

PEKANBARU- TIRASTIMES: Bupati Siak, Drs H Syamsuar MSi, tidak hanya melakukan ziarah ke makam Tuan Syech Haji Wahab Rokan di Besilam Langkat dan T. Amir Hamzah di Tanjung Pura, Langkat. Namun dia juga menyulam kembali sejarah Kerajaan Melayu Islam antara Siak dengan Langkat.
Syamsuar tau betul akan sejarah sehingga kedatangannya ke Langkat, Sumatra Utara, Sabtu (05/08) lalu, itu sebuah upaya mengenal jadi diri, memperpanjang tali silaturahami sehingga sejarah tak hilang di telan bumi dan tentunya menjadi khazanah yang harus dikenang serta diketahui anak dan cucu nantinya (RK).
Antara Siak dengan Langkat, ada hubungan sejarah. Menurutnya, Hal ini bisa dilihat bahwa di Langkat ada rumah persinggahan Sultan Siak.
”Ini bukti yang menunjukan bahwa dalam masa pemerintahan Sultan Siak, sering berkunjung ke Langkat,” ujarnya.
Berbagai informasi, Siak pernah menganggap Langkat sebagai wilayahnya, hal ini tertuang dalam Traktat Siak. Ketika itu, Belanda meminta Siak menyerahkan daerah kekuasaannya, di antaranya Kerajaan Langkat.
Otonomi Kerajaan Siak tetap diakui Belanda namun, beberapa daerah milik Siak harus diserahkan kepada Belanda. Kedua belas kekuasaan Siak itu antaranya: Kota Pinang, Pagarawan, Batu Bara, Badagai, Kualiluh, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, serta Deli.
Silsilah Sultan Siak disebutkan, ada hubungan antara Kesultanan Siak dengan Sultan Langkat yang berasal dari Suku Karo (27/10/1912), Sultan Syarif Kasim II menikah dengan Syarifah Latifah, putri Tengku Pangeran Embung. Dia menjadi Permaisuri I dari Sultan Syarif II. Ayah Syarifah Latifah adalah saudara dari Sultan Langkat atau dapat dikatakan Sarifah Latifah yang menjadi Permaisuri I dari Sultan Syarief II adalah orang Langkat.
Diketahui oleh khalayak dan diakui oleh keluarga Sultan Langkat, Sultan Langkat adalah seorang keturunan Karo dari marga Perangin-angin Kutabuluh sehingga dia bersaudara dengan Si bayak Kutabuluh. Ayah dari Permaisuri I yang orang Langkat ini bertempat tinggal di Siak hingga dimakamkan di Pemakaman Kesultanan.
”Sejarah harus kita ukir kembali agar kita tau akan jati diri. Sebab, majunya suatu daerah atau bangsa ini, karena kita melestarikan sejarah. Kita harus melihat dari peristiwa lampau sehingga kita tau apa yang hendak diperbuat demi kepentingan negara,” kata Syamsuar. (Fit/berbagai sumber)