi, yang merupakan kelompok minoritas, bergabung dengan gerakan Zionis dengan tujuan untuk menguasai Palestina dan mendirikan negara mereka sendiri.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusulkan pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara, yaitu Israel dan Palestina melalui Resolusi 181. Proposal ini tidak diterima oleh pihak Arab karena merasa pembagian tersebut tidak adil.
Kemenangan Israel mengakibatkan wilayah terbagi menjadi 3 bagian yakni Israel, Tepi Barat (Sungai Yordan), dan Jalur Gaza.
Perang Enam Hari pada tahun 1967 menjadi titik balik penting dalam sejarah Israel dan Palestina. Dalam perang ini, Israel berhasil merebut wilayah Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur dari tangan Palestina.
Gerakan kemerdekaan Palestina yang dipimpin oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan kelompok-kelompok seperti Hamas, berjuang mendapatkan hak-hak politik dan kemerdekaan Palestina.
Beberapa dekade internasional melakukan upaya untuk mendamaikan Israel-Palestina. Seperti mengadakan Perjanjian Oslo I tahun 1933 dan Perjanjian Oslo II. Perjanjian ini menetapkan Palestina untuk memerintah di Tepi Barat dan Gaza.
Israel dan Hamas Palestina juga menyetujui gencatan senjata pada 21 Mei 2021. Mesir menjadi pihak penengah yang menyatakan kemenangan atas keduanya. Lebih dari 250 warga Palestina meninggal dan 2000 lainnya terluka.
Pecahnya perang Hamas Palestina dan Israel pada 7 Oktober 2023 menimbulkan kekhawatiran. Dewan Keamanan PBB melakukan pertemuan, tetapi anggota gagal mencapai kesepakatan.
Perang antara Israel dan Palestina tak kunjung mereda. Bahkan perang terbaru pecah saat ini kala Hamas menyerang Israel 7 Oktober, dan dibalas Negeri Yahudi dengan serangan udara.
Perang Israel-Hamas kini pun memasuki hari ke-16. Ini merupakan perang paling mematikan di antara lima perang di Gaza bagi kedua belah pihak.
Kementerian Kesehatan Palestina pada Minggu mengatakan jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai sedikitnya 4.651 orang sementara 14.254 orang lainnya terluka. Kementerian juga mengatakan 93 warga Palestina pun tewas dalam kekerasan dan serangan Israel di wilayah Palestina lain, Tepi Barat.
Hampir 3000 orang tewas dan lebih dari 10.000 orang terluka dari pihak Palestina dan Israel dalam perang Israel-Hamas dalam seminggu ini. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan sekitar 1500 orang Palestina meninggal dunia dan lebih dari 7000 orang mengalami luka-luka. Pihak Israel menyebutkan sekitar 1300 orang Israel tewas dan sekitar 3400 orang terluka (cnnindonesia.com, 13 Oktober 2023).
Tentu ini tragedi kemanusiaan yang sangat menyedihkan dan tidak bisa dibiarkan akibat konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan sejak didirikannya negara Israel pada 1948. Apa sebenarnya akar konflik Israel-Palestina ini?
Konflik Israel-Palestina adalah salah satu konflik paling berkepanjangan dan paling kompleks di dunia modern. Ini memiliki akar sejarah yang mendalam lebih dari satu abad dan terus mempengaruhi kehidupan jutaan orang di Timur Tengah. Untuk memahami ketegangan dan kekerasan yang sedang berlangsung di wilayah ini, kita harus melihat lebih dalam kepada faktor-faktor sejarah, politik, dan budaya yang telah berkontribusi pada konflik Israel-Palestina.
Akar Historis
Akar konflik Israel-Palestina dapat ditelusuri kembali ke akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 ketika gerakan Zionisme, yang berusaha untuk membangun tanah air Yahudi, mulai mendapatkan momentum. Pamphlet The Jewish State yang ditulis oleh Theodor Herzl (1860-1904), seorang Yahudi Austria-Hungaria, sering dilihat sebagai dokumen dasar Zionisme politik modern. Tujuan gerakan ini adalah untuk membangun tanah air Yahudi di Palestina, yang pada saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Ottoman.
