Bismillah,
Tanah kelahiran adalah sekeping surga dunia
kilauan emas, kicau burung, lambaian nyiur, dan kayu-kayan merona
Air pasang naik, pulau-pulau tenggelam.
Lalu, muncul lagi bagai roti kawin di negeri bermasa
Dalam kenangan, aku bermain pasir merah bata
Kubangun istana dan melukis masa depan
Lalu, gelombang sampan menghapusnya hingga rata
Berulang-ulang membangunnya lagi sambil menaikkan layang-layang
Tersenyum gembira sembari bergurau-senda berlari bersama angin
Abah dan Emak selalu bersama
Kami merambah sungai menyauk kawanan ikan
membela di toples bening tua
memeluknya dalam tidur yang indah
Memeluk rumah baca Datuk Sati Diraja
bagaikan melepas kerinduan pada kampung kelahiran
Abah dan Emak girang riang mengintip dari surga
karena rumah warisan bertiang kata-kata tak terhingga
Sekebat buku tua peninggalan Abah
adalah guru berharga, bukan lembaran huruf di kertas saja
Inilah jendela terbuka dari dunia lain
penuh kobaran ilmu, juga pelipur lara
memancing mimpi bahagia ketika Tuhan membentangkan malam
Di alam terbuka, mereka terbang bersama buku-buku
menjelajahi keindahan dalam sengatan mentari
menggali kebenaran pada ceruk hati
ada pesan Ilahi yang tersembunyi
Sungai adalah rumah kedua yang dijaga
Mereka berpetualang di atas pasir dan gelombang
Suara-suara puisi riuh dari atas sampan,
Kecipak arus sungai mengiringi suara-suara puisi
Alam terpesona
Senja merekah merah jingga
Riuh suara puisi seperti sunyi, terbang ke langit
doa
harapan
cita-cita
ratapan
menjalin kisah cinta tentang kerinduan
Dengan rindu, aku memeluk Melayu
Alhamdulillah.
Bengkalis, Rabu, 06 Muharam 1447H / 02 Juli 2025
Puisi ini diilhami dari tulisan esai Tuan Griven H. Putera dengan judul yang sama.