Selama berabad-abad, wilayah Palestina dihuni oleh mayoritas penduduk Arab, termasuk Arab Palestina, komunitas Yahudi dan Kristen. Ketegangan mulai meningkat di wilayah ini seiring dengan meningkatnya imigrasi Yahudi ke Palestina. Deklarasi Balfour pada tahun 1917, yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris pada Perang Dunia I, menyatakan dukungan untuk pembentukan “rumah nasional bagi orang Yahudi” (national home for the Jewish people) di Palestina. Deklarasi ini semakin memperburuk konflik tentang tanah dan identitas antar komunitas di wilayah Palestina.
Akar Nasionalisme dan Identitas
Nasionalisme memainkan peran penting dalam konflik Israel-Palestina. Kebangkitan gerakan nasionalis Yahudi dan Palestina berkontribusi pada bentrokan identitas dan aspirasi. Nasionalisme Yahudi atau Zionisme berusaha untuk menciptakan negara Yahudi di Palestina, sementara nasionalisme Palestina bertujuan untuk mempertahankan identitas Arab dan hak mempertahankan tanah mereka.
Pasa periode Perang Dunia, imigrasi Yahudi ke Palestina meningkat dan ketegangan pun meningkat saat komunitas Palestina dan Yahudi mulai bersaing untuk menguasai tanah Palestina. Perebutan wilayah dan identitas ini memperdalam jurang antara Yahudi dan Palestina dan pada ujungnya meletakkan dasar bagi konflik berkepanjangan dan berdarah di masa-masa berikutnya.
Akar Pembagian Palestina dan Pembentukan Israel
Keputusan PBB untuk membagi Palestina pada tahun 1947 menjadi negara Yahudi dan negara Arab yang terpisah menandai titik balik dalam konflik Israel-Palestina. Pemisahan ini diterima oleh pemimpin Yahudi, tetapi ditolak oleh pemimpin Arab. Akibatnya, terjadi perang besar antara pasukan Yahudi dan pasukan Arab. Pada tahun 1948, negara Israel secara resmi didirikan. Ini mengakibatkan pengusiran massal sekitar sejuta warga Arab Palestina dari tanah mereka dan penciptaan negara mayoritas Yahudi di tanah Palestina. Peristiwa ini, yang dikenal sebagai Nakba (catastrophe; malapetaka), sampai kini menjadi kenangan yang sangat menyakitkan bagi Palestina.
Akar Perang Arab-Israel
Konflik Arab-Israel tidak berakhir dengan pengusiran massal warga Palestina dan penciptaan negara Israel pada 1948. Terjadi beberapa kali perang Arab-Israel, seperti Perang Enam Hari 1967 dan Perang Yom Kippur tahun 1973, yang membuat situasi semakin suit dan menyebabkan perubahan wilayah Palestina. Pendudukan Israel atas Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun 1967 menciptakan ketegangan dan perlawanan yang berkelanjutan dari kelompok-kelompok Palestina. Pada masa inilah muncul Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan Hamas.
Upaya Perdamaian
Selama beberapa dekade, banyak upaya internasional telah dilakukan untuk mencapai solusi damai atas konflik Israel-Palestina. Perjanjian Oslo 1993 menciptakan Otoritas Palestina dan peta jalan negosiasi. Namun, perjanjian damai berikutnya seringkali gagal menghasilkan resolusi akhir. Isu-isu inti, seperti status Yerusalem, hak kembalinya pengungsi Palestina, dan perbatasan negara Palestina-Israel, tetap kontroversial dan belum menemukan titik-temu.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa konflik Israel-Palestina sangat berakar pada faktor-faktor sejarah, politik, budaya yang telah membentuk Timur Tengah modern dan intervensi Barat. Memahami asal-usulnya sangat penting untuk menemukan jalan menuju perdamaian dan koeksistensi. Sejarah konflik yang kompleks, peran nasionalisme, dan perjuangan untuk memperoleh wilayah oleh kedua pihak terus menantang para pemimpin dan organisasi internasional untuk bekerja menuju penyelesaian yang berkelanjutan. Terlepas dari tantangan yang luar biasa ini, tetap menjadi kewajiban moral bagi dunia untuk mencari solusi yang adil dan berkelanjutan yang memenuhi hak-hak dan aspirasi yang sah dari kedua pihak, warga Israel dan warga Palestina.
Faktor-faktor terjadi konflik dan faktor-faktor penyebab konflik di Palestina hingga kini
Awal Mula Konflik
Konflik ini telah terjadi lebih dari 100 tahun. Tepat pada tanggal 2 November 1917.Kala itu Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, Arthur Balfour, menulis surat yang ditujukan kepada Lionel Walter Rothschild, seorang tokoh komunitas Yahudi Inggris. Surat tersebut memang singkat, hanya 67 kata namun isinya memberikan dampak terhadap Palestina yang masih terasa hingga saat ini.
Surat tersebut mengikat pemerintah Inggris untuk “mendirikan rumah nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina” dan memfasilitasi “pencapaian tujuan ini”. Surat tersebut dikenal dengan Deklarasi Balfour.Intinya, kekuatan Eropa menjanjikan gerakan Zionis sebuah negara di wilayah yang 90% penduduknya adalah penduduk asli Arab Palestina. Mandat Inggris dibentuk pada 1923 dan berlangsung hingga 1948.Selama periode tersebut, Inggris memfasilitasi migrasi massal orang Yahudi. Di mana terjadi gelombang kedatangan yang cukup besar pasca gerakan Nazi di Eropa.
Dalam gelombang migrasi ini, mereka menemui perlawanan dari warga Palestina. Warga Palestina khawatir dengan perubahan demografi negara mereka dan penyitaan tanah mereka oleh Inggris untuk diserahkan kepada pemukiman Yahudi
Kekerasan yang Meningkat
Meningkatnya ketegangan akhirnya menyebabkan Pemberontakan Arab. Ini berlangsung dari tahun 1936 hingga 1939. Pada April 1936, Komite Nasional Arab yang baru dibentuk meminta warga Palestina untuk melancarkan pemogokan umum. Ini menahan pembayaran pajak dan memboikot produk-produk Yahudi untuk memprotes kolonialisme Inggris dan meningkatnya imigrasi Yahudi.Pemogokan selama enam bulan tersebut ditindas secara brutal oleh Inggris, yang melancarkan kampanye penangkapan massal dan melakukan penghancuran rumah. Hal itu menjadi sebuah praktik yang terus diterapkan Israel terhadap warga Palestina hingga saat ini.
Fase kedua pemberontakan dimulai pada akh ir 1937. Ini dipimpin oleh gerakan perlawanan petani Palestina, yang menargetkan kekuatan Inggris dan kolonialisme.Pada paruh kedua tahun 1939, Inggris telah mengerahkan 30.000 tentara di Palestina. Desa-desa dibom melalui udara, jam malam diberlakukan, rumah-rumah dihancurkan, dan penahanan administratif serta pembunuhan massal tersebar luas.Bersamaan dengan itu, Inggris berkolaborasi dengan komunitas pemukim Yahudi dan membentuk kelompok bersenjata dan “pasukan kontra pemberontakan” yang terdiri dari para pejuang Yahudi bernama Pasukan Malam Khusus yang dipimpin Inggris. Di dalam Yishuv, komunitas pemukim pra-negara, senjata diimpor secara diam-diam dan pabrik senjata didirikan untuk memperluas Haganah, paramiliter Yahudi yang kemudian menjadi inti tentara Israel.
Dalam tiga tahun pemberontakan tersebut, 5.000 warga Palestina terbunuh. Sebanyak 15.000 hingga 20.000 orang terluka dan 5.600 orang dipenjarakan.
PBB Turun
Pada 1947, populasi Yahudi telah membengkak menjadi 33% di Palestina, namun mereka hanya memiliki 6% lahan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian mengadopsi Resolusi 181, yang menyerukan pembagian Palestina menjadi negara-negara Arab dan Yahudi.
Palestina menolak rencana tersebut karena rencana tersebut memberikan sekitar 56% wilayah Palestina kepada negara Yahudi, termasuk sebagian besar wilayah pesisir yang subur. Pada saat itu, warga Palestina memiliki 94% wilayah bersejarah dan mencakup 67% populasinya.
Nakba
Sebelum Mandat Kekuasaan Inggris berakhir pada 14 Mei 1948, paramiliter Israel sudah memulai operasi militer. Ini menghancurkan kota-kota dan desa-desa Palestina guna memperluas perbatasan Israel yang akan lahir.
Pada April 1948, lebih dari 100 pria, wanita dan anak-anak Palestina dibunuh di desa Deir Yassin di pinggiran Yerusalem. Hal ini menentukan jalannya operasi selanjutnya, dan dari tahun 1947 hingga 1949, lebih dari 500 desa, kota kecil dan besar di Palestina dihancurkan dalam apa yang oleh orang Palestina disebut sebagai Nakba, atau “bencana” dalam bahasa Arab.
Diperkirakan 15.000 warga Palestina terbunuh, termasuk dalam puluhan pembantaian. Insiden ini juga membuat Gerakan Zionis menguasai 78% wilayah bersejarah Palestina. Sisanya yang sebesar 22% dibagi menjadi wilayah yang sekarang menjadi Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza yang terkepung.
Diperkirakan 750.000 warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sa at ini keturunan mereka hidup sebagai 6 juta pengungsi di 58 kamp pengungsi di seluruh Palestina dan di negara-negara tetangga seperti Lebanon, Suriah, Yordania dan Mesir.
Pada 15 Mei 1948, Israel mengumumkan pendiriannya. Keesokan harinya, perang Arab-Israel pertama dimulai dan pertempuran berakhir pada Januari 1949 setelah gencatan senjata antara Israel dan Mesir, Lebanon, Yordania, dan Suriah.
Pada bulan Desember 1948, Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 194. Ini menyerukan hak untuk kembali bagi pengungsi Palestina.
Pasca Nakba
Setidaknya 150.000 warga Palestina tetap tinggal di negara Israel yang baru dibentuk dan hidup di bawah pendudukan militer yang dikontrol ketat selama hampir 20 tahun sebelum mereka akhirnya diberikan kewarganegaraan Israel.
Mesir mengambil alih Jalur Gaza, dan pada tahun 1950, Yordania memulai pemerintahan administratifnya atas Tepi Barat. Lalu, pada tahun 1964, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dibentuk, dan setahun kemudian, partai politik Fatah didirikan.
Perang 6 Hari
Pada 5 Juni 1967, Israel menduduki sisa wilayah bersejarah Palestina, termasuk Jalur Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, Dataran Tinggi Golan Suriah, dan Semenanjung Sinai Mesir selama Perang 6 Hari melawan koalisi tentara Arab. Bagi sebagian warga Palestina, hal ini menyebabkan perpindahan paksa kedua atau Naksa, yang berarti “kemunduran” dalam bahasa Arab.
Pada Desember 1967, Front Populer Marxis-Leninis untuk Pembebasan Palestina dibentuk. Selama dekade berikutnya, serangkaian serangan dan pembajakan pesawat oleh kelompok sayap kiri menarik perhatian dunia terhadap penderitaan rakyat Palestina.
Pembangunan pemukiman dimulai di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diduduki. Sistem dua tingkat diciptakan di mana pemukim Yahudi diberikan semua hak dan keistimewaan sebagai warga negara Israel sedangkan warga Palestina harus hidup di bawah pendudukan militer yang mendiskriminasi mereka dan melarang segala bentuk ekspresi politik atau sipil.
Intifada Pertama
Intifada atau yang berarti perlawanan dalam Bahasa Arab dilakukan Palestina pertama kali di Jalur Gaza pada Desember 1987. Ini terjadi setelah empat warga Palestina tewas ketika sebuah truk Israel bertabrakan dengan dua van yang membawa pekerja Palestina.
Protes menyebar dengan cepat ke Tepi Barat dengan pemuda Palestina melemparkan batu ke tank dan tentara Israel. Hal ini juga menyebabkan berdirinya gerakan Hamas, sebuah cabang dari Ikhwanul Muslimin yang terlibat dalam perlawanan bersenjata melawan pendudukan Israel.
Respons keras tentara Israel dirangkum dalam kebijakan “Patah Tulang Mereka” yang dianjurkan oleh Menteri Pertahanan saat itu, Yitzhak Rabin. Aksi ini mencakup pembunuhan mendadak, penutupan universitas, deportasi aktivis, dan penghancuran rumah.
Intifada terutama dilakukan oleh kaum muda dan diarahkan oleh Kepemimpinan Nasional Terpadu Pemberontakan, sebuah koalisi faksi politik Palestina yang berkomitmen untuk mengakhiri pendudukan Israel dan membangun kemerdekaan Palestina.Intifada ditandai dengan mobilisasi rakyat, protes massal, pembangkangan sipil, pemogokan yang terorganisir dengan baik, dan kerja sama komunal.
Menurut organisasi hak asasi manusia Israel B’Tselem, 1.070 warga Palestina dibunuh oleh pasukan Israel selama Intifada, termasuk 237 anak-anak. Lebih dari 175.000 warga Palestina ditangkap. Intifada juga mendorong komunitas internasional untuk mencari solusi atas konflik tersebut.
Perjanjian Oslo
Intifada berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Oslo pada tahun 1993 dan pembentukan Otoritas Palestina (PA), sebuah pemerintahan sementara, pemerintahan mandiri terbatas di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Jalur Gaza.
PLO mengakui Israel berdasarkan solusi dua negara dan secara efektif menandatangani perjanjian yang memberi Israel kendali atas 60% Tepi Barat, serta sebagian besar sumber daya tanah dan air di wilayah tersebut.
PA seharusnya memberi jalan bagi pemerintah Palestina terpilih pertama yang menjalankan negara merdeka di Tepi Barat dan Jalur Gaza dengan ibu kotanya di Yerusalem Timur, namun hal itu tidak pernah terjadi.Kritik terhadap PA memandangnya sebagai subkontraktor korup bagi pendudukan Israel yang bekerja sama erat dengan militer Tel Aviv dalam menekan perbedaan pendapat dan aktivisme politik. Pada tahun 1995, Israel membangun pagar elektronik dan tembok beton di sekitar Jalur Gaza, menghentikan interaksi antara wilayah Palestina yang terpecah.
Intifada Kedua
Intifada kedua dimulai pada 28 September 2000, ketika pemimpin oposisi Partai Likud Israel, Ariel Sharon, melakukan kunjungan provokatif ke kompleks Masjid Al Aqsa. Saat itu, ribuan pasukan keamanan dikerahkan di dalam dan sekitar Kota Tua Yerusalem.
Bentrokan antara pengunjuk rasa Palestina dan pasukan Israel menewaskan lima warga Palestina dan melukai 200 orang selama dua hari. Insiden ini memicu pemberontakan bersenjata yang meluas.Selama Intifada, Israel menyebabkan kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap perekonomian dan infrastruktur Palestina. Israel menduduki kembali wilayah yang diperintah oleh PA dan memulai pembangunan tembok pemisah yang seiring dengan maraknya pembangunan pemukiman, menghancurkan mata pencaharian dan komunitas warga Palestina.
Pemukim Yahudi pun juga mulai bermukim secara ilegal di wilayah itu. Ruang bagi warga Palestina semakin menyusut karena jalan-jalan dan infrastruktur yang hanya diperuntukkan bagi pemukim Yahudi ilegal itu.
Pada saat Perjanjian Oslo ditandatangani, lebih dari 110.000 pemukim Yahudi tinggal di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Saat ini, jumlahnya mencapai lebih dari 700.000 orang di lebih dari 100.000 hektar tanah yang diambil alih dari Palestina.
Perang Saudara
Pemimpin PLO Yasser Arafat meninggal pada tahun 2004. Setahun kemudian, Intifada kedua berakhir, permukiman Israel di Jalur Gaza dibongkar, dan tentara Israel serta 9.000 pemukim meninggalkan daerah kantong tersebut.
Setahun kemudian, warga Palestina memberikan suara dalam pemilihan umum untuk pertama kalinya. Hamas memenangkan mayoritas. Namun, pecah perang saudara Fatah-Hamas yang berlangsung berbulan-bulan dan mengakibatkan kematian ratusan warga Palestina.
Hamas mengusir Fatah dari Jalur Gaza, dan Fatah kembali menguasai sebagian Tepi Barat. Pada bulan Juni 2007, Israel memberlakukan blokade darat, udara dan laut di Jalur Gaza, menuduh Hamas melakukan “terorisme”.
Serangan Israel ke Gaza
Israel telah melancarkan empat serangan militer berkepanjangan di Gaza yakni di tahun 2008, 2012, 2014 dan 2021dan 2023. Ribuan warga Palestina telah terbunuh, termasuk banyak anak-anak, dan puluhan ribu rumah, sekolah, dan gedung perkantoran telah hancur.
Pembangunan kembali hampir mustahil dilakukan karena pengepungan tersebut menghalangi material konstruksi, seperti baja dan semen, mencapai Gaza. Serangan tahun 2008 melibatkan penggunaan senjata yang dilarang secara internasional, seperti gas fosfor.
Pada 2014, dalam kurun waktu 50 hari, Israel membunuh lebih dari 2.100 warga Palestina, termasuk 1.462 warga sipil dan hampir 500 anak-anak. Selama serangan tersebut, sekitar 11.000 warga Palestina terluka, 20.000 rumah hancur dan setengah juta orang mengungsi.
Dan pada 2023 ini serangan masih terus berlangsung hinnga korban menembus 11.800 jiwa.
Tanah Kanaan
Sementara itu, perang memuat kembali munculnya asal usul Tanah Kanaan. Ini merupakan negara kuno yang memiliki luas wilayah besar, meliputi Lebanon, Suriah, Yordania dan Palestina yang di dalamnya termasuk Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Britannica mendefinisikannya sebagai wilayah Levant atau Syam. Alkitab sendiri turut menyinggung Tanah Kanaan sebagai “tanah perjanjian yang diberikan Tuhan kepada Abraham dan keturunannya”.
Tanah ini memiliki sejarah yang sangat panjang, bahkan di perbincangan sebelum masa masehi (SM). Penamaan Tanah Kanaan, pertama kali muncul di sumber-sumber sejarah Peradaban Mesopotamia bertarikh dari abad ke-18 SM. Dalam sumber prasasti tertulis itu, Kanaan berarti “ungu kemerahan”. Ini merujuk pada daerah tersebut menjadi penghasil warna ungu.
Di masa pra-aksara, Tanah Kanaan pun sudah ditempati oleh manusia purba jenis Cro-Magnon dan Neanderthal yang hidup di zaman Paleolitikum atau (8.000 SM – 3.000 SM). Mereka melakukan aktivitas biasa sesuai perkembangan otaknya, yakni bertani dan membentuk permukiman.
Setelahnya dari masa ke masa, mulai dari zaman besi dan perunggu, Tanah Kanaan selalu dihuni oleh manusia. Soal penduduk asli Tanah Kanaan disebut juga sebagai orang Kanaan.
Mereka adalah keturunan bangsa Semit yang tinggal dalam kurun 2.000 SM 1.700 SM. Mereka yang juga dikenal sebagai orang Amori menjadi penduduk mayoritas di tanah itu. Mereka kerap bermigrasi ke Barat (kini Mesir) lalu ke Timur (Jazirah Arab).Namun, di akhir Zaman Perunggu (1.550 – 1.200 SM), terjadi perubahan di Tanah Kanaan usai bangsa Mesir memasuki kawasan. Mereka merebut desa-desa orang Kanaan dan mengusir mereka.
Ketika terjadi pengusiran inilah, terjadi kebangkitan peradaban. Terkait ini, banyak sejarawan berpendapat inilah awal mula peradaban Israel yang ditandai dengan berdirinya Kerajaan Yehuda dan Israel.Setelahnya Tanah Kanaan pun semakin ramai dihuni oleh bangsa lain yang sama-sama rukun. Lalu, apakah masih ada keturunan Kanaan di masa kini?
Menyikapi Persoalan Konflik yag Terjadi di Palestina
A. Sikap Dalam Pandangan Kemanusiaan dan Negara
Landasan hukum yang dipakai oleh Indonesia demi membantu perjuangan kemerdekaan Palestina adalah Resolusi DK 242 (1967) dan 338 (1973) berisi agar seluruh wilayah Palestina harus dikembalikan tidak bersyarat yang dijajah oleh Israel serta seluruh hak sah bangsa Palestina untuk dapat menentukan kemerdekaannya, menegakkan bangsa di tanah airnya dan al-Quds al-Syarif di Jerussalem Timur adalah ibu kota serta berpedoman Tanah yang penuh kedamaian (Dirjen Multilateral Deplu RI, 2008:11).
Konflik Palestina dan israel merupakan salah satu tujuan didirikannya Organisasi Konfrensi Islam atau OKI. Setelah dibentuknya OKI sebagai wadah bagi kekuatan islam,tidaklah sedikit peran yang telah dilakukan OKI dalam mengupayakan perdamaian dan kemerdekaan bagi Palestina dari tangan rezim Israel. OKI turut memainkan peran yang berarti bagi perdamaian Palestina, selain itu perjuangan OKI adalah upayanya untuk meraih dukungan dari berbagai pihak didunia internasional atas pengakuan kemerdekaan Palestinasebagai sebuah negara berdaulat. Berbagai upaya dilakukan OKI dalam mengambil sikap pada setiap ketimpangan yang dilakukan Israel. Maka, OKI sadar tidak punya cara lain agar mencapai perdamaian di Palestina, selain menjadi Negara yang merdeka seutuhnya (Buku Diplomasi, 2014).
Kemerdekaan Palestina bukanlah pilihan politik luar negeri Indonesia. Namun hal ini sudah merupakan keharusan karena adanya amanah konstitusi. Ada sisi lain, di mana konflik Israel-Palestina juga tidak begitu kunjung selesai, tercatat pada kurun 2007-2008 dan pada tahun bulan juni 2018 lalu Indonesia terpilih lagi untuk keempat kalinya sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK) PBB. Hal ini memberikan keuntungan Indonesia dalam konteks sebagai wadah untuk mengekspresikan politik luar negeri dan diplomasinya terutama untuk Palestina. Keanggotaan Indonesia di DK PBB diwarnai dengan aktifnya diplomasi Indonesia dalam usaha-usaha penyelesaian masalah konflik Palestina-Israel. Indonesia memandang konflik Israel-Palestina dengan perhatian tersendiri. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, 206.635.753 orang (87% total penduduk) dan pernah mengalami jajahan, Indonesia memiliki rasa perhatian yang tinggi untuk membantu Palestina yang juga mayoritas muslim. Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan bangsa Palestina ditinjau dari masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Hal ini tersebut dibuktikan pada saat Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa OKI di Istanbul Turki, Presiden Jokowi mengatakan,: “Dalam setiap helaan nafas diplomasi Indonesia, di situ terdapat keberpihakan terhadap Palestina” (Biro Pers, 2017).
Dari pernyataan di atas, dapat dilihat bahwa Indonesia sebagai bangsa yang tegas dalam mendukung kemerdekaan palestina, selain dukungan politik Indonesia juga turut memberikan dukungan moril pada negara Palestina. Ketegasan Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina dibuktikan dengan tidak membuka hubungan resmi baik dagang ataupun diplomatic dengan negara Israel. Hal ini secara tidak langsung menunjukan bahwa Indonesia tidak mengakui adanya Israel sebagai sebuah negara dengan tidak melakukan hubungan bilateral dengan negara tersebut. Pemerintah Indonesia berharap penyelenggaraan KTT luar biasa OKI akan menghasilkan
Deklarasi Jakarta yang berisi kesepakatan bersama Negara-negara OKI dalam penyelesaian konkret permasalahan palestina. Indonesia juga berharap agar masalah palestina bisa Kembali kedalam radar perhatian internasional melalui KTT yang mengambil tema “United for a just solution”. Untuk bisa menjadi mediator dan mewujudkan perdamaian di dunia dengan menuntaskan konflik Israel dan palestina, Indonesia tidak bisa sendirian. Perlu pendekatan yang intensif dengan Negara-negara lain, termasuk dengan Israel, untuk bisa mendamaikan Israel dan palestina, karena pemerintah Indonesia juga akan menemui kesulitan jika menyelesaikan konflik itu hanya melalui OKI, dan walaupun Indonesia tidak memiliki wewenang yang sama besarnya dengan amerika dalam PBB, Indonesia konsisten menyuarakan hak-hak rakyat palestina, dan membantu dalam mempromosikan agar palestina mendapatkan Negara yang merdeka. Indonesia bersama dengan negara anggota OKI terus gencar menyuarakan kemerdekaan untuk negara Palestina.
Hal tersebut merupakan bentuk dari komitmen negara Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Memperjuangkan kemerdekaan Palestina bukanlah hal yang mudah, berbagai kepentingan mulai dari politik dan agama turut mewarnai hal ini. Indonesia tidak gentar melawan negara adidaya yang memiliki kepentingan besar dalam masalah ini yaitu Amerika Serikat. Indonesia terus melakukan upayanya untuk mendorong terwujudnya kemerdekaan Palestina. Indonesia tidak tinggal diam dengan selalu memberikan dukungan kemanusian ataupun politik, masyarakat Indonesia juga berperan besar dalam memberikan bantuan ataupun dukungan terhadap Palestina.
B. Sikap Dalam Pandangan sebagai Umat Islam
Antara muslim satu dengan muslim yang lain adalah bersaudara. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan manusia untuk saling tolong-menolong, terlebih bagi saudara muslim yang berada dalam kesulitan.
Dalam mendukung umat islam di Palestina, khususnya umat Islam di Indonesia mengambil langkah-langkah sebagai wujud kepedulian terhadap saudara/i di Palestina. Diantaranya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina. Fatwa ini menegaskan bahwa “mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina atas agresi Israel hukumnya wajib,” demikian bunyi fatwa yang dikeluarkan pada Jumat (10/11/2023) itu. Berikutnya, fatwa MUI juga menegaskan bahwa mendukung agresi Israel terhadap Palestina atau pihak yang mendukung Israel baik langsung maupun tidak langsung hukumnya haram. Oleh karena itu, MUI mengeluarkan rekomendasi agar umat Islam mendukung perjuangan Palestina.
Lantas apa saja yang bisa kita lakukan untuk membantu Palestina? Kenapa rasanya apa yang kita lakukan tidak bisa mengubah apa yang terjadi saat ini, tidak mampu membantu saudara-saudara kita di Palestina.
Jangan, jangan pernah berpikiran seperi iu! Nyatanya banyak sekali hal yang bisa kita lakukan, meski kecil tapi berdampak besar. Diantaranya:
Jangan Pernah Berhenti Bersuara
Maksudnya adalah jangan berhenti untuk terus menyuarakan fakta-fakta yang terjadi di Gaza, Palestina. Satu dua orang yang mengunggah tentang Palestina, lama kelamaan akan semakin besar dan menjadi gerakan massal baik dari media arus utama ataupun media sosial.
Bantu Donasi
Sisihkan rezeki kita untuk mereka yang kelaparan dan membutuhkan obat-obatan. Besar kecil yang kita keluarkan bisa berarti besar bagi saudara-saudara kita di Palestina.
Ikut Aksi
Jika memungkinkan, tunjukkan dukungan kita terhadap Palestina dengan turun ke jalan dan menyuarakan bahwa apa yang dilakukan Israel, jauh dari kata kemanusiaan dan jauh dari aturan-aturan dalam peperangan.
Seperti yang kita tahu, semestinya perempuan, anak-anak dan lansia serta fasilitas kesehatan harus dihindari dalam serangan saat perang. Namun, tentara Israel tidak mempedulikan hal itu, mereka menghancurkan rumah sakit, masjid, gereja, sekolah apalagi rumah-rumah warga. Menyerang anak-anak, menangkap perempuan dan lansia.
Hindari Produk Israel / Produk yang Mendukung Israel
Mungkin sulit bagi beberapa orang, tapi apa salahnya untuk pelan-pelan mencari produk yang bukan produk Israel atau produk yang bukan mendukung Israel. Sebab, saat ini sudah banyak pilihan alternatif produk.
Edukasi Anak-Anak Kita
Bagi yang memiliki buah hati ataupun anak didik, tak ada salahnya mrnyampaikan dengan bahasa sederhana sesuai usia, atas apa yang terjadi dengan teman-teman mreka di Gaza, Palestina. Dengan tujuan, menumbuhkan simpati dan memberi edukasi.
Jangan Putus Doa
Salah satu jalan yang bisa dilakukan umat islam adalah berdoa, meminta kepada Allah SWT untuk menyelamatkan saudara-saudara di Palestina.
Satu hal yang InshaAllah pasti terjadi, mereka yang gugur berperang di jalan Allah SWT, akan dijanjikan Surga dan meninggal dalam keadaan syahid. Mereka sedih tetapi juga juga bersyukur sebab anak atau kerabat mereka yang berpulang inshaAllah di jamin Surga.
Sebagaimana dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 154:
وَلَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ يُّقۡتَلُ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡيَآءٌ وَّلٰـكِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ ١٥٤
Artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”.
Jangan Ragu untuk Terus Membantu Saudara Palestina
Dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 21:
يٰقَوۡمِ ادۡخُلُوا الۡاَرۡضَ الۡمُقَدَّسَةَ الَّتِىۡ كَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمۡ وَلَا تَرۡتَدُّوۡا عَلٰٓى اَدۡبَارِكُمۡ فَتَـنۡقَلِبُوۡا خٰسِرِيۡنَ ٢١
Artinya: “Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi”
Maksud dari ayat tersebut ialah jika kita sudah mantap untuk membantu saudaa kita di Palestina , maka janganlah sesekali berbalik badanapalagi ragu akan diri sendiri untuk tidak melanjutkan perjuangan melawan penjajah dalam bentuk apapun, baik material,doa ataupun dakwah, untuk saling mengingatkan umat islam khusus nya yang ada di Indonesia untuk peduli terhadap saudara kita di Palestina.
Penulis:
Nur Munilah Arradhiyyah, Meta Safitri, Zulfa Shofiatus Sholikh (Institut Daarul Quran, Jakarta, Indonesia